Gusti Mangku Rupa, petani asal Desa Catur, menyebutkan bahwa harga kopi itu terbilang mahal, apabila dibandingkan tahun lalu yang mengawali panen dengan harga sekitar Rp 6 ribu per kg, dan harga tertinggi Rp 10 ribu kala itu. Ia memperkirakan harga saat ini masih bisa naik hingga puncak panen Juni-Juli nanti. Perkiraan itu berdasarkan pengalaman musim panen sebelum-sebelumnya yang hampir selalu mengalami kenaikan harga. “Sebagai petani, harapannya terus naik,” harapnya.
Hanya saja, sebut Gusti Mangku Rupa, panen tahun ini tidak sebanyak tahun 2021. Hal itu terjadi karena sering diguyur hujan saat tumbuh bunga, sehingga produktivitas tanaman kopi menurun. Penurunan ini juga diperkirakan menjadi salah satu pemicu harga tinggi. “Penyebab naik, salah satunya karena produktivitas turun,” jelasnya, Selasa (19/4).
Di tempat terpisah, Nengah Dawa, petani di Dusun Kayu Kapas, Desa Kintamani mengakui produktivitas kopi menurun tahun ini. Masalahnya sama seperti yang disampaikan Gusti Mangku Rupa. Syukurnya bisa diobati dengan harga kopi yang terbilang bagus mengawali panen tahun ini. “Kemarin 1 kilogram saya jual dengan harga Rp 11 ribu. Ini termasuk mahal,” terang pria yang juga bendesa ada Kayu Kapas ini. Dawa pun berharap harga kopi terus mengalami kenaikan. Editor : I Made Mertawan