Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Makna Upakara dalam Lontar Tutur Tapeni: Banten Diibaratkan Tubuh Manusia, Sarana Upakara Saling Melengkapi

I Putu Mardika • Selasa, 30 Juni 2026 | 19:39 WIB
sarana upakara yang dipersembahkan dalam ritual Hindu
sarana upakara yang dipersembahkan dalam ritual Hindu

BALIEXPRESS.ID-Lontar Tutur Tapeni hingga kini masih menjadi rujukan dalam menggali makna sarana upakara. Dalam lontar ini menjelaskan bahwa upakara bukan sekadar susunan janur, bunga, buah, dan sesaji, melainkan sebuah simbol kehidupan yang utuh.

Sarati Banten, Jro Ketut Untara menjelaskan, dalam lontar tersebut, setiap unsur upakara diibaratkan sebagai bagian tubuh manusia. Daksina diposisikan sebagai kepala, berbagai jenis banten menjadi tangan, badan, hingga kaki. Gambaran ini menegaskan bahwa setiap sarana ritual memiliki fungsi dan makna yang saling melengkapi sehingga tidak ada bagian yang dibuat tanpa tujuan.

Dalam petikan lontar disebutkan, "Iki paribasa widhining yadnya luir ipun, yadnya adruwe prabu, tangan, dada muah suku manut manista, madya motama, daksina pinaka hulunia, jerimpen karo pinaka asta karo, sehananing banten ring areping Widhine pinaka angga sahananing palelabanan pinaka suku."

“Kalai kita lihat, sebagaimana tubuh manusia tidak dapat berfungsi apabila salah satu anggotanya hilang, demikian pula setiap unsur dalam upakara memiliki kedudukan dan fungsi masing-masing dalam menyempurnakan persembahan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa,” katanya.

Makna yang diwariskan melalui Lontar Tutur Tapeni memperlihatkan bahwa ritual Hindu sesungguhnya merupakan media pendidikan spiritual. Upakara bukan sekadar perlengkapan upacara, tetapi menjadi sarana membangun kesadaran manusia agar selalu menjaga keseimbangan antara pikiran, perkataan, dan perbuatan.

Ia menambahkan, secara Filosofi hal ini pula yang menjadi dasar mengapa ritual tetap bertahan di tengah berbagai perubahan. Di balik bentuknya yang terus berkembang sesuai desa dresta, nilai yang dikandungnya tetap sama, yakni membangun hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta.

Ritual dalam ajaran Hindu sesungguhnya tidak berdiri sendiri. Ia merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dari Weda, mantra, tattwa, dan etika. Keempat unsur tersebut membentuk fondasi kehidupan beragama sehingga pelaksanaan yadnya tidak berhenti pada aspek seremonial, tetapi menjadi jalan untuk memahami makna kehidupan.

Baca Juga: Menerjang Ombak dari Pulau ke Pulau, Dedikasi Mantri Perempuan BRI Menjaga Akses Keuangan di Wilayah Kepulauan Sulawesi Tengah

“Karena itu, meskipun bentuk upacara di Bali berbeda dengan Jawa, Lombok, maupun daerah lainnya, seluruhnya tetap berpijak pada sastra Weda sebagai sumber utama ajaran Hindu. Perbedaan bentuk hanyalah ekspresi budaya, sedangkan tujuan akhirnya tetap sama, yaitu mempersembahkan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dengan penuh ketulusan,” ungkapnya.

Filosofi tersebut semakin dipertegas dalam Bhagawad Gita Bab III Sloka 14 yang berbunyi, "Annad bhavanti bhutani, parjanyad anna-sambhavah; yajnad bhavati parjanyo, yajnah karma-samudbhavah."

Sloka ini mengajarkan bahwa seluruh makhluk hidup memperoleh kehidupan dari makanan, makanan berasal dari hujan, hujan terjadi karena yadnya, dan yadnya lahir dari karma yang benar. Artinya, ritual bukan hanya menyangkut hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga menjadi bagian dari mekanisme menjaga keseimbangan alam semesta.

Pemahaman tersebut menunjukkan bahwa yadnya sesungguhnya memiliki dimensi ekologis yang sangat kuat. Ketika manusia menjalankan kewajibannya dengan penuh kesadaran, keseimbangan alam akan tetap terjaga.

Nilai ini kemudian berkembang dalam konsep Tri Hita Karana, yakni keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan (parhyangan), hubungan antarsesama manusia (pawongan), serta hubungan manusia dengan alam (palemahan).

Filosofi ini menjadi salah satu alasan mengapa masyarakat Hindu memandang ritual sebagai bagian dari upaya menjaga keteraturan kosmos, bukan sekadar kewajiban keagamaan.

