Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Makna Anggarakasih Tambir, Momen Melaksanakan Tapa Yoga sebagai Refleksi  

I Putu Mardika • Selasa, 13 Januari 2026 | 12:28 WIB

Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Buleleng, Luh Irma Susanthi
Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Buleleng, Luh Irma Susanthi
BALIEXPRESS.ID-Anggara Kliwon Tambir atau yang lebih dikenal di tengah masyarakat dengan sebutan Anggarakasih Tambir, dirayakan umat Hindu setiap enam bulan sekali. Hari suci ini memiliki keistimewaan tersendiri karena bertepatan dengan Kajeng Kliwon, sehingga diyakini sebagai waktu yang sangat sakral untuk melakukan penyucian diri lahir dan batin.

Koordinator Penyuluh Agama Kecamatan Tejakula, Luh Irma Susanthi, S.Sos., M.Pd menjelaskan, secara wariga, Anggarakasih Tambir merupakan pertemuan tiga unsur penting, yakni Anggara (Selasa) dari Sapta Wara, Kliwon dari Panca Wara, dan Tambir dari Wuku. Pertemuan Anggara dengan Kliwon inilah yang disebut Anggarakasih, yang dimaknai sebagai hari untuk menumbuhkan cinta kasih, terutama kepada diri sendiri.

Makna cinta kasih tersebut diwujudkan melalui upaya merawat diri secara spiritual, dengan jalan melakukan pembersihan atau peleburan segala kecemaran, baik yang bersifat sekala maupun niskala.

“Yang paling utama dalam Anggarakasih Tambir adalah upaya melebur kecemaran pikiran melalui perenungan suci, persembahyangan, serta menghaturkan persembahan berupa banten sesuai kemampuan,” ujar Irma.

Pada hari Anggarakasih Tambir Sang Hyang Rudra diyakini sedang melaksanakan yoga, dengan tujuan memusnahkan atau menghilangkan segala kecemaran yang ada di dunia. Oleh karena itu, hari ini dipandang sebagai momentum penting untuk melakukan introspeksi diri dan memohon keseimbangan alam semesta.

Keistimewaan Anggarakasih Tambir semakin kuat karena bertepatan dengan Kajeng Kliwon, hari suci yang datang setiap 15 hari sekali. Kajeng Kliwon merupakan pertemuan unsur Tri Wara dan Panca Wara, yakni Kajeng dari Tri Wara dan Kliwon dari Panca Wara.

Kajeng diyakini sebagai hari prabhawa Sang Hyang Durga Dewi, manifestasi Ahamkara yang berhubungan dengan kekuatan Bhuta Kala, sedangkan Kliwon merupakan prabhawa Sang Hyang Siwa sebagai kekuatan Dewa dan dharma.

Pada hari Kajeng Kliwon, umat Hindu meyakini Sang Hyang Siwa sedang melaksanakan yoga samadhi demi keselamatan dunia. Karena itu, Kajeng Kliwon dikenal sebagai hari yang sangat sakral dan penuh kewaspadaan. Umat diharapkan melakukan penyucian diri serta bersikap lebih berhati-hati, mengingat kekuatan negatif diyakini lebih dominan dibandingkan kekuatan positif.

Sebagian umat juga meyakini bahwa pada Kajeng Kliwon, Sang Tiga Bhucari memohon restu kepada Sang Hyang Durga Dewi, sehingga potensi gangguan niskala dianggap lebih besar. Untuk itu, umat Hindu menghaturkan persembahan di merajan, pura, dan tempat-tempat suci lainnya sebagai wujud yadnya kepada Sang Hyang Siwa dan Sang Hyang Durga Dewi.

Persembahan yang dihaturkan antara lain berupa canang sari, canang raka, puspa harum, segehan kepelan, segehan putih kuning, hingga segehan panca warna, yang disesuaikan dengan tempat dan kemampuan masing-masing umat. Di depan pintu pekarangan, biasanya dihaturkan sajen khusus kepada Sang Hyang Durga Dewi sebagai upaya menjaga keseimbangan niskala.

Irma menegaskan bahwa Anggarakasih Tambir seharusnya menjadi momentum reflektif untuk mengembalikan makna yadnya pada esensinya.

Menurutnya, yadnya bukan diukur dari banyak atau mahalnya banten, melainkan dari ketulusan batin orang yang mempersembahkannya.

“Anggarakasih Tambir mengingatkan kita bahwa yadnya itu bukan tentang apa yang dipersembahkan, tetapi tentang kesadaran siapa yang mempersembahkan. Ketika yadnya hanya dilihat dari bentuk luarnya, maka nilai spiritualnya perlahan hilang,” imbuhnya.

