Lahir di Denpasar pada 8 Agustus 1985, Ary menempuh pendidikan dasar hingga menengah di kota kelahirannya. Setelah itu, ia melanjutkan studi ke STIE Isti Ekatana Upaweda Yogyakarta dan lulus dengan predikat cumlaude.
Gelar Magister Manajemen Pemasaran diperolehnya dari Universitas Teknologi Yogyakarta, juga dengan pujian. Ia kemudian menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Udayana dengan IPK 3,97, sebuah pencapaian akademik yang mengesankan.
Sebagai akademisi, Dr. Ary aktif meneliti isu-isu sosial ekonomi, pariwisata berbasis budaya lokal, serta pengembangan UMKM. Dalam lima tahun terakhir, ia menerima beberapa hibah penelitian dari DIKTI dan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama RI.
Fokus risetnya seputar aktualisasi nilai-nilai Pancasila di masyarakat Bali Aga, digitalisasi UMKM, hingga pengembangan desa wisata dengan pendekatan Tri Kaya Parisudha.
Selain meneliti, ia juga produktif menulis buku. Beberapa karyanya seperti “Manajemen Pemasaran,” “Bauran Pemasaran,” dan “Pengembangan Model Niat Berkunjung Kembali ke Desa Wisata Buleleng Bali” menjadi rujukan penting bagi mahasiswa dan praktisi. Buku-buku ini menunjukkan kepiawaiannya dalam mengaitkan teori manajemen dengan praktik di lapangan.
Prestasi akademiknya juga tidak sedikit. Ia pernah menjadi 3rd Best Presenter pada International Conference on Financial Forensics and Fraud tahun 2019, masuk 10 besar Lomba Wirausaha Muda Universitas Udayana 2020, dan dinobatkan sebagai Dosen Berprestasi dalam Kompetisi Hibah Penelitian Direktorat Jenderal Bimas Hindu 2024.
Selain itu, Dr. Ary juga sering menjadi narasumber nasional dalam berbagai webinar kewirausahaan dan pemasaran digital di beberapa kampus.
Namun, kiprahnya tidak berhenti di dunia akademik. Di luar kampus, Dr. Ary aktif mengembangkan sejumlah bisnis yang menggabungkan nilai sosial dan ekonomi.
Ia adalah pendiri Anindya Souvenir Denpasar dan FamilyA Group, yang menaungi beberapa usaha seperti FamilyA Honey Bali, FamilyA Markisa, dan FamilyA Catering.
Semua usaha ini lahir dari kepeduliannya terhadap mahasiswa dan anak disabilitas yang kesulitan ekonomi.
Kepada Bali Express Jawa Pos Group, Ary menceritakan jika kisahnya bermula tahun 2013, saat Ary melihat beberapa mahasiswa dan anak disabilitas membuat kerajinan tangan sederhana untuk membantu orang tua mereka.
Produk mereka berupa karet rambut, gantungan kunci, gelang, dan selendang lukis dari kain perca. Melihat potensi tersebut, Ary membantu memasarkan produk-produk itu kepada teman-temannya.
“Nah, ternyaka tak disangka, respons masyarakat sangat positif, terutama dari mereka yang sedang menyiapkan pernikahan,” ujarnya.
Pesanan dalam jumlah besar mulai berdatangan. Melihat peluang itu, pada tahun 2014, Ary resmi mendirikan Anindya Souvenir Denpasar di Jalan Pattimura.
Nama “Anindya” dipilih bertepatan dengan kelahiran anak pertamanya. Usaha kecil itu kini berkembang menjadi puluhan pengrajin yang rutin memproduksi berbagai souvenir, tak hanya untuk acara pernikahan, tetapi juga untuk hotel, vila, dan restoran di kawasan Renon, Sanur, dan Nusa Dua.
Tidak hanya fokus pada bisnis, Ary juga tetap membuka kesempatan kerja bagi mahasiswa dan anak disabilitas.
Mereka dilibatkan sebagai admin toko maupun tenaga produksi, sambil mendapat pelatihan keterampilan.
Ketika pandemi COVID-19 melanda Bali pada 2020, banyak sektor ekonomi terpuruk. Namun bagi Ary, krisis justru menjadi peluang untuk berinovasi. Ia mulai mengembangkan FamilyA Group, yang memproduksi madu kele trigona dan olahan markisa sebagai produk kesehatan alami.
Awalnya, budidaya lebah tidak berjalan lancar. Selama enam bulan pertama, ia mengalami gagal panen karena kesalahan pemeliharaan dan minimnya pakan alami.
“Enam bulan pertama, gagal panen madu karena beberapa faktor kesalahan saat pemeliharaan lebah terutama terkait pakan. Pakan berupa tumbuh-tumbuhan yang disukai oleh lebah sebagai pakan utama masih minim tersedia di kebun tempat saya memelihara koloni lebah, dari sinilah akhirnya terpikirkan untuk mencari tumbuhan yang bunganya disukai lebah, di sisi lain buah dari tumbuhan tersebut juga bisa dikonsumsi untukkesehatan, jadi double manfaat,” ungkapnya.
Dari itulah, muncul ide untuk menanam markisa, tanaman yang disukai lebah sekaligus menghasilkan buah bergizi tinggi.
Dari kebun kecil seluas 3-4 are, lahirlah dua produk unggulan: FamilyA Honey Bali dan FamilyA Jus Markisa. Tak lama kemudian, muncul pula FamilyA Sirup Markisa karena permintaan pelanggan meningkat saat dijual di Car Free Day Lapangan Renon sejak 2022.
Usaha ini tidak hanya berorientasi profit, tetapi juga memberdayakan masyarakat. Karyawan yang terlibat sebagian besar adalah mahasiswa dan anak disabilitas yang dilatih agar memiliki jiwa wirausaha dan kemandirian.
Dari kegiatan ini, Ary ingin menanamkan semangat bahwa berwirausaha bisa dimulai dari hal sederhana, dari lingkungan sekitar dan hobi yang digeluti.
Menurutnya, keberhasilan usaha bukan hanya soal modal besar, melainkan soal manajemen keuangan dan strategi yang matang. Prinsip ini yang membuat Anindya Souvenir dan FamilyA Group tetap bertahan bahkan berkembang.
Kini, beberapa investor mempercayakan Ary untuk mengelola kebun markisa di berbagai lokasi di Bali melalui sistem kemitraan yang saling menguntungkan.
Sebagai dosen di Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Denpasar, Ary sering diundang menjadi pembicara dalam pelatihan kewirausahaan di lembaga perbankan dan kampus di berbagai daerah. Ia percaya, wirausaha masa kini bukan sekadar mencari keuntungan, melainkan menciptakan nilai sosial melalui inovasi dan empati.
“Menjadi wirausahawan berarti siap menjadi agen perubahan. Tentu, dapat memadukaninovasi, teknologi, dan nilai kemanusiaan agar bisnis tidak hanya untung, tapi juga membawa manfaat bagi masyarakat,” pungkasnya. (dik)
Editor : I Putu Mardika