Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Menyiapkan Generasi Suputra dalam Berbagai Pustaka Hindu: Anak Berpengetahuan Menjadi Penerang Keluarga

I Putu Mardika • Kamis, 26 Februari 2026 | 16:58 WIB

 

Anak Suputra dalam Nitisastra
Anak Suputra dalam Nitisastra
BALIEXPRESS.ID-Anak adalah harapan bagi setiap keluarga. Dalam tradisi Hindu, kehadiran anak bukan sekadar pelengkap rumah tangga, melainkan amanat suci yang harus dibimbing agar tumbuh menjadi pribadi yang luhur.

Di tengah arus modernisasi, digitalisasi, dan perubahan pola relasi sosial yang begitu cepat, keluarga Hindu di Bali dihadapkan pada tantangan besar dalam menjaga nilai-nilai pendidikan karakter. Konsep suputra pun kembali menemukan relevansinya sebagai fondasi pembentukan generasi masa depan.

Dosen IAHN Mpu Kuturan, Nyoman Ariyoga, M.Pd, menegaskan bahwa suputra bukan sekadar anak yang cerdas secara akademik, tetapi anak yang memiliki kebajikan, kepribadian mulia, dan mampu menjadi penerang bagi keluarganya.

Ia menjelaskan bahwa dalam ajaran Hindu, anak suputra diibaratkan seperti cahaya bulan dan matahari yang menerangi dunia.

Analogi ini tertuang dalam Kakawin Nitisastra yang menyebutkan bahwa anak yang berpengetahuan dan berbudi luhur akan menjadi penerang keluarga serta membawa kebahagiaan bagi kerabatnya.

Menurut Ariyoga, kelahiran seorang anak secara biologis belumlah sempurna tanpa pembinaan nilai. Kesempurnaan itu dibentuk melalui pendidikan, keteladanan, dan penanaman dharma sejak dini.

“Orang tua tidak hanya bertugas memenuhi kebutuhan jasmani, tetapi juga menanamkan pendidikan agama dan moral. Pengaruh keluarga sangat dominan dalam membentuk kepribadian anak, bahkan sejak dalam kandungan,” sebutnya.

Dalam tradisi Hindu dikenal upacara Garbha Dana Samskara sebagai bagian dari rangkaian Sarira Samkara, yaitu proses penyucian diri manusia sejak sebelum lahir hingga dewasa.

Ajaran dalam Gautama Dharma Sutra menjelaskan bahwa upacara penyucian bertujuan membentuk delapan sifat utama seperti kasih sayang, kesabaran, tanpa kekerasan, kesucian, pengendalian diri, dan bebas dari sifat iri maupun loba.

Nilai-nilai ini bersifat universal dan menjadi dasar pembentukan karakter manusia yang bermartabat.

Lebih lanjut, Ariyoga menekankan pentingnya ajaran Tri Kaya Parisudha sebagai fondasi pendidikan dalam keluarga. Tri Kaya Parisudha mengajarkan kesucian pikiran (manacika), perkataan (wacika), dan perbuatan (kayika).

Dalam ranah pikiran, anak perlu diajarkan mengendalikan Sad Ripu atau enam musuh dalam diri, yakni kama, lobha, kroda, mada, moha, dan matsarya.

Baca Juga: Disbud Badung Umumkan Tiga Peringkat Ogoh-ogoh Tingkat Zona, Berlanjut Lomba Tingkat Kabupaten

Sloka dalam Canakya Nitisastra menyebutkan bahwa tidak ada tapa yang lebih utama daripada pikiran yang damai. Pikiran menjadi sumber segala tindakan; ketika pikiran dikuasai nafsu dan amarah, maka perbuatan pun akan menyimpang dari dharma.

Dalam aspek wacika, Ariyoga mengingatkan bahwa kata-kata memiliki daya yang sangat besar. Berbicara dapat menghadirkan kebahagiaan, tetapi juga bisa membawa penderitaan.

“Anak belajar berbicara dari lingkungan keluarga, sehingga orang tua harus menjadi teladan dalam mengendalikan ucapan. Bahasa yang santun akan melahirkan jiwa yang santun. Sebaliknya, ucapan kasar dan penuh kebencian akan membentuk karakter yang keras dan tidak empatik,” ungkapnya.

Pada tataran kayika, tindakan nyata menjadi cerminan kualitas batin. Anak diajarkan menghormati orang tua, menyayangi saudara, tidak menyakiti makhluk hidup, serta menjauhi perbuatan curang.

Prinsip hukum karma mengajarkan bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. Dalam ajaran Hindu dikenal ungkapan alah ulah ala tinemu, ayu kinardi ayu pinanggih, yang menegaskan bahwa sebab yang baik akan menghasilkan akibat yang baik pula. Dengan kesadaran ini, anak diarahkan untuk selalu berpijak pada dharma dalam setiap langkahnya.

Peran ayah dan ibu dalam keluarga memiliki dimensi edukatif yang sangat kuat. Sloka dalam Canakya Nitisastra menyebutkan bahwa ayah bukan hanya yang melahirkan, tetapi juga yang memberi pendidikan, makanan, perlindungan, dan ilmu pengetahuan.

Ariyoga menjelaskan bahwa pola asuh harus disesuaikan dengan tahap perkembangan anak. Pada usia dini, anak dibesarkan dengan kasih sayang; saat beranjak besar diberikan disiplin; dan ketika memasuki remaja diperlakukan sebagai sahabat agar terjalin komunikasi yang terbuka.

“Ibu disebut sebagai guru pertama bagi anak. Melalui kelembutan dan keteladanan, ibu menanamkan nilai bhakti dalam kehidupan sehari-hari, seperti membiasakan sembahyang Tri Sandhya sebelum beraktivitas atau mempersembahkan yadnya sesa sebelum makan,” imbuhnya.

Spiritualitas, menurut Ariyoga, bukan sekadar ritual formal, melainkan kesadaran batin yang tumbuh dari kebiasaan baik dalam keluarga.

Keluarga menjadi persemaian utama nilai-nilai susila. Pendidikan formal hanya melanjutkan apa yang telah ditanamkan di rumah.

Anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh kasih, disiplin, dan keteladanan akan berkembang menjadi pribadi yang kuat secara moral dan spiritual.

Ia juga diingatkan untuk selektif dalam memilih pergaulan, sebab sahabat yang baik akan menuntun pada kebajikan, sedangkan pergaulan yang buruk dapat membawa pada kehancuran.

Ariyoga menegaskan bahwa membentuk anak suputra adalah proses panjang yang memerlukan konsistensi dan kesabaran. Suputra bukan hanya kebanggaan keluarga, tetapi juga aset peradaban.

“Dari keluarga yang kokoh secara moral akan lahir masyarakat yang bermartabat. Di tengah perubahan zaman, nilai-nilai susastra Hindu tetap relevan sebagai pedoman pembentukan generasi penerang, generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga jernih dalam pikiran, santun dalam kata, dan mulia dalam perbuatan,” pungkasnya. (dik)

Editor : I Putu Mardika
#karakter #hindu #Anak Suputra #pendidikan #nitisastra