Lalu apakah makna ogoh-ogoh dalam upacara ngaben? Menurut budayawan I Gede Anom Ranuara, S.Pd.,S.Sn.,M.Si.,M.Ag., pengarakan ogoh-ogoh dalam upacara palebonan jangan dikaburkan dengan pengarakan ogoh-ogoh pada saat Pangerupukan sebelum Hari Raya Nyepi.
Menurut Guru Anom, cikal bakal ogoh-ogoh berasal dari budaya subak, yang tak lain merupakan pengembangan dari lelakut. Istilah lelakut atau petakut terdapat dalam lontar Pemurug Pantun, yang artinya ruang yang memberi ketakutan.
Petakut biasanya dibuat oleh petani ketika terjadi mrana atau serangan hama. Petakut tersebut berwujud sepasang orang-orangan bernama Rare Angon (laki-laki) dan Rare Ciri (perempuan). “Cikal bakal ogoh-ogoh tersebut, ya petakut itu sendiri,” ungkapnya.
Untuk membuat aktivitas subak itu menjadi magis, maka dibuatlah ritual dengan menggunakan sarana upacara saat menancapkan lelakut tersebut. Penancapannya pun dengan mencari hari baik, biasanya pada hari Kajeng Kliwon.
“Rare Angon identik dengan pikiran yang selalu mengembara. Dari kata inilah membuat budaya ini berkembang sesuai dengan proporsi yang diinginkan desa, kala, patra itu sendiri,” imbuhnya.
Budaya subak dengan menggunakan lelakut Rare Angon dan Rare Ciri ini diadopsi sehingga adanya pengarakan ogoh-ogoh dalam pengabenan. Namun Guru Anom menegaskan, tidak semua pengabenan memakai ogoh-ogoh. Pengarakan ogoh-ogoh hanya dilakukan pada pengabenan Mawangun yang menggunakan bade awin atau Utamaning Mawangun.
Bahkan Mawangun juga dibagi menjadi tiga yaitu, Kanistaning Mawangun, Madyaning Mawangun, dan Utamaning Mawangun. “Utamaning Mawangun sering juga disebut Ngaben Mabade Awin. Sarana-sarana yang digunakan dalam ngaben ini sudah ada dalam sastra Pratatiwan baik dari Yama Purana Tattwa, Yama Purwana Tattwa, Pulutuk Pengabenan dan Lontar Pratatiwan,” ungkapnya.
Dalam sastra yang telah disebutkan, ada sarana-sarana yang harus digunakan dalam Utamaning Mawangun atau Ngaben Mabade Awin. Seperti Angenan, Pisang Jati, Baris Poleng, Gender, dan Gambang “Pengantarnya adalah Guling Penyugjug yang terbuat dari anak babi yang belum dikebiri,” jelasnya.
Biasanya Guling Penyugjug dipanggul oleh satu orang. Karena yang melakukan Ngaben Mabade Awin adalah Sulinggih dan Keluarga Puri yang notabene memiliki banyak sisia dan rakyat, maka dibuatkanlah ogoh-ogoh sebagai sarana penempatan Guling Penyugjug.
“Dengan ogoh-ogoh, maka dapat dibopong oleh banyak orang sehingga memberi ruang kepada masyarakat untuk mengungkapkan rasa baktinya.
Dulu Guling Penyugjug identik dengan Cupak, sehingga ogoh-ogoh pengusung guling dibuat berbentuk Cupak,” paparnya.
Lebih lanjut, Guru Anom menjelaskan, sementara cikal bakal ogoh-ogoh dalam Pengerupukan sebenarnya berasal dari ogoh-ogoh yang digunakan pada saat pengabenan Ngawangun. Ogoh-ogoh saat Pengerupukan merupakan perkembangan era baru sejak tahun 1980-an.
Menurutnya, jika ogoh-ogoh saat Pengerupukan difungsikan untuk Nyomya Bhuta Kala, maka direpresentasikan sebagai raksasa, dan diarak sebelum tawur kasanga. Sebaiknya, jika ogoh-ogoh difungsikan sebagai bhuta yang telah disomya, maka bentuknya adalah dewa. “Bagaimanapun perkembangan dunia harus kita ikuti, tetapi tidak boleh melenceng dari roh ajaran agama Hindu. Kita juga harus tetap mengapresiasi anak-anak muda dalam berkesenian,” tandasnya. Editor : Nyoman Suarna