Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Lakon Kunti Yadnya dalam Upacara Yadnya: Mengiringi Ritual dari Mecaru hingga Ngenteg Linggih

I Putu Mardika • Kamis, 29 Januari 2026 | 14:54 WIB

Suasana jro dalang saat mementaskan wayang lemah dengan Lakon Kunti Yadnya serangkaian acara Ngenteg Linggih    
Suasana jro dalang saat mementaskan wayang lemah dengan Lakon Kunti Yadnya serangkaian acara Ngenteg Linggih  
BALIEXPRESS.ID-Setiap aktifitas yadnya memang kerap mementaskan kesenian baik bersifat wali (sakral), bebali (pengiring) maupun balih-balihan (hiburan). Seperti halnya saat karya agung Ngenteg Linggih di pura ataupun merajan. Kerap mementaskan kesenian bebali berupa Wayang Lemah. Uniknya, lakon yang kerap diambil adalah Kunti Yadnya.

Jro Dalang Putu Ardhiyasa mengatakan jika upacara Ngaben erat kaitannya dengan Lakon Bima Swarga maka lain halnya dengan  Lakon Kunti Yadnya memang menjadi lakon andalan dalam karya Agung. Seperti mecaru Rsi Gana, Ngenteg Linggih. 

Lakon ini dibawakan oleh Jro Dalang dalam bentuk Wayang Lemah untuk mengiringi saat upacara sedang berlangsung.

Ia mengatakan, dasar dari lakon Kunti Yadnya adalah saat Dewi Kunti akan nangun yadnya setelah Sang Bima berhasil mengambil rohnya Pandu dan Dewi Madri. Disanalah niat Kunti untuk menstanakan Ida Sang Maharaja dewata di Pemerajan Agung.

Dalam lakon dikisahkan Dewi Kunti sedang memimpin pertemuan di Karaton Indraprasta. Pertemuan itu dihadiri oleh Sri Krisna dari Kerajaan Dewarawati di samping para petinggi Pandawa. Acara pokok yang menjadi topik pembicaraan tiada lain merencanakan yadnya di Pemerajan Agung.

“Yadnya itu dilakukan karena Dewi Kunti pernah berjanji, apabila beliau berhasil menempatkan Maha Raja Pandu dari alam neraka ke alam surga. Dewi Kunti ingin menurunkan Roh Pandu agar bertemu di Pemerajan Agung,” jelasnya.

Baca Juga: Tembus 5.245 Desa, Program BRILiaN BRI Jadi Motor Baru Ekonomi Desa

Yadnya itu sudah di rencanakan sejak lama, karena sang Pandu belum bersih, maka tidak wajar melakukan yadnya. Itulah sebabnya Dewi Kunti mengundang kehadiran Sri Krisna.

Prabu Sri Krisna ditugasi mengatur upacara tersebut, sedangkan Sang Bima dan Arjuna bertugas mengawal jalannya upacara yang dipimpin para pendeta yang telah sempurna dalam pengetahuan suci weda dan berbudi luhur.

Menjelang dilangsungkan upacara, para rakyat Indraprasta mulai sibuk mempersiapkan sarana-sarana upacara. Di bagian lain, Raja Astina Duryadana selalu diliputi rasa iri hati, acuh dan benci, karena Pandawa berhasil mengatur pemerintahannya dengan baik.

Sebenarnya Duryadana lebih kaya kalau dibandingkan keluarga Pandawa, namun kenyataannya Pandawa lebih mampu dan konsekuen menjalankan dharma agama dan dharma Negara. Dasar yang dipakai pijakan oleh Pandawa untuk memimpin negara Indraprasta adalah kejujuran, sehingga terwujud kerajaan yang makmur dan sentosa.

 Duryadana merasa kawatir kalau suatu saat Astina juga akan diambil alih oleh para Pandawa, maka dari itu Duryadana menghadap Rsi Drona dan memohon agar Sang Rsi mengupayakan agar mampu menggagalkan upacara Pandawa.

Baca Juga: PT SUP Dukung Langkah JPU Tempuh Banding atas Vonis Lepas Budiman Tiang

Mendengar permohonan Duryadana seperti itu Rsi Drona menolak, bahkan menasehati agar timbul kesadaran untuk membantu Pandawa dalam upacara yang akan dilaksanakannya. Rsi Drona menganjurkan agar Duryadana dan Korawa mau menyukseskan yadnya para Pandawa.

“Duryadana merasa tersinggung, kata-kata kotor terucap dari bibir penguasa Astina. Rsi Drona tidak mempunyai pilihan lain kecuali mengabulkan semua permohonan Duryadana. Duryadana menerima pemberikan mantra Durga Astawa untuk memohon anugrah Dewi Durga. Duryadana menjadi gembira walaupun dengan pemaksaan,” ungkapnya.

Suatu malam rombongan Korawa di bawah pimpinan Duryadana bersemedi di tengah kuburan/ Setra Ganda Mayit. Mereka memohon kesaktian Dewi Durga. Permohonan Duryadana diterima oleh Dewi Durga.

