BALIEXPRESS.JD-Ajaran Nitisastra tetap hidup dan relevan hingga kini. Meskipun Masyarakat mengalami berbagai tantangan yang dihadapi mulai dari menurunnya etika komunikasi, meningkatnya individualisme, hingga krisis keteladanan dalam kehidupan publik, ajaran-ajaran moral warisan leluhur dinilai masih memiliki relevansi yang sangat kuat untuk dijadikan pedoman kehidupan.
Seperti diketahui, Kitab Nitisastra, sebuah karya sastra Jawa Kuno yang diperkirakan disusun pada akhir masa Majapahit dan berisi petunjuk tentang kepemimpinan, pendidikan, hubungan sosial, serta pembentukan karakter manusia.
Sekretaris Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Buleleng, Dr. Nyoman Suardika, menilai bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam Nitisastra justru semakin penting untuk dipahami oleh masyarakat saat ini. Menurutnya, perubahan zaman tidak boleh membuat generasi muda kehilangan pegangan moral yang telah diwariskan oleh para leluhur.
"Di dalam Nitisastra kita menemukan banyak ajaran universal yang tidak pernah kehilangan relevansinya. Nilai kejujuran, pendidikan, kesetiaan, pengendalian diri, penghormatan kepada guru, hingga kepemimpinan yang bijaksana merupakan kebutuhan setiap zaman. Inilah yang perlu terus diwariskan kepada generasi muda Hindu," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa Nitisastra pada dasarnya merupakan kumpulan ajaran etika yang menuntun manusia agar mampu menjalani kehidupan secara harmonis, baik dalam hubungan dengan Tuhan, sesama manusia maupun lingkungan. Karena itu, karya sastra tersebut tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga menjadi sumber pendidikan karakter yang penting.
Baca Juga: Tingkat Kelulusan SMP di Jembrana 99,97 Persen, Satu Siswa Gagal Lulus karena Absen 90 Hari
Salah satu pesan utama yang sangat menonjol dalam Nitisastra adalah penghargaan terhadap ilmu pengetahuan. Dalam salah satu slokanya disebutkan:
"Tidak ada sahabat yang dapat melebihi pengetahuan yang tinggi faedahnya. Tidak ada musuh yang berbahaya daripada nafsu jahat dalam hati sendiri."
Menurut Nyoman Suardika, ajaran tersebut menunjukkan bahwa pendidikan bukan sekadar sarana memperoleh pekerjaan atau status sosial, melainkan jalan untuk membentuk kualitas kemanusiaan yang lebih baik.
"Ilmu pengetahuan dalam perspektif Hindu tidak hanya membuat seseorang cerdas secara intelektual, tetapi juga membangun kebijaksanaan. Karena itu masyarakat Hindu sejak dahulu menempatkan guru dan pendidikan pada posisi yang sangat mulia," katanya.
Hal tersebut juga ditegaskan dalam sloka lain yang menyebutkan:"Ilmu pengetahuan, pelajaran dan peraturan-peraturan yang baik menerangi tiga jagat dengan sempurna."
Selain pentingnya ilmu pengetahuan, Nitisastra juga memberikan perhatian besar terhadap penggunaan bahasa dan komunikasi. Dalam kehidupan modern yang didominasi media sosial, pesan ini dinilai sangat relevan.
"Oleh perkataan engkau akan mendapat bahagia. Oleh perkataan engkau akan menemui ajalmu. Oleh perkataan engkau akan mendapat kesusahan. Oleh perkataan engkau akan mendapat sahabat."
Pria yang juga akademisi IAHN Mpu Kuturan ini menilai sloka tersebut menjadi pengingat bahwa setiap kata memiliki konsekuensi. Oleh karena itu masyarakat harus lebih bijak dalam berkomunikasi, terutama di ruang digital yang saat ini sering diwarnai ujaran kebencian, fitnah, dan perpecahan.
"Kalau kita cermati, masalah sosial yang banyak terjadi sekarang sering berawal dari kata-kata. Karena itu pengendalian ucapan menjadi bagian penting dari pengendalian diri sebagaimana diajarkan dalam sastra Hindu," jelasnya.
Nilai lain yang sangat penting dalam Nitisastra adalah kejujuran. Dalam salah satu ajarannya ditegaskan:
"Tidak ada kesanggupan yang lebih baik daripada cinta kepada kebenaran; wajiblah orang berusaha menepati kebenaran itu."
