Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

I Gusti Ngurah Rai Sidhicarya, 98; Pejuang asal Puri Anom Tabanan (1)

I Putu Suyatra • Selasa, 15 Agustus 2017 | 17:05 WIB
Photo
Photo

BALI EXPRESS, TABANAN - Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-72 tinggal sebentar lagi. Berbagai kegiatan digelar untuk memperingati hari yang sangat bersejarah bagi Bangsa Indonesia ini. Di luar itu, semestinya peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-72 tak sekadar euphoria semata. Namun juga momen untuk menghargai dan menghormati jasa para pahlawan dan pejuang yang telah berjasa bagi Bangsa. Seperti halnya sosok pejuang asal Tabanan yang satu ini.


Momentum Hari Kemerdekaan RI setiap tahunnya memang sangat tepat apabila digunakan untuk senantiasa mengenang, menghargai dan menghormati jasa para pahlawan dan pejuang yang pada jaman dulu telah berhasil meraih dan merebut Kemerdekaan dari tangan penjajah. Namun tidak bisa dipungkiri, para generasi muda saat ini masih sangat minim pengetahuannya tentang tokoh-tokoh pahlawan dan pejuang yang banyak berjasa bagi Bangsa Indonesia.


Mungkin belum banyak yang mengetahui jika salah seorang sosok Pejuang yang dulu bertempur mempertahankan kemerdekaan RI ada di Tabanan, dan hingga saat ini masih bisa menceritakan dengan jelas pengalamannya meskipun dengan sedikit terbata-bata karena usianya yang tak lagi muda.


Dia adalah I Gusti Ngurah Rai Sidhicarya, 98. Pria kelahiran Tabanan, 21 Februari 1919 itu merupakan satu-satunya pejuang asal Bali yang terlibat dalam Pertempuran Lengkong di tahun 1946, atau satu tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan RI dikumandangkan. Dimana dalam pertempuran tersebut Mayor Daan Mogot bersama 36 orang lainnya gugur dalam pertempuran melawan tentara Jepang saat hendak melucuti senjata di Hutan Lengkong, Tangerang, namun pria asal Puri Anom Tabanan ini selamat.


Berbagai penghargaan pun ia dapatkan atas dedikasinya yang terlibat langsung dalam berbagai pertempuran di kesatuan Siliwangi, termasuk penghargaan dari Presiden Republik Indonesia pertama, Ir. Soekarno.


Di usianya yang sudah sangat senja, Rai Sidhicarya masih bisa menceritakan pengalamannya ketika ia masih muda dulu. Kepada Bali Express (Jawa Pos Group), ia menuturkan jika sejatinya ia tak pernah menyangka bisa menjadi seorang Tentara Republik Indonesia kala itu. Terlahir menjadi keturunan bangsawan tidak membuat dirinya sombong. Bahkan Rai panggilan akrabnya mampu beradaptasi dengan golongan mana saja dan banyak memiliki teman.


“Pada umur 10 tahun saya mulai bersekolah di Sekolah Dasar Lanjutan selama 5 tahun. Setelah tamat saya bekerja di Rumah Sakit Wangaya di tahun 1934,” ujarnya ketika dikunjungi di kediamannya di Jalan Hasanudin, Nomor 11 A, Banjar Dangin Carik, Tabanan.


Perjalanannya dimulai ketika di tahun 1937 ia mendapatkan tawaran untuk melanjutkan pendidikan keperawatan di Rumah Sakit Central Burgerlijke Zieken Huis (RS. CBZ) di Batavia (Jakarta) oleh Kepala Rumah Sakit Wangaya saat itu. Tawaran itu pun tak ia sia-siakan meskipun sempat dilarang oleh orang tuanya.


“Lalu di tahun 1938 akhirnya saya berangkat ke Batavia bersama 12 orang lainnya dari Tabanan untuk bersekolah di RS CBZ. Sebelum berangkat saya dihadiahi cincin emas permata indah oleh nenek saya. Cincin itulah yang selalu saya pakai termasuk saat saya menjadi prajurit Siliwangi dan bertempur melawan tentara Belanda maupun Jepang,” paparnya.


Akhirnya pada bulan November 1945, Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan seruan yang ditujukan kepada para pemuda Indonesia untuk menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang membuat dirinya tergerak untuk mendaftar hingga akhirnya diterima dengan pangkat Sersan.


Selanjutnya Rai pun bergabung dalam Akademi Militer angkatan pertama dengan lama pendidikan 5 bulan di Tangerang di bawah kepemimpinan Mayor Daan Mogot.


“Saya menjadi TKR dan meneruskan ke Militer Akademi Tangerang (MAT) bukan sekadar untuk mendapatkan pangkat atau kedudukan tinggi, namun semata-mata untuk berdharma bakti turut berjuang untuk membela kemerdekaan Negara dan Bangsa,” tegas Rai Sidhicarya.


Menurut Rai, pendidikan di Militer Akademi Tangerang (MAT) bukan lah hal yang mudah karena sangat berat dan keras, seperti apa kisahnya ? 

Editor : I Putu Suyatra
#tabanan