Pelanggan Mek De rata-rata pasti mengucurkan keringat usai menyantap sate gurita buatannya. Apalagi rawon gurita yang segar dan pedas. Bikin penikmatnya semriwing. Banyak yang minta sate plecing, tapi bumbu kuning tetap diandalkan.
AGUS EKA PURNA NEGARA, Karngasem
WARUNG makan sate gurita "Mek De" sudah ada 30 tahun lebih. Sejak awal berjualan di pinggir jalan, Mek De yang bernama asli Ni Made Ririp, ini meracik bumbu sate dan makanan lainnya seorang diri. Meski saat ini sudah dibantu tiga orang tenaga, Mek De masih kerap turun tangan.
Wanita 60 tahun itu mengaku tetap pertahankan cita rasa sejak awal buka warung. Olahan daging gurita itu diracik dengan bumbu dasar kuning khas Bali. Biasanya disebut basa genep. Mek De mengaku, sate gurita dengan bumbu kuning sudah jadi ciri khas di Karangasem. Sehingga urusan sate gurita di Karangasem, orang pasti sebut warung Mek De.
Diakui, banyak yang telah membuka warung makan yang sama di sekitarnya. Karena cita rasa yang dipertahankan, Mek De mengaku tak kehilangan pelanggan. "Saya ingat siapa saja pelanggan saya. Itu yang sering datang. Yang baru pertama kali ada juga. Mereka semua penasaran dengan bumbunya," tutur Ririp ditemui Bali Express (Jawa Pos Group), Minggu (9/5).
Tidak heran, warung yang berlokasi di Banjar Merita, Desa Laba Sari, Kecamatan Abang, Karangasem, itu selalu ramai. Entah itu dipadati orang lokal, atau wisatawan asing. Mek De mengaku selalu diminta untuk membuat olahan gurita dengan bumbu plecing. Alasan pelanggan agar ada varian lain.
Tapi Mek De mengaku ogah. Sebab dirinya belum mampu menggarapnya. Meski ada tiga orang yang membantu, Mek De tetap kewalahan. Sebab urusan meracik bumbu, dia jarang menyerahkan pekerjaan ke orang lain. Tenaga lainnya difokuskan untuk pekerjaan lain di warung. "Jadinya bumbu yang sama dipakai untuk semua makanan. Kalau bikin plecing, harus perlu waktu lama," ungkapnya dengan Bahasa Bali.
Agar pelanggan tak bosan, Mek De juga menghidangkan rawon gurita. Kuahnya yang pedas membuat lidah penikmatnya segar. Mek De menawarkan varian sate gurita plus rawon dan pepes ikan. Sebagai teman menu, pembeli dapat memilih sepiring nasi atau ketupat. Satu porsi lengkap dihargai Rp 30 ribu.
Mek De sengaja menghidangkan rawon pedas. Karena itu, sebanyak 2,5 hingga 3 kg cabai dihabiskan tiap hari. Dirinya mengaku tidak pernah mengurangi salah satu bahan takaran meski harga bumbu melonjak di pasaran. Untuk daging gurita, dia berlangganan dari pengepul daging gurita di seputar Karangasem dan Buleleng.
Saking larisnya, Ririp menghabiskan 50 sampai 60 kg daging gurita dengan harga Rp 60 ribu per kilogram. Semua diolah jadi sate dan rawon. "Sebelum pandemi, wih rame. Betul-betul ramai. Sekarang orang jarang jalan-jalan, stoknya sedikit. Paling habis 20 kilo daging (gurita)," pungkasnya.
Editor : I Putu Suyatra