Menurutnya, kebenaran atau satya merupakan fondasi utama kehidupan beragama. Tanpa kejujuran, berbagai aspek kehidupan sosial, ekonomi, maupun pemerintahan akan mengalami kemunduran.
"Kita sering berbicara tentang pembangunan, tetapi pembangunan yang tidak didasari kejujuran akan kehilangan makna. Dalam Hindu, satya merupakan salah satu kebajikan yang harus diwujudkan dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan," ujarnya.
Lebih lanjut, Nitisastra juga mengajarkan tentang pentingnya hubungan antara pemimpin dan masyarakat. Filosofi ini tergambar dalam sloka yang sangat terkenal:
"Singa adalah penjaga hutan, akan tetapi juga selalu dijaga oleh hutan."
Menurut Dr. Suardika, perumpamaan tersebut menggambarkan hubungan timbal balik antara pemimpin dan rakyat. Seorang pemimpin harus melindungi masyarakat, namun keberadaannya juga bergantung pada dukungan masyarakat yang dipimpinnya.
"Pemimpin yang baik tidak boleh merasa paling berkuasa. Sebaliknya, ia harus menyadari bahwa keberhasilannya sangat ditentukan oleh rakyat. Filosofi ini sangat relevan dalam kehidupan demokrasi saat ini," katanya.
Dalam bidang pendidikan keluarga, Nitisastra juga menawarkan konsep yang menarik mengenai pola pengasuhan anak.
"Anak yang sedang berumur lima tahun hendaknya diperlakukan seperti anak raja. Jika sudah berumur tujuh tahun, dilatih supaya suka menurut. Jika sudah sepuluh tahun, dipelajari membaca. Jika sudah enam belas tahun, diperlakukan sebagai sahabat."
Dr. Suardika menjelaskan bahwa ajaran tersebut menunjukkan bahwa pendidikan karakter harus dilakukan secara bertahap sesuai perkembangan usia anak. Orang tua tidak cukup hanya memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga harus menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari.
Selain pendidikan, Nitisastra juga mengajarkan kepedulian sosial melalui sedekah dan kebajikan.
"Faedah harta-benda ialah bahwa kita dengan itu dapat menolong orang-orang yang dalam kesusahan dan kemelaratan."
Menurutnya, ajaran tersebut mengingatkan bahwa kekayaan bukan tujuan akhir kehidupan. Harta memiliki nilai ketika digunakan untuk membantu sesama dan menciptakan kesejahteraan sosial.
Lebih jauh, Nitisastra juga mengingatkan manusia agar berhati-hati dalam memilih lingkungan pergaulan.
"Jangan bersahabat dengan orang-orang jahat; bersahabat dan bergaullah dengan orang-orang baik saja."
Baginya, pesan tersebut sangat penting di tengah derasnya pengaruh budaya global dan perkembangan teknologi informasi yang memungkinkan generasi muda berinteraksi dengan berbagai lingkungan sosial secara luas.
Suardika mengajak umat Hindu, khususnya generasi muda, untuk kembali mempelajari sastra-sastra klasik Nusantara seperti Nitisastra. Menurutnya, karya tersebut bukan sekadar peninggalan sejarah, tetapi merupakan sumber kebijaksanaan yang dapat menjadi pedoman menghadapi berbagai tantangan kehidupan modern.
"Kita memiliki warisan intelektual yang luar biasa dari para leluhur. Jangan sampai kita lebih mengenal pemikiran dari luar, tetapi melupakan ajaran yang lahir dari kebudayaan kita sendiri. Nitisastra mengajarkan bagaimana menjadi manusia yang berilmu, jujur, bijaksana, dan bermanfaat bagi sesama. Nilai-nilai itulah yang sesungguhnya dibutuhkan masyarakat saat ini," pungkasnya.
Melalui ajaran-ajarannya yang sarat kebijaksanaan, Nitisastra membuktikan bahwa sastra klasik tidak pernah kehilangan makna. Meski lahir pada masa Majapahit berabad-abad lalu, pesan-pesan moral yang terkandung di dalamnya tetap menjadi cahaya yang menerangi kehidupan manusia hingga hari ini. (dik)
Editor : I Putu Mardika