Baca Juga: Permudah Petani Angkut Hasil Perkebunan, BRI Peduli Bangun Jalan Beton di Desa Bebetin

Ia menambahkan, setiap unsur banten merupakan bahasa simbol yang menyampaikan pesan-pesan spiritual. Sirih melambangkan Dewa Wisnu sebagai pemelihara kehidupan, bunga melambangkan kesucian hati, beras menjadi simbol kehidupan, kelapa menggambarkan bhuana agung atau alam semesta, sedangkan uang kepeng melambangkan kemurnian pikiran.

Bahkan jejahitan janur yang dibuat dengan penuh ketelitian merupakan simbol kreativitas manusia dalam mempersembahkan karya terbaik kepada Sang Pencipta. Seluruh simbol tersebut membentuk sistem komunikasi religius yang menghubungkan dunia sekala dan niskala.

Tidak hanya itu, ritual juga memiliki empat fungsi utama dalam kehidupan umat Hindu. Pertama, sebagai sarana konsentrasi. Berbagai simbol keagamaan membantu manusia memusatkan pikiran ketika bersembahyang sehingga hati dan pikirannya lebih mudah terarah kepada Tuhan. Kedua, ritual menjadi sarana pembersihan.

Setiap persembahan yang dihaturkan merupakan ungkapan rasa syukur sekaligus proses membersihkan hati dari sifat-sifat negatif seperti keserakahan, kemarahan, dan keangkuhan.

Ketiga, ritual berfungsi sebagai sarana penyucian, baik melalui penggunaan tirta, prayascita, maupun berbagai bentuk upacara penyucian lainnya yang bertujuan menyucikan bhuana alit dan bhuana agung.

Keempat, ritual memiliki nilai estetika. Keindahan bentuk banten, jejahitan, dan rangkaian upakara bukan sekadar karya seni, melainkan media yang membangkitkan rasa bhakti dan kecintaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Lanjutnya, besarnya biaya upacara, banyaknya jenis banten, atau kemewahan prosesi terkadang dianggap sebagai ukuran keberhasilan yadnya. Bahkan, tidak sedikit keluarga yang rela berutang demi menyelenggarakan upacara besar karena khawatir dinilai kurang menghormati tradisi.

Padahal, sastra Hindu justru mengingatkan bahwa kualitas yadnya tidak ditentukan oleh kemewahan. Bhagawad Gita Bab XVII membagi yadnya menjadi tiga kualitas, yaitu Tamasika Yadnya, Rajasika Yadnya, dan Satwika Yadnya. Satwika Yadnya merupakan yadnya yang dilakukan berdasarkan tuntunan sastra, penuh keyakinan (sraddha), ketulusan (lascarya), tanpa pamrih, serta semata-mata dipersembahkan kepada Tuhan. Nilai inilah yang menjadi inti dari seluruh pelaksanaan ritual Hindu.

Lebih jauh lagi, Bhagawad Gita mengajarkan bahwa yadnya tidak hanya diwujudkan melalui upacara keagamaan. Setiap pekerjaan yang dilakukan dengan tulus sebagai persembahan kepada Tuhan juga merupakan yadnya.

Baca Juga: I Wayan Rediyasa, Pendiri OTC Bali Optimistis Institusi Terus Berkembang

Menghormati orang tua, mendidik anak, menjaga lingkungan, membantu sesama, bekerja dengan jujur, hingga mengendalikan hawa nafsu adalah bentuk-bentuk yadnya yang dapat dilakukan setiap hari. Dengan demikian, ritual sesungguhnya bukan hanya berlangsung di pura atau saat hari raya, tetapi menjadi napas kehidupan yang mengiringi setiap tindakan manusia.

Makna inilah yang menjadikan ritual Hindu tetap relevan hingga sekarang.  Proses membuat banten mengajarkan kesabaran dan ketelitian. Prosesi persembahyangan melatih konsentrasi dan ketulusan. Sementara nilai-nilai yang terkandung dalam yadnya membentuk manusia agar memiliki kepedulian terhadap sesama dan alam sekitarnya.

“Jadi, Lontar Tutur Tapeni mengingatkan bahwa ritual bukan sekadar tradisi yang diwariskan leluhur. Karena setiap janur yang dipersembahkan lewat reringgitan yang indah, bunga yang dihaturkan, dan doa yang dipanjatkan, tentu ajaran tentang kehidupan yang utuh,” tutupnya. (dik)

 

 

Editor : I Putu Mardika
#daksina #upakara #Lontar Tutur Tapeni