Selanjutnya menyuruh para roh alus dan bhuta-bhuti diantaranya Kala Berawa, Kala Preta, Kala Pisaca, Kala Jyukti Perana untuk merusak upacara Pandawa. Kesibukan rakyat Indraprasta dalam mempersiapkan puncak upacara yadnya, tiba-tiba situasi menjadi menyeramkan.

Rakyat yang semula bersuka ria tiba-tiba menjadi sedih dan banyak yang sakit bahkan banyak yang meninggal sehingga Indraprasta menjadi geger dan diliputi rasa sedih dan ketakutan. Sri Krisna merasa kasihan pada rakyat Pandawa, beliau menggunakan ilmu tenung / aji tenung untuk melihat keadaan di dunia gaib.

Mendengar isi dari aji tenung tersebut, Bima dan Arjuna mengerahkan pasukan tempur. Perangpun terjadi dengan sangat hebatnya. Para bhuta dan bhuti semakin beringas. “Kala Berawa, Kala Pisaca dan Kali Jyuti Sarana mengamuk sehingga pasukan Pandawa keteter mundur membuat para Pandawa merasa sedih,” katanya.

Sri Krisna cepat tanggap, beliau mengeluarkan Cakra Sudarsana sambil membunyikan terompet panjayadnya, untuk mengusir para pasukan Dewi Durga. Trompet berbunyi dan suaranya meraung-raung membuat para raksasa dan bhuta-bhuti lari tunggang-langgang meninggalkan negara Indraprata.

Baca Juga: LSD di Buleleng Masih Aman, Distan Lakukan Pembatasan Distribusi Sapi

Selanjutnya Sri Krisna pergi kesorga menghadap Dewa Siwa, permohonan Sri Krisna dikabulkan dan beliau dianugrahi senjata yang bernama Tebusala. Mengalahkan Dewi Durga syaratnya harus Sang Sahadewa yang membidik dengan sejata ini.

Sahadewa merupakan penjelmaan Hyang Aswina/ Dewa para dukun, mampu membersihkan kotoran jasmani dan rohani.

Sebelum Sang Sahadewa membidik Dewi Durga dengan sanjata Tebusala, Sang Dewi memberi nasihat pada Sahdewa agar mematuhi segala pituah-pituahnya. Adapun pituah tersebut berisi: bahwa darah betari Durga akan tumbuh menjadi bungga gumitir, tulangnya tumbuh menjadi tebu rata, kotorannya menjadi buah tibah, air susu menjadi pisang saba, semua yang tumbuh dari badan Dewi Durga tidak diperkenankan sebagai upacara/banten.

Sang Sahadewa bersiap untuk melaksanakannya, lalu dibidikanlah sanjata Tebusala kehadapan Dewi Dewi.

Dewi Durga musnah dan berubah menjadi Dewi Uma yang sangat cantik jelita. “Akhir cerita, Dewi Uma memberi restu upacara yadnya dan kerajaan Indraprasta menjadi makmur, sedangkan Dewi Uma kembali ke Surga,” sebutnya.

Panca suara atau lima suara menjadi elemen penting dalam upacara yadnya di Bali. Lima Suara itu diantaranya suara mantra, genta, kidung, gamelan, dan kulkul.

Panca Suara yang ada dalam setiap pelaksanaan upacara agama di Bali, tidak hanya sebagai sebuah hiburan dan pelengkap, namun memiliki nilai-nilai magis yang mampu menggetarkan suasana.

Baca Juga: Dari Penonton Menjadi Ikon, Kadek Suarjaya Si Pengibing Kocak dari Nagasepaha

Jro Dalang Putu Ardiyasa mengatakan, Lakon Kunti Yadnya menyebutkan agar upacara yadnya berjalan lancar, maka perlu adanya panca suara. Panca suara memiliki kemampuan untuk menetralisir pengaruh negative yang hendak menggagalkan jalannya upacara yadnya.

Kesakralan suara-suara tersebut ditunjukkan dengan adanya beberapa ritual yang harus dilakukan untuk memulai suara-suara tersebut, sehingga mampu menghantarkan maksud dari masyarakat kepada kekuatan yang dipuja di pura tersebut.

Dalam cerita Kunti Yadnya disebutkan bahwa raksasa yang mengganggu jalannya ritual yang dilaksanakan Pandawa hanya lenyap dengan pancasuara. Panca Suara dalam upacara yadnya, berfungsi menyempurnakan keutuhan makna upacara. Suara genta melengkapi suara mantra, suara kidung melengkapi suara gamelan, dan suara kulkul menyempurnakan semuanya

“Selain melaksanakan Panca suara juga dipastikan agar musuh di dalam diri yaitu sad ripu harus dilenyapkan. Sehingga karya yang dilaksanakan berjalan dengan lancar dengan lancar,” tutupnya. (dik)

 

 

Editor : I Putu Mardika
#ngenteg linggih #yadnya #Kunti Yadnya #wali