BALIEXPRESS.ID-Bagi umat Hindu buah kelapa (nyuh) dalam pelaksanaan upakara yadnya memiliki makna filosofi dan penggunaannya berdasarkan bentuk dan nama banten/upakara. Tercatat sebanyak 11 jenis kelapa (nyuh) yang sering digunakan dalam berbagai ritual umat Hindu di Bali.
Dosen Upakara IAHN Mpu Kuturan, Dr. Wayan Murniti menjelaskan sebelas Nyuh sarat akan makna filosofis dan digunakan dalam berbagai ritual dari manusa yadnya sampai dewa yadnya.
Pertama, Nyuh Gading merupakan sebutan lokal dari jenis kelapa genjah dengan nama Indonesia kelapa raja. Kelapa jenis ini digunakan dalam Upacara Dewa yadnya, yang terdiri dari upakara/banten sesayut prayascita luwih, prayascita sakti, prayascita biasa, dan pedudusan agung (pedarinan, pengenteg, penyegjeg).
Pada upacara Manusa Yadnya kelapa raja atau nyuh gading digunakan dalam upakara/banten pewintenan, peras potong gigi, eteh-eteh pengelukatan, eteh-eteh pedudusan alit, dan sebagai tempat pembuangan pedanggal. Pada upacara Pitra Yadnya nyuh gading dipergunakan sebagai tempat abu puspa sarira dan caru panca sato dalam upacara Bhuta Yadnya.
Bagian yang digunakan dalam upakara adalah kelungah (kelapa yang masih muda), nyuh (kelapa tua), dan janur nyuh gading.
“Nyuh gading bermakna sebagai lambang kesucian, pebersihan, serta sebagai simbul perwujudan manifestasi Ida Sang Hyang Widi Wasa sebagai Dewa Mahadewa dalam kontek Dewata Nawa Sanga (Dewa penguasa 9 penjuru arah mata angin),” kata Murniti.
Kedua, Nyuh Bulan merupakan sebutan lokal dari kelapa gading termasuk ke dalam jenis kelapa genjah. Kelapa gading atau nyuh bulan digunakan dalam upacara Dewa Yadnya sebagai sarana upakara pedudusan agung (pedarman, penyegjeg. pengenteg). Pada upacara Manusa Yadnya nyuh hulas digunakan sebagai upakara eteh-eteh pedudusan alit, banten pewintenan, dan banten pangulapan.
Baca Juga: Perbaikan Jalan ‘Benyah Latig’ di Lemukih Masuk Tahap Tender, Pemkab Buleleng Siapkan Rp 5 Miliar
Digunakan pula pada caru panca sato dalam upacara Bhuta Yadnya, bagian yang digunakan adalah kelungah dan nyuh. Buah berwarna kuning gading/kuning keputihan bermakna sebagai lambang kesucian dan pebersihan serta sebagai simbol perwujudan Ida Sang Hyang Widi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewa Iswara (arah timur).
Ketiga, Nyuh Gadang merupakan sebutan lokal dari jenis kelapa genjah dengan nama Indonesia kelapa puyuli/kelapa bagi. Nyuh gadang digunakan dalam upacara Dewa Yadnya digunakan sebagai sarana upakara pedudusan agung (pedarman, penyegjeg, pengenteg). Kemudian pada upacara Manusa Yadnya digunakan dalam eteh-eteh pedudusan alit.
Pada upacara Bhuta Yadnya digunakan dalam upakara tebasan durmengala dan upakara caru panca sato. Bagian yang digunakan kelungah dan nyuh. Air dan warna buah yang dimiliki maknanya sebagai lambang kesucian dan pebersihan.
Keempat, Nyuh Mulung merupakan sebutan lokal dari jenis kelapa dengan nama Indonesia kelapa hijau. Nyuh mulung digunakan dalam upacara Manusa Yadnya sebagai sarana upakara banten mewinten, dan eteh-eteh pedudusan alit.
Dikatakan Murniti, Nyuh Mulung digunakan untuk upakara tebasan durmengala dan caru panca sato digunakan dalam upacara Bhuta yadnya. Bagian yang digunakan adalah kelungah nyuh mulung. Nyuh Mulung bermakna sebagai lambang kesucian dan pebersihan serta sebagai simbul perwujudan Ida Sang Hyang Widi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewa Wisnu (arah utara).
Kelima, Nyuh Bojog Nyuh bojog merupakan sebutan lokal dari jenis kelapa dengan nama Indone sia kelapa hijau. Dalam upacara Dewa Yadnya nyuh bojog digunakan sebagai sarana upakara pedudusan agung (pedarman, penyegjeg, pengenteg).
Bagian yang digunakan untuk upakara adalah kelungah nyuh bojog. Buah dalam upakara yadnya adalah kadungan air dan warna buah yang dimiliki, bermakna sebagai lambang kesucian dan pebersihan serta sebagai simbol perwujudan Ida Sang Hyang Widi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewa Sangkara (arah barat laut).
Keenam, Nyuh Rangda/Nyuh Bingin Nyuh rangda atau nyuh bingin merupakan sebutan lokal dari jenis kelapa dalam dengan nama Indonesia kelapa mcrah. Nyuh rangda/Nyuh bingin digunakan pada upacara Dewa Yadnya sebagai sarana upakara pedudusan agung (pedarman, pengenteg penyegjeg).
Bagian yang digunakan dalam upakara yadnya ialah nyuh (kelapa tua). Buah dalam upakara yadnya adalah kandungan air dan warna buah yang dimiliki bermakna sebagai lambang kesucian dan pebersihan serta sebagai simbol perwujudan Ida Sang Hyang Widi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewa Rudra (barat daya).
Baca Juga: Kantor Pertanahan Kabupaten Klungkung Rayakan Hari Raya Tumpek Landep dengan Khidmat
Ketujuh, Nyuh Macan merupakan sebutan lokal dari jenis kelapa dalam dengan nama Indonesia kelapa merah. Nyuh macan digunakan pada upacara Dewa Yadnya sebagai sarana upakara/banten catur (upacara nganteg linggih), pedudusan agung (pedarman, pengenteg. penyegjeg).
Lanjut Murniti, bagian yang digunakan dalam upakara yadnya adalah nyuh (kelapa tua). Buah dalam upakara yadnya ialah kandungan air, wama buah, sebagai lambang kesucian dan pebersihan serta karakter dari sifat macan yang bermakna sebagai lambang kekuatan yang kokoh sebagai simbol/nyasa agar ajeg dan tegteg.
Kedelapan, Nyuh Bejulit merupakan sebutan lokal dari jenis kelapa dalara dengan nama Indonesia kelapa hijau. Nyuh bejulit digunakan pada upacara Dewa Yadnya sebagai sarana upakara pedudusan agung (pedarman, pengenteg, penyegjeg).
Bagian yang digunakan dalam upakara ialah nyuh (kelapa tua). Buah dalam upakara yadnya ialah kandungan air dan wama buah yang miliki. Maknanya sebagai lambang kesucian dan pebersihan serta sebagai simbol perwujudan Ida Sang Hyang Widi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewa Sambhu (arah timur laut).
Kesembilan, Nyuh Surya merupakan sebutan lokal dari jenis kelapa dalam dengan nama Indonesia kelapa merah. Nyuh surya digunakan pada upacara Dewa Yadnya sebagai sarana upakara pedudusan agung (pedarman, penyegjeg, pengenteg) serta pada upacara Manusa Yadnya digunakan dalam upakara pewintenan.
Murniti menambahkan, Bagian yang digunakan dalam upakara yadnya ialah kelungah. (kelapa yang masih muda) dan nyuh (kelapa tua). “Buah dalam upacara yadnya ialah kandungan air dan warna buah yang dimiliki, bermakna sebagai lambang kesucian dan pebersihan serta sebagai simbul perwujudan Ida Sang Hyang Widi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewa Maheswara (arah tenggara),” paparnya.
Kesepuluh, Nyuh Sudamala merupakan sebutan lokal dari jenis kelapa dalam dengan nama Indonesia kelapa hijau. Nyuh sudamala digunakan pada upacara Dewa Yadnya sebagai sarana upakara pedudusan agung (pedurman penyegjeg, pengenteg). Pada upacara Manusa Yadnya digunakan dalam upakara etch-eteh pedudusan alit serta digunakan pada upacara Bhuta Yadnya dalam upakara caru panca sato.
Bagian yang digunakan dalam upakara yadnya ialah kelungah dan nyuh. Buah dalam upacara yadnya ialah kandungan air dan warna buah yang dimiliki, bermakna sebagai lambang kesucian dan pebersihan serta sebagai simbul perwujudan Ida Sang Hyang Widi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewa Ciwa (arah tengah).
Kesebelas, Nyuh udang/Nyuh brahma Nyuh udang merupakan sebutan lokal dari jenis kelapa dalam dengan- nama Indonesia kelapa merah. Nyuh udang atau Nyuh brahma digunakan pada upacara Dewa Yadnya sebagai sarana upakara pedudusan agung (pedarman, penyegjeg, pengenteg).
“Pada upacara Manusa Yadnya digunakan dalam upakara eteh-eteh pedudusan alit, dan banten byakala serta digunakan pada upacara Bhuta Yadnya dalam upakara cam panca sato. Bagian yang digunakan dalam upakara yadnya ialah kelungah (kelapa yang masih muda) dan nyuh (kelapa tua),” singkatnya. (dik)
Jadi lambang Pembersihan
Buah dalam upakara yadnya adalah kandungan air dan warna buah yang dimiliki, bermakna sebagai lambang kcsucian dan pebersihan serta sebagai simbul perwujudan Ida Sang Hyang Widi Wasa dalam manifestasinya sebagai Dewa Brahma (arah selatan).
Dr. Wayan Murniti menambahkan, semua bagian dari buah kelapa, mulai dari sabut, tempurung, daging buah, dan air dapat dimanfaatkan untuk upakara yadnya. Buah kelapa yang dimanfaatkan dalam upakara yadnya adalah kelungah dan nyuh.
“Secara umum makna filosofis kelungah adalah sebagai lambang penyucian jasmani dan rohani, sedangkan makna filosofis nyuh adalah sebagai lambang bumi/alam semesta (Bhuwana Agung) dan tubuh manusia (Bhuwana Alit),” ungkapnya.
Makna filosofis kelungah setiap jenis kelapa sangat penting, karena masing-masing mempunyai makna. Dalam setiap bagian upakara yadnya seperti; untuk membersihkan atau inenyucikan bangunan/pelinggih di Pura-Pura, karena pelinggih merupakan Stana/ tempat Ida Sang Hyang Widi Wasa (Tuhan) agar bersih dari kotoran secara niskala, untuk menyucikan banten yang dihaturkan dan untuk menyucikan seseorang yang akan dibuatkan upacara
Selain itu, dalam pustaka Lontar Aji Sangkhya alam semesta (Buana Agung) dinyatakan terdiri dari 14 lapisan, terdiri dari 7 (tujuh) lapisan dalam pertiwi, disebut Sapta Patala dan 7 (tujuh) lagi yang termasuk ke dalam angkasa disebut Sapta Loka. Adapun lambang "Sapta Loka" pada kelapa adalah Air sebagai lambang mahalala; Isinya yang lembut sebagai lambang tala-tala; Isinya sebagai lambang lala;
Lapisan pada isi sebagai simbol antala; Lapisan isinya yang keras sebagai lambang sutala; Lapisan tipis paling dalam sebagai lambang nitala; Batoknya sebagai lambang patala. Lambang "Sapta Loka" pada kelapa disebutkan bahwa Bulu batok kelapa sebagai lambang bhur Loka.
Baca Juga: Ratusan Warga Karangasem Pilih Kerja ke Luar Negeri, Tren Keberangkatan Terus Naik
Serat saluran sebagai lambang bhwah Loka; Serat serabut sebagai lambang swah Loka; Serabut basah sebagai lambang maha Loka; Serabut kering sebagi lambang jnana Loka; Kulit serat kering sebagai lambang tapa Loka; dan Kulit keras kering sebagai lambang setia Loka.
“Makna filosofi, penggunaan jenis-jenis kelapa dalam upakara yadnya menunjukkan pemujaan kepada Dewata Nawa /Sanga yang merupakan manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa). Dewata Nawa Sanga merupakan 9 (sembilan) Dewa penguasa seluruh penjuru arah mata angin,” paparnya.
Mulai dari arah Timur berstana Dewa Iswara yang merupakan simbul warna putih (nyuh bulan), arah Tenggara berstana Dewa Maheswa-ra yang merupakan simbul warna dadu/barak bang (nyuh surya), arah Selatan berstana Dewa Brahma yang merupakan simbul warna merah (nyuh udang), arah Barat Daya berstana Dewa Rudra yang merupakan simbul wama jingga (nyuh rangda),
Kemudian pada arah Barat berstana Dewa Mahadewa yang merupakan simbul wama kuning (nyuh gadingj, arah Barat Laut berstana Dewa Sangkara yang merupakan simbul warna hijau (nyuh bojog), arah Utara berstana Dewa Wisnu yang merupakan simbul warna hitam (nyuh mulung)
Selanjutnya pada arah Timur Laut berstana Dewa Sambhu yang merupakan simbul warna biru (nyuh bejulit), dan arah tengah berstana Dewa Ciwa yang merupakan simbul wama campuran/brumbun (nyuh sudamala).
“Masing-masing kelapa yang digunakan dalam upakara yadnya terdiri dari kelapa yang telah tua (nyuh) dan kelapa yang masih muda (kelungah). Nyuh mempunyai makna sebagai lambang Bhuwana Agung (alam semesta) dan Bhuwana Alit” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika