Bahkan, ada pula yang sampai beranggapan bahwa hidup seseorang dapat mengalami kesialan besar jika ritual itu tidak dilakukan. Fenomena pemahaman seperti ini menunjukkan bahwa tradisi Nyapu Leger sering kali dipahami secara sempit sebagai sesuatu yang menakutkan, bukan sebagai bagian dari kebijaksanaan spiritual yang diwariskan leluhur.
Koordinator Penyuluh Agama Kecamatan Tejakula, Luh Irma Susanthi, S.Sos., M.Pd, menjelaskan bahwa pemahaman yang berkembang di masyarakat perlu diluruskan agar tradisi tersebut tidak dilihat sebagai sumber ketakutan. Menurutnya, Nyapu Leger sesungguhnya merupakan simbol penyelarasan antara manusia dengan energi kosmis yang dipercaya hadir dalam sistem waktu tradisional Bali.
“Banyak orang memandang Nyapu Leger sebagai kewajiban yang harus dilakukan karena takut akan musibah. Padahal, jika kita melihat dari perspektif sastra Hindu dan lontar-lontar Bali, ritual ini lebih tepat dipahami sebagai upaya harmonisasi spiritual,” ujarnya.
Dalam tradisi kalender Bali yang dikenal sebagai pawukon, waktu tidak hanya dipahami sebagai hitungan hari, melainkan sebagai bagian dari struktur kosmis yang memiliki karakter energi tertentu. Setiap kombinasi hari dalam sistem kalender tersebut diyakini membawa kualitas simbolik yang memengaruhi kehidupan manusia.
Hari Tumpek Wayang merupakan salah satu titik waktu yang dianggap memiliki energi kosmis yang kuat karena merupakan pertemuan berbagai siklus waktu sekaligus. Hari ini jatuh pada Saniscara Kajeng Kliwon Wayang, yaitu pertemuan hari terakhir dalam perhitungan Saptawara, Triwara, dan Pancawara.
Selain itu, Tumpek Wayang juga merupakan tumpek terakhir dari enam tumpek yang terdapat dalam siklus pawukon Bali.
Menurut Susanthi, pertemuan berbagai siklus waktu tersebut menjadikan Tumpek Wayang sebagai momentum transisi yang memiliki makna simbolik dalam kehidupan spiritual masyarakat Bali. Oleh karena itu, bagi mereka yang lahir pada hari tersebut, leluhur Bali menganjurkan adanya proses penyucian melalui ritual tertentu sebagai bentuk penyelarasan energi.
Dalam Lontar Kala Tattwa disebutkan bahwa seseorang yang lahir pada wuku Wayang “patut” dilakukan penyucian melalui Nyapu Leger. Kata “patut” dalam teks tersebut memiliki makna penting karena menunjukkan anjuran kebijaksanaan, bukan perintah mutlak yang disertai ancaman.
“Jika kita membaca lontar dengan cermat, kata yang digunakan adalah ‘patut’, bukan ‘wajib’. Artinya, ritual ini merupakan anjuran untuk menjaga keseimbangan, bukan sesuatu yang harus dilakukan karena rasa takut,” jelas Susanthi.
Tradisi Nyapu Leger juga memiliki landasan dalam kisah sastra yang tercatat dalam Lontar Kala Purana. Dalam naskah tersebut diceritakan kisah tentang pertemuan antara Dewa Kala dengan seorang dalang bernama Mpu Leger.
Dalam salah satu bagian lontar disebutkan: “…Muwah binuru sang Pancakumara; katekang ratri masa ning tengah wengi. Hana dalang angwayang, nemoning tumpek wayang, sang anama Mpu Leger. Sampun angrepakena wayang, saha juru redep gendernya, wus pada tinabeh, merdu swaranya, manis arum….”
Kisah ini menggambarkan bagaimana pada malam Tumpek Wayang seorang dalang bernama Mpu Leger menggelar pertunjukan wayang dengan iringan gamelan yang merdu. Dalam simbolisme cerita tersebut, pertunjukan wayang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana ruwatan atau penyucian.
Dari kisah inilah kemudian berkembang tradisi wayang sapuh leger, yaitu pertunjukan wayang kulit yang dilakukan sebagai bagian dari ritual penyucian bagi mereka yang lahir pada wuku Wayang.
Pertunjukan ini dipercaya mampu menyeimbangkan energi kosmis yang melekat pada kelahiran seseorang dalam momentum waktu tersebut.
Namun demikian, Susanthi menegaskan bahwa inti dari tradisi ini bukanlah rasa takut terhadap sosok Bhatara Kala, melainkan pemahaman tentang pentingnya menjaga keseimbangan hidup.
“Dalam simbolisme pewayangan, Bhatara Kala sebenarnya melambangkan waktu kosmis yang terus bergerak. Manusia yang tidak mampu menyesuaikan diri dengan ritme kehidupan sering mengalami kekacauan batin. Karena itu, ritual seperti Nyapu Leger hadir sebagai sarana untuk menata kembali keseimbangan tersebut,” katanya.
Jika ditelusuri dalam kitab suci Hindu yang bersifat universal, tidak terdapat sloka yang secara literal memerintahkan ritual Nyapu Leger. Namun prinsip dasar yang melandasinya sangat kuat dalam ajaran Hindu, yaitu konsep yadnya sebagai sarana menjaga keseimbangan kehidupan.
Dalam Bhagavad Gita III.10 disebutkan: “Saha-yajñāḥ prajāḥ sṛṣṭvā purovāca prajāpatiḥ anena prasaviṣyadhvaṁ eṣa vo’stv iṣṭa-kāma-dhuk.” Sloka ini mengajarkan bahwa pada awal penciptaan, Tuhan menciptakan manusia bersama yadnya dan menyatakan bahwa melalui yadnya manusia akan berkembang dan mencapai kesejahteraan. Dengan kata lain, upacara suci dalam tradisi Hindu bukanlah beban, melainkan sarana untuk menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan.
Susanthi menambahkan bahwa dalam ajaran Hindu, kehidupan manusia tidak ditentukan oleh satu ritual saja. Kehidupan ditentukan oleh karma, dharma, dan kesadaran spiritual seseorang.
Prinsip ini tercermin dalam ajaran klasik Hindu yang berbunyi “Dharmo rakṣati rakṣitaḥ”, yang berarti dharma akan melindungi mereka yang melindungi dharma. “Pesan ini sangat jelas bahwa yang menjaga kehidupan manusia adalah dharma, bukan ketakutan terhadap ritual tertentu,” jelasnya.
Meskipun demikian, ritual Nyapu Leger tetap memiliki nilai spiritual penting sebagai warisan kebijaksanaan leluhur Bali. Ritual ini mengajarkan manusia untuk hidup selaras dengan waktu dan alam semesta.
Leluhur Bali dikenal sebagai pengamat alam yang sangat bijaksana. Mereka memahami bahwa manusia hidup dalam hubungan yang erat dengan lingkungan dan energi kosmis yang terus bergerak. Karena itu, berbagai ritual diciptakan sebagai sarana untuk menjaga keseimbangan hubungan tersebut.
Menariknya, konsep yang diwariskan oleh leluhur ini justru memiliki relevansi yang kuat dengan kehidupan modern saat ini. Di tengah kehidupan digital yang serba cepat, banyak orang mengalami tekanan mental, kecemasan, dan kelelahan emosional.
Berbagai metode modern seperti meditasi, terapi spiritual, hingga detoks media sosial kini banyak digunakan sebagai cara untuk menata kembali keseimbangan hidup. Dalam konteks ini, Susanthi menilai bahwa Nyapu Leger dapat dipahami sebagai bentuk reset energi spiritual yang telah dikenal oleh leluhur Nusantara sejak lama.
“Jika sekarang orang berbicara tentang healing atau reset energi, sebenarnya leluhur kita sudah mengenal konsep itu sejak dahulu melalui berbagai ritual spiritual,” katanya.
Irma Susanthi menegaskan bahwa kehidupan manusia tidak akan berhenti hanya karena seseorang tidak melakukan Nyapu Leger.
Ritual tersebut merupakan bagian dari tradisi spiritual yang memiliki nilai filosofis mendalam, tetapi tidak boleh dipahami sebagai sumber ketakutan. Ia mengingatkan bahwa dalam ajaran Hindu terdapat banyak jalan penyucian diri, baik melalui melukat, tapa brata, maupun praktik spiritual lainnya.
Hal ini sejalan dengan ajaran dalam Manawa Dharmasastra V.109 yang menyatakan: “Adbhirgatrani suddhyanti, manah satyena suddhyanti, widyatapobhyam bhutatma, buddhi jñanena suddhyanti.” Sloka ini menjelaskan bahwa tubuh disucikan dengan air, pikiran disucikan dengan kebenaran, atman dimurnikan melalui ilmu pengetahuan dan tapa brata, sedangkan buddhi disucikan melalui pengetahuan.
Menurut Susanthi, pesan sloka tersebut menegaskan bahwa penyucian hidup manusia dapat dilakukan melalui berbagai jalan spiritual yang berlandaskan kesadaran dan pengetahuan.
Oleh karena itu, Nyapu Leger seharusnya dipahami sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan spiritual, bukan sebagai ancaman bagi kehidupan seseorang.
“Ritual ini sebaiknya dilihat sebagai warisan kebijaksanaan leluhur yang mengajarkan manusia untuk hidup selaras dengan alam semesta. Bukan karena takut hidup akan berhenti, tetapi karena manusia ingin hidup lebih jernih, lebih seimbang, dan lebih damai,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika