BALI EXPRESS. ID - Suasana khidmat menyelimuti Pasraman Yogadhiparamaguhya Bali, Banjar Tengah, Desa Blahbatuh, Minggu (17/5), saat keluarga besar, sulinggih, dan masyarakat berkumpul dalam Peringatan Petinget Lepas Ida Bhatara Lingga ke-10 Ida Pedanda Gede Made Gunung. Momentum spiritual ini tidak hanya menjadi ajang mengenang sosok sulinggih kharismatik tersebut, tetapi juga memperkuat semangat pelestarian sastra suci dan warisan budaya Hindu Bali.
Kegiatan yang berlangsung penuh nuansa religius itu dirangkai dengan bedah buku geguritan yang mengisahkan perjalanan spiritual Ida Pedanda Gede Made Gunung. Acara diawali dengan kidung pengulem Siwa yang menggema khusyuk, kemudian dilanjutkan pembacaan geguritan karya beliau sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi spiritual yang diwariskan.
Memasuki inti acara, sesi bedah buku dipandu Ida Pedanda Gede Putra Pidada. Para peserta tampak menyimak dengan penuh perhatian saat lembar demi lembar makna spiritual dari karya sastra tersebut diulas secara mendalam.
Baca Juga: Penyuluh Agama Latih Anak- Anak di Banjar Apuh Sebatu Lewat Penguatan Tradisi dan Budaya
Hadir dalam kesempatan itu sejumlah sulinggih, pemangku, bendesa adat, perangkat desa, camat, perbekel, pengurus yayasan, semeton Brahmana Wangsa, sisya pasraman, hingga masyarakat umum yang datang dari berbagai wilayah di Bali.
Buku yang menjadi fokus pembahasan berjudul Geguritan Peparikan Dharma Yatra Ida Peranda Sakti Wau Rawuh. Karya tersebut merupakan kumpulan catatan sekaligus perjalanan spiritual Ida Pedanda Made Gunung semasa hidup, yang kini dihadirkan sebagai warisan literasi religius bagi generasi Hindu di Nusantara.
Ketua Umum Yayasan Pasraman Yogadhiparamaguhya Bali, Ida Bagus Made Purwita Suamem SS MSi, menegaskan bahwa peringatan ini bukan sekadar mengenang figur seorang sulinggih, melainkan menjadi bagian penting menjaga kesinambungan nilai spiritual dan budaya Bali.
Menurutnya, Petinget Lepas menjadi wujud bhakti dan rasa tresna kepada Ida Bhatara Lingga yang telah meninggalkan jejak pengabdian besar bagi umat Hindu. Melalui momentum ini, keluarga besar pasraman ingin menanamkan nilai-nilai spiritual kepada generasi muda lewat karya sastra dan geguritan.
“Peringatan ini menjadi bentuk bhakti dan rasa tresna kepada Ida Bhatara Lingga sekaligus upaya menanamkan nilai spiritual kepada generasi penerus melalui karya sastra dan geguritan,” ujar Purwita.
Ia menjelaskan, geguritan karya Ida Pedanda Gede Made Gunung terdiri dari sekitar 508 bait yang sarat akan pesan kehidupan. Tidak hanya memiliki nilai sastra tinggi, karya tersebut juga memuat filosofi Hindu dan tuntunan spiritual yang relevan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi kalangan pasraman, geguritan itu dipandang sebagai bentuk warisan pemikiran yang tak ternilai. Setiap baitnya merekam perjalanan spiritual, ajaran dharma, hingga refleksi kehidupan yang diwariskan kepada umat Hindu lintas generasi.
Semasa walaka, Ida Pedanda Gede Made Gunung dikenal dengan nama Ida Bagus Gede Suamem. Beliau lahir di Gianyar pada 31 Desember 1952 dan mengembuskan napas terakhir pada 18 Mei 2016, meninggalkan jejak pengabdian panjang bagi masyarakat Bali.
Sebelum menjadi sulinggih, beliau sempat mengabdikan diri sebagai petugas PLKB Gianyar sejak tahun 1972. Perjalanan hidupnya memperlihatkan dedikasi yang kuat terhadap pelayanan masyarakat sebelum akhirnya menempuh jalan spiritual sebagai pemimpin umat.
Sosok Ida Pedanda Made Gunung juga dikenal luas melalui dharma wacana yang khas dan mudah diterima masyarakat. Dengan pendekatan humor yang ringan, beliau mampu menyampaikan ajaran agama Hindu secara sederhana tanpa kehilangan makna mendalamnya.
Tak heran, ceramah-ceramahnya kerap diminati berbagai kalangan, mulai dari generasi tua hingga anak muda. Gaya penyampaian yang membumi menjadikan nilai-nilai agama terasa dekat dan mudah dipahami.
Baca Juga: Sempat Dilaporkan Hilang, Kakek 63 Tahun di Tegallalang Ditemukan Selamat di Dasar Jurang
Warisan pemikiran tersebut kini diteruskan oleh putranya, Ida Bagus Made Purwita Suamem, yang aktif menjaga ratusan koleksi lontar di Gria Purnawati, Desa Blahbatuh. Upaya pelestarian ini menjadi bagian penting menjaga kekayaan intelektual dan spiritual Bali.
Selain menjalankan tugas sebagai ASN di Dinas Kebudayaan Bali, Purwita juga terlibat dalam berbagai kegiatan pelestarian bahasa, sastra, serta konservasi naskah kuno bersama pemerintah dan komunitas budaya.
Pelestarian lontar dan sastra keagamaan dinilai semakin penting di tengah derasnya perkembangan zaman dan modernisasi. Tradisi literasi berbasis lontar dipandang bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan fondasi identitas budaya Bali yang harus terus dirawat.
Melalui kegiatan bedah buku ini, Pasraman Yogadhiparamaguhya Bali berharap generasi muda tidak hanya mengenal karya sastra Hindu, tetapi juga memahami nilai spiritual yang terkandung di dalamnya.
Peringatan Petinget Lepas ke-10 ini sekaligus menjadi ruang refleksi bahwa warisan seorang sulinggih tidak berhenti pada jejak pengabdian semasa hidup, tetapi terus hidup melalui ajaran, tulisan, dan keteladanan yang diwariskan.
Di tengah tantangan zaman modern, 508 bait geguritan peninggalan Ida Pedanda Gede Made Gunung hadir sebagai suluh spiritual, menjaga agar nilai-nilai dharma tetap menyala di hati generasi Hindu masa kini dan masa depan.*
Editor : Putu Agus Adegrantika