Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

33 Persen Perempuan di Bali Beresiko Menderita Osteoporosis

Nyoman Suarna • Senin, 7 Juni 2021 | 14:28 WIB
33 Persen Perempuan di Bali Beresiko Menderita Osteoporosis
33 Persen Perempuan di Bali Beresiko Menderita Osteoporosis

DENPASAR, BALI EXPRESS- Kementerian kesehatan republik Indonesia menyebutkan kasus osteoporosis di Indonesia menjadi salah satu penyakit yang berbahaya dan kaum perempuan lebih beresiko terkena penyakit ini jika dibandingkan dengan laki-laki. Seperti apa penyakit ini dan bagaimana pencegahannya?


 


Konsultan Reumatologi dr. Ida Ayu Ratih Wulansari Manuaba, SpPD-KR, menyebutkan sejak 10 tahun terakhir ini, kasus osteoporosis di Bali angkanya mengalami peningkatan per tahunnya. "Jika dilihat dari persentase, 33 persen wanita lanjut usia, 28 persen laki-laki. Ini bukan angka yang kecil karena jumlahnya rentan bertambah setiap tahunnya," jelasnya.


 


Osteoporosis adalah penyakit tulang, bukan sendi, atau pengeroposan tulang yang ditandai dengan kepadatan tulang rendah dan arsitektur tulang yang semakin menipis. Selain itu, tulang yang terkena osteoporosis susunan tulangnya berongga sehingga rentan patah, dan ketika sudah patah, sangat sulit untuk diperbaiki. Sifat dari osteoporosis ini adalah penyakit tulang yang menggerogoti pasiennya secara perlahan atau silent deases. 


 


Osteoporosis bisa terjadi ketika memasuki umur 50 tahun, kaum perempuan menjadi kaum yang lebih rentan menderita osteoporosis karena dipengaruhi oleh hormon esterogen yang tidak diproduksi lagi ketika kaum perempuan memasuki masa menopause. 


 


Selain itu, ketika sudah berusia 50 tahun, proses penggerusan tulang pada perempuan terjadi lebih cepat dibandingkan dengan laki-laki. Perempuan menjadi rentan menderita osteoporosis karena struktur tulang dan kepadatan tulang perempuan lebih kecil dibandingkan laki-laki.


 


Penggerusan tulang ini, diakui dr. Ratih terjadi secara alami. "Tetapi ketika perempuan berusia 50 tahun proses pertumbuhan tulang menjadi lebih lambat karena produksi hormon esterogen sudah tidak ada lagi, sehingga tulang tidak bisa tumbuh dengan baik, hal inilah membuat tulang berongga dan rentan terjadi pengeroposan," urainya.


 


Penyakit ini menurut dr Ratih bisa dicegah, caranya? Ketika memasuki 30 tahun pertama, perempuan harus menabung masa tulang dengan asupan vitamin D dan kalsium. Sebab pertumbuhan tulang akan terhenti pada usia 30 tahun. Setelah itu, akan terjadi penurunan masa tulang secara berangsur. Kemudian, perempuan akan mengalami menopause yang meningkatkan osteopenia dan osteoporosis. 

Editor : Nyoman Suarna
#perempuan bali