Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Imbas Pandemi, Pelaku Pariwisata Alih Profesi Jualan Nasi Jinggo

Nyoman Suarna • Selasa, 13 Juli 2021 | 14:10 WIB
Imbas Pandemi, Pelaku Pariwisata Alih Profesi Jualan Nasi Jinggo
Imbas Pandemi, Pelaku Pariwisata Alih Profesi Jualan Nasi Jinggo

DENPASAR, BALI EXPRESS – PPKM Darurat dinilai mencekik pedagang kecil, utamanya pedagang yang baru berjualan di jam malam seperti pedagang nasi jinggo. Mulai menjajakan nasinya pada pukul 19.00, salah satu pedagang nasi jinggo di Jalan Hayam Wuruk, mesti menelan ludah, waswas, ketika waktu menunjukkan pukul 20.00 sementara nasi jinggonya belum habis terjual.


Ditemui di lokasi Senin (12/7), Sukarya mengaku, usaha nasi jinggo ini merupakan satu-satunya mata pencahariannya saat ini. Dia yang mantan sopir salah satu jasa transportasi ini mengatakan secara ironi harus ‘banting setir’ semenjak pandemi Covid-19 mewabah. “Saya tidak dirumahkan, tapi memang sudah out system jadi tidak boleh lagi beroperasi. Jadinya jualan nasi jinggo dari Juni 2020 lalu. Mau bagaimana lagi, saya tidak pernah hadir karena sepi tidak ada tamu, jadi tidak bisa bekerja. Apalagi kantor saya di Jimbaran, tidak ada tamu otomatis saya tekor,” keluhnya.


Penghasilannya hanya sekitar Rp 150 ribu sehari, dan uang itu terus berputar agar bisa makan dan tetap berjualan. Itupun, imbuh dia, benar-benar hanya cukup untung uang makan, dan tidak bisa digunakan untuk membayar utang. Untuk makan saja, bayar utang tidak bisa. Ini saja kredit motor tidak bisa bayar sampai berulang kali dicari ke rumah,” akunya.


Dari 35 bungkus nasi yang dibawanya, tidak jarang ia harus membawa pulang setengahnya sejak penerapan PPKM Darurat ini. “Sering sisa, bahkan pernah terjual hanya tujuh bungkus saat sepi-sepinya, sisanya bawa pulang itu sudah rugi sekali,” kata laki-laki asal Negara ini.


Sebelum PPKM, Sukarya normalnya berjualan sampai dagangannya habis atau sekitar pukul 00.00 sampai 02.00 Wita. Tapi setelah PPKM, ia harus pasrah saat melihat Satpol PP datang yang menjadi ‘alarm alami’nya menutup dagangannya.


“Saya orangnya tidak bisa ngelawan, jadi kalau Satpol PP datang disuru tutup ya saya tutup, pulang, daripada diangkut semua,” katanya diselingi tawa getir.


Disinggung mengapa tidak berjualan lebih awal, dirinya mengaku takut nasi jinggonya lekas basi. “Kalau dari selid takutnya basi. Nasinya sudah saya siapkan dari pukul 18.00, tapi masih kuat sih. Biasanya kalau nggak habis terjual saya dan keluarga yang makan. Susah, mudah-mudahan (Covid-19) segara berlalu,” harapnya.


Demikian juga yang dialami Suteja, mantan pelaku pariwisata ini harus beralih profesi dari guide menjadi pedagang nasi jinggo. Kendati istrinya juga membantu menafkahi keluarga, Suteja mengaku, di tengah kondisi sulit ini tidak bisa hanya mengandalkan salah satu saja. “Ini saya baru jualan awal tahun 2021. Saya tidak bisa hanya diam saja menonton istri saya bekerja. Setidaknya ini menambah sedikit penghasilan, bisa pakai beli beras dan lauk,” katanya.


Dirinya mengungkapkan, selama enam tahun bekerja sebagai guide, pandemi Covid-19 adalah kondisi perekonomian terparah yang dialaminya. Sambil menghela napas berat, Suteja menuturkan, tak pernah dibayangkan keadaan menjadi seburuk ini. Bahkan, tabungannya nyaris terkuras habis untuk menutup kebutuhan dan bayar utang sana-sini.


“Habis semua sampai tabungan saya hampir ludes. Ini saja sama istri masih mempertimbangkan mau kembali ke kampung di Karangasem atau tetap di Denpasar. Setidaknya di desa masih bisa bertani,” jelasnya.


Kemudian, muncul penerapan PPKM Darurat, yang memperparah kondisinya. Sambil berkaca-kaca, Suteja mengatakan, anak pertamanya bahkan rela berhenti kuliah agar bisa membantu keluarga. “Anak saya sampai bilang mau berhenti saja, karena memang bayar kuliah juga sulit, tapi saya larang karena anak pertama juga tidak boleh sampai berhenti,” tegasnya. Maka dari itu, bagaimana pun sulitnya, ia akan berusaha semampunya untuk menafkahi keluarga.(ika)


 

Editor : Nyoman Suarna