SINGARAJA, BALI EXPRESS - Kesakralan api membuat selalu digunakan sebagai sarana dalam upacara yadnya bagi umat Hindu di Bali. Sarana upacara api yang diyakini sebagai saksi diwujudkan dalam berbagai bentuk, seperti api dupa, api takep, pasepan dan lainnya.
Berdasarkan sastra-sastra agama Hindu ada beberapa jenis api. Antara lain Api yang ada di dapur, api yang ada pada diri manusia dan api yang ada pada matahari. Ketiga jenis api ini tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan manusia.
Dalam Wedaparikrama 103 disebutkan: “wijil ing dhupa sakeng wisirna, dipa sakeng Ardha candra landepi sembah”, yang artinya: bahwa tajamnya sembah sakti itu (dengan) dhupa yang tercipta dan Wiswa (sarwa alam) dan dipa yang terdiri dan Ardha Candra (bulan sabit) atau dengan istilah lain bahwa terwujudnya cipta pujaan itu akan dapat diintensifkan dengan mempergunakan dhupa dan dipa itu.
Naskah Suci Wedaparikrama 44-45 juga menyuratkan bahwa Penggunaan api sebagai sarana upacara agama juga disebut dengan agni. Peranan api dalam upacara agama sangat penting sekali, seperti: api adalah pengantar upacara yang menghubungkan antara manusia dan Tuhan.
Agni adalah Dewa yang mengusir raksasa dan membakar habis semua mala sehingga menjadikannya suci, Agni adalah pengawas moral dan saksi yang abadi, Agni pula yang menjadi pimpinan upacara Yadnya yang sejati menurut Weda (Wedapanikrama 44-4 5).
Sedangkan Dhupa atau dupa adalah sebagai nyala bara yang berisi wangi-wangian atau astanggi yang dipakai dalam upacara dan untuk menyelesaikan upacara. Dipa adalah api yang nyalanya sebagai lampu yang terbuat dari minyak kelapa, yang merupakan alat penting dalam upacara agama.
Api takep adalah api sebagai sarana upacara dengan nyala bara yang terbuat dan kulit kelapa yang sudah kering atau sabut. Api takep ini biasanya dibuat sedemikian rupa dan dua bilah sabut kening dan pada bagian tengahnya ditaruh api yang telah membara, lalu salah satu bilah sabut itu dicakupkan (ditakepkan) sehingga api menjadi nyala bara.
Kemudian dalam kitab suci Sarasamuscaya sloka 59 disebutkan jenis api yang disebut Sang Hyang Tryangi, sebagai berikut:
“…mangelema amuja ring sang hyang tryangi ngaranira sang hyang apuy tiga, pratyekanira, ahawaniya, garhaspatya, cithyangi, ahawanidha ngaranira apuy ning asuruhan, rumareng I pinangan, garhaspatya ngaranira apuy ning winarang, apan agni, apan agni saksika kramaning winarang I kalaning wiwaha, citagni ngaranira apuy ning manunu sawa, nahan ta sang hyang tryangi ngaranira”
Yang artinya: “....Taat mengadakan pujaan kepada tiga api suci, yang disebut Tryangi: yaitu tiga api suci, perinciannya adalah: ahawaniya, garhaspatya, dan citagni. Ahawaniya artinya api tukang masak untuk memasak makanan. Garhaspatya artinya api upacara perkawinan, itulah api yang dipakai saksi pada waktu perkawinan dilangsungkan. Dan citagni artinya api untuk membakar mayat. Itulah yang disebut tiga api suci ..“
Dan kutipan sloka tersebut menyebutkan tiga jenis api suci yang disebut Tri Agni, antara lain Ahawaniya yaitu api yang dipergunakan untuk memasak, Garhaspatya yaitu api upacara perkawinan, dan Citagni yaitu api yang dipergunakan dalam upacara pembakaran mayat.
Tiga jenis api suci tersebut atau triagni merupakan sarana yang sangat penting dan banyak dipergunakan dalam pelaksanaan upacara agama terutama dalam pelaksanaan Panca Yadnya sesuai dengan jenis dan tingkatan Yadnya serta fungsi dan sarana api dalam upacara agama Hindu.
Editor : I Putu Suyatra