BALIEXPRESS.ID-Pura Taman Sari Singaraja layak disebut sebagai tempat suci yang menjadi simbol nyata harmoni antarumat beragama dan akulturasi budaya yang telah berlangsung selama ratusan tahun.
Pura Taman Sari yang berlokasi di Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Buleleng, tidak hanya dikenal sebagai tempat pemujaan umat Hindu, tetapi juga sebagai lokasi pemujaan Dewi Kwan Im yang dihormati oleh berbagai kalangan masyarakat. Keunikan inilah yang menjadikan Pura Taman Sari memiliki nilai sejarah, spiritual, dan sosial yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat setempat.
Kelian Pura Taman Sari, Ketut Windu Saputra, menjelaskan bahwa keberadaan pemujaan Dewi Kwan Im di lingkungan pura merupakan warisan sejarah yang terus dijaga hingga saat ini. Menurutnya, pemujaan tersebut telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari identitas Pura Taman Sari dan sekaligus menjadi cerminan kuatnya nilai toleransi yang berkembang di tengah masyarakat Kampung Baru.
“Pemujaan Dewi Kwan Im di Pura Taman Sari sudah berlangsung secara turun-temurun. Keberadaannya bukan hanya sebagai bentuk penghormatan kepada Dewi Kwan Im, tetapi juga menjadi simbol persatuan dan kerukunan masyarakat yang berbeda latar belakang agama maupun etnis,” ujar Ketut Windu Saputra.
Sejarah pemujaan Dewi Kwan Im di Pura Taman Sari berawal sekitar tahun 1801 Masehi. Kala itu sebuah kapal milik saudagar Tiongkok mengalami kandas dan terdampar di sekitar wilayah pura saat mengambil persediaan air minum. Setelah berbagai upaya dilakukan namun tidak membuahkan hasil, para saudagar tersebut memanjatkan doa kepada Dewi Kwan Im dan para dewa yang berstana di Pura Taman Sari agar diberikan keselamatan dan jalan keluar dari kesulitan yang mereka alami.
Secara ajaib, keesokan harinya kapal tersebut telah berada kembali di tengah laut. Sebagai bentuk rasa syukur atas pertolongan yang diterima, para saudagar Tiongkok kemudian membangun sebuah palinggih yang hingga kini menjadi tempat pemujaan Dewi Kwan Im di kawasan pura.
Menurut Ketut Windu Saputra, kisah sejarah tersebut terus diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari memori kolektif masyarakat. Keberadaan palinggih Dewi Kwan Im di dalam kompleks pura menjadi bukti nyata bagaimana hubungan budaya antara masyarakat Bali dan Tionghoa telah terjalin sejak lama.
“Dari sejarah itulah kemudian tumbuh keyakinan masyarakat terhadap sifat welas asih Dewi Kwan Im. Hingga sekarang banyak umat yang datang untuk memohon keselamatan, kesehatan, kelancaran usaha, dan berbagai harapan lainnya,” katanya.
Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa salah satu alasan banyak umat datang bersembahyang di Pura Taman Sari adalah harapan memperoleh berkah kemakmuran dan keberuntungan. Menurutnya, umat meyakini bahwa pemujaan yang dilakukan dengan tulus dapat menjadi ikhtiar spiritual dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
“Umat berharap akan memperoleh berkah kemakmuran dan keberuntungan. Umat datang bersembahyang ke Pura Taman Sari bertujuan untuk memohon rejeki yang lancar, kesuksesan dalam usaha, atau perlindungan dari kesulitan ekonomi dengan menghaturkan persembahan saat melakukan pemujaan kepada Dewi Kwan Im di Pura Taman Sari. Praktik pemujaan dengan menghaturkan persembahan dan punia dapat dilihat sebagai bentuk ikhtiar spiritual yang diharapkan membawa dampak positif terhadap kehidupan mereka,” ungkapnya.
Keunikan lain yang terdapat di Pura Taman Sari adalah keterbukaan tempat suci ini terhadap umat dari berbagai latar belakang. Tidak hanya umat Hindu, masyarakat dari etnis Tionghoa maupun pemeluk agama lain juga datang untuk melakukan penghormatan kepada Dewi Kwan Im. Fenomena ini menjadi gambaran nyata bahwa nilai toleransi dan kebersamaan telah tumbuh kuat dalam kehidupan masyarakat Kampung Baru.
Ketut Windu Saputra menegaskan bahwa pemujaan Dewi Kwan Im tidak pernah dipandang sebagai sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Hindu. Sebaliknya, masyarakat melihatnya sebagai bagian dari kekayaan budaya dan spiritual yang memperkuat semangat menyama braya dalam kehidupan sehari-hari.
“Di sini kami melihat Dewi Kwan Im sebagai simbol kasih sayang dan welas asih. Nilai-nilai itulah yang menyatukan umat dari berbagai latar belakang. Karena itu keberadaan pemujaan ini justru memperkuat rasa persaudaraan di tengah masyarakat,” jelasnya.
Dalam praktik ritualnya, pemujaan Dewi Kwan Im dilaksanakan melalui rangkaian prosesi yang telah diwariskan secara turun-temurun. Ritual dilakukan secara rutin pada saat piodalan, rahinan Purnama, dan Tilem. Selain itu, terdapat pula ritual yang dilaksanakan sewaktu-waktu sesuai kebutuhan spiritual umat.
Pada saat piodalan, umat terlebih dahulu melaksanakan persembahyangan Hindu sebelum melanjutkan pemujaan di altar Dewi Kwan Im. Sarana persembahan yang digunakan mencerminkan perpaduan budaya Hindu dan Tionghoa, seperti dupa merah, bunga, lilin merah, buah-buahan, teh, arak, telur merah, ronde, manisan, hingga kertas sembahyang kim. Semua sarana tersebut memiliki makna simbolik yang berkaitan dengan doa keselamatan, kemakmuran, dan kesejahteraan hidup.
Menurut Ketut Windu Saputra, tidak ada mantra khusus yang digunakan untuk setiap permohonan yang disampaikan umat. Doa dilakukan sesuai kebutuhan dan harapan masing-masing individu.
“Untuk mantra yang digunakan oleh jro mangku tidak ada mantra khusus untuk masing-masing permohonan yang disampaikan, namun berupa sesontengan,” jelasnya.
Selain memiliki fungsi spiritual, pemujaan Dewi Kwan Im juga memberikan dampak sosial yang besar bagi masyarakat. Aktivitas keagamaan yang berlangsung di pura mampu mempererat hubungan antarwarga, memperkuat solidaritas sosial, dan menjadi ruang perjumpaan bagi masyarakat dari berbagai etnis maupun agama. Bahkan keberadaan Pura Taman Sari kini mulai dipandang sebagai salah satu potensi wisata religi yang memperkaya khazanah budaya Kabupaten Buleleng.
Bagi masyarakat Kampung Baru, keberadaan Dewi Kwan Im di Pura Taman Sari bukan sekadar simbol keagamaan. Lebih dari itu, ia telah menjadi lambang persatuan yang mengajarkan bahwa perbedaan dapat hidup berdampingan dalam harmoni.
Di tengah berbagai tantangan sosial yang muncul di berbagai daerah, praktik toleransi yang berlangsung di Pura Taman Sari menjadi teladan bahwa kerukunan dapat tumbuh ketika masyarakat menjunjung tinggi rasa hormat, kebersamaan, dan nilai kemanusiaan.
“Pura Taman Sari adalah rumah bersama bagi siapa saja yang datang dengan niat baik dan ketulusan hati. Kami berharap tradisi ini tetap lestari dan menjadi inspirasi bagi generasi mendatang dalam menjaga persatuan serta kerukunan,” tutup Ketut Windu Saputra. (dik)
Editor : I Putu Mardika