Ia menyoroti fenomena sosial yang belakangan berkembang di masyarakat, di mana yadnya sering kali dipersepsikan identik dengan kemewahan sarana upacara. Akibatnya, tidak sedikit umat yang merasa terbebani, minder, bahkan enggan ber-yadnya karena merasa tidak mampu mengikuti standar sosial di lingkungannya.

“Di sinilah yadnya mulai bergeser makna. Dari sarana penyucian diri, ia berubah menjadi ajang pembanding status. Ketika itu terjadi, yang bekerja bukan lagi bhakti, tetapi ego,” tegasnya.

Irma merujuk pada Lontar Sundarigama yang secara jelas menegaskan bahwa kualitas yadnya tidak ditentukan oleh kuantitas banten. Dalam lontar tersebut disebutkan, “Nista utama madya ning yadnya, tan wenten ring akweh alit banten, nanging ring suci ning manah.” Artinya, tinggi rendahnya yadnya tidak terletak pada banyak atau sedikitnya persembahan, melainkan pada kesucian hati.

Pesan lontar ini dinilai sangat relevan dengan kondisi umat Hindu saat ini. Irma menilai, ketika yadnya dijalankan hanya sebagai rutinitas atau euforia sesaat, maka yadnya akan berhenti pada seremoni belaka. Upacara memang selesai, sesajen diturunkan, namun tidak diikuti perubahan sikap, kesadaran, maupun etika hidup.

Hal senada juga ditegaskan dalam Bhagavadgītā IX.11 yang menyatakan bahwa manusia sering keliru memahami hakikat karena hanya memandang sesuatu dari bentuk luarnya. “Ketika yadnya hanya dipahami sebagai acara, bukan sebagai proses penyadaran, maka esensi spiritualnya lenyap,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Irma menekankan pentingnya memaknai Anggarakasih Tambir sebagai titik hening untuk menata ulang hubungan manusia dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan dirinya sendiri. Tantangan terbesar justru datang dari generasi muda yang kerap mewarisi yadnya sebagai kewajiban turun-temurun tanpa pemahaman makna.

“Bagi generasi muda, yadnya sering diajarkan sebagai ‘yang harus dilakukan’, bukan ‘yang perlu dipahami’. Ketika makna tidak disampaikan, yadnya terasa kering dan membosankan,” katanya.

Padahal, Bhagavadgītā III.10 menjelaskan bahwa manusia diciptakan bersama yadnya untuk saling menopang kehidupan. Yadnya, dalam konteks ini, adalah jalan memberi, bukan semata-mata mengambil. Anggarakasih Tambir menjadi momentum untuk menyadarkan generasi muda bahwa hidup bukan hanya soal bekerja dan mengejar hasil, tetapi juga tentang memberi makna.

Menjawab realitas kehidupan modern yang menuntut kerja dan penghasilan, Irma menegaskan bahwa yadnya tidak selalu harus berbentuk upacara besar. Ia mengutip Bhagavadgītā IX.27 yang menekankan bahwa apa pun yang dilakukan—bekerja, makan, memberi—dapat menjadi yadnya jika dipersembahkan dengan kesadaran.

“Inilah yadnya praktis. Bekerja dengan jujur, melayani dengan tulus, dan menafkahi keluarga dengan dharma juga merupakan yadnya,” jelasnya.

Terkait kritik terhadap banten yang kerap dianggap pemborosan, Irma mengajak masyarakat untuk bersikap arif. Menurutnya, persoalan bukan terletak pada bantennya, melainkan pada cara memaknainya. Jika banten dijadikan simbol gengsi, maka nilainya memang hilang. Namun jika dipahami sebagai sarana bhakti dan konsentrasi batin, banten justru mendidik manusia untuk memberi dan melepaskan.

“Lontar Sundarigama sudah mengingatkan, yadnya tidak boleh dipaksakan dan tidak boleh menjadi beban. Yadnya harus proporsional dan membebaskan,” ujarnya.

Ia menambahkan, bahwa Anggarakasih Tambir sejatinya adalah cermin diri. Bukan soal seberapa lengkap banten atau seberapa ramai upacara, tetapi apakah yadnya membuat manusia menjadi lebih sadar, lebih lembut, dan lebih manusiawi.

“Pada akhirnya, yadnya yang sejati adalah ketika hidup itu sendiri menjadi persembahan. Nilai yadnya terletak pada kualitas bakti, bukan kemewahan simbolnya,” pungkas Irma. (dik)

 

Editor : I Putu Mardika
#bali #kajeng kliwon #hindu #Anggara Kliwon Tambir #Sapta Wara