BALI EXPRESS, UBUD - Putra Sang Proklamtor Soekarno, Guruh Soekarno Putra tak kuasa menahan haru saat pementasan palegongan di Ubud, Senin malam (29/8). Sebuah tarian yang dia ciptakan bersama maestro Tari Legong AA Oka Dalem kini menjadi tari persembahan yang disakralkan. Padahal, dia sendiri sudah agak lupa dengan tarian tersebut.
Pentas pelegegongan dan kekebyaran yang digelar Sanggar Balerung, Peliatan, Ubud pada Senin malam (29/8) di Balerung Peliatan benar-benar menjadi pentas akbar dan penuh nostalgia. Pasalnya sederet maestro seni pelegongan dan kekebyaran hadir dalam pementasan bersama para penikmat dan pengamat. Bahkan Guruh Soekarno Putra turut larut dalam pementasan ini. Tidak itu saja. Dia juga ikut tampil mekendang guna mengiringi Tari Legong Sri Sedana. Untuk diketahui, Tari Legong Sri Sedana adalah tarian persembahan sakral yang diciptakannya dan digarap bareng maestro Tari Legong AA Oka Dalem.
Dalam pementasan yang melibatkan dua gong mebarung yakni Sekaa Gong Kebyar Genta Buana Sari dan Sekaa Gong Semara Pagulingan Tirta Sari, sederet tarian dipentaskan dengan apik. Seperti Tari Persembahan Legong Sri Sedana, Tari Kebyar Terompong, Kebyar Duduk, serta Legog Lanang Nandira. Namun yang tak kalah memukau, bagaimana penampilan para maestro tari pelegongan dan kekebyaran, yakni AA Bagus Mandera Erawan dan AA Oka Dalem yang turut menunjukkan “sihir” menarinya, bersama dengan para penari pelegongan generasi terbaru Peliatan.
Pada pagelaran malam kemarin, maestro AA Bagus Erawan tampil dengan Tari Kebyar Duduk, yang berkolaborasi dengan generasi terbarunya. Penampilan selanjutnya berupa Tari Legong Sri Sedana, yang memang menjadi maskot dalam pertunjukkan malam itu. Terlebih Guruh Soekarno Putra sebagai pencipta tarian ini turut mengiringinya dengan duduk sebagai tukang kendang.
Tak ayal, pementasan tarian yang memang ditampilkan hanya sebagai persembahan saat upacara besar di pura ini membuat penonton seakan larut dalam tarian tersebut.
Usai pementasan Tari Legong Sri Sedana, pertunjukkan dilanjutkan dengan Tari Terompong yang dipersembahkan sang maestro AA Gde Oka Dalem. Meski sudah tergolong senior, sang maestro mampu menari dengan gesit. Sedangkan sebagai pementasan terakhir yakni pementasan Tari Legong Lanang Nandira. Sebuah tarian yang melibatkan penari laki-laki, namun bergerak tak kalah gemulai dengan seorang perempuan.
Melihat penampilan apik para seniman, dan tari-tarian yang ditampilkan, sederet seniman dan maestro pun menyampaikan apresiasinya. Mulai dari Guruh Soekarno Putra, Bulantrisna Djelantik, para panglingsir Puri, serta penikmat pelegongan.
Bahkan Guruh Soekarno Putra tak kuasa menahan haru. Terlebih dirinya sendiri tak menyangka, Tari Legong Sri Sedana yang digarapnya bersama AA Gde Oka Dalem menjadi tari persembahan.
Dijelaskan, meski bentuk tarian ini Tari Bali, tapi memiliki konsep keragaman. Lantaran iringan lagu tarian ini memadukan beberapa daerah seperti Pasundan dan Bali. Tak hanya itu, koreografi yang dia ciptakan bersama Oka Dalem, memetik unsur-unsur gerakan Tari Legong Lasem, Rejang, tarian Jawa, Melayu, hingga gerakan tari yang terdapat pada relief candi Hindu-Budha, tapi tanpa keluar dari pakem Legong.
“Sejatinya saya sendiri sudah sedikit lupa. Tapi justru penari dan penabuh di Peliatan ini dengan intens merawat. Bahkan tarian ini disakralkan di Peliatan. Saya sangat terharu, khususnya kepada adik-adik penari yang begitu menjiwai,” terangnya.
AA Gde Oka Dalem menambahkan pentas pelegogan dan kekebyaran ini bertajuk A Tribute to Pura Masceti Gunung Sari. Sebab pentas ini menjadi penggalian dana untuk pembangunan wantilan, serta punia odalan Pedaanan di Pura Masceti Gunung Sari, Peliatan.
“Khusus untuk Tari Legong Sri Sedana, kali ini kami tampilkan dengan sedikit pembatasan. Sehingga nilai-nilai ritualnya tidak kami tampilkan. Sebab tarian ini selama ini memang kami persembahkan khusus saat piodalan besar di pura-pura,” terangnya. Selain itu, pagelaran ini juga sebagai wujud ungkapan penghormatan dan rasa terima kasih atas semua ilmu dan pengalaman yang telah diberkahi.
Editor : I Putu Suyatra