Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kisah Kehidupan Hendrik, Juru Parkir Dwarfisme di Bali yang Pernah Syuting Film Bareng Ruben Onsu

Rika Riyanti • Minggu, 5 November 2023 | 17:28 WIB
Hendrik Sari Kusbiantoni, salah satu juru parkir di Denpasar, Bali yang miliki proporsi tubuh ‘spesial’ pernah syuting bareng Ruben Onsu.
Hendrik Sari Kusbiantoni, salah satu juru parkir di Denpasar, Bali yang miliki proporsi tubuh ‘spesial’ pernah syuting bareng Ruben Onsu.

DENPASAR, BALI EXPRESS- Sekitar 16 tahun lalu, Hendrik Sari Kusbiantoni, 62,  memulai profesinya sebagai juru parkir di Kota Denpasar, Bali.

Memiliki proporsi tubuh yang ‘mungil’ atau kerdil (dwarfisme), tak menggentarkan nyali Hendrik sebagai juru parkir.

Seperti juru parkir pada umumnya, Hendrik berpakaian biru, topi cokelat yang tampak usang, tas hitam menggantung, dan peluit, atribut lengkapnya saat bekerja. Ada juga sepeda kecilnya yang siap mengantarnya ke mana saja.

Pekerjaan sebagai juru parkir, kata Hendrik, diterima saat tengah memancing ikan. “Akhirnya dapat tawaran kerja, parkiran, ya bersyukur. Selain parkiran juga ada, kadang-kadang syuting film. Ada saja yang diberi. Dulu syuting film sama Ruben Onsu, dan lain-lain,” ungkapnya saat ditemui di tempatnya bertugas, Jalan Diponegoro, Denpasar, Bali Sabtu, 4 November 2023.

Menurut Hendrik, ia ‘terdampar’ di Bali sejak tahun 1990-an. Di Pulau Dewata ini, ia tinggal dan berjuang sendiri di Denpasar.

Meski tubuhnya kecil, pria asal Medan ini mengaku, tidak takut menjadi juru parkir. Terpenting kata dia, bisa menjaga, mengendalikan dan waspada.

Hingga saat ini, ia tidak pernah mengalami kejadian yang tak diharapkan seperti tertabrak dan sejenisnya. Kendati demikian, ia mengaku menjadi juru parkir cukup melelahkan.

“Ada sedihnya sedikit, tapi ya sudah jalani. Jadi tukang parkir itu lebih banyak capeknya, lari sana lari sini. Namanya uang memang harus dicari. Yahh sampai sejauh ini saya bersyukur menjalani profesi ini,” ungkapnya.

Hendrik biasanya bekerja dari pukul 09.00-21.00 Wita jika mendapat sif penuh. Sedangkan 09.00-15.00 Wita jika setengah hari.

Dalam seharinya, ia bisa mengantongi Rp30-50 ribu pendapatan sebagai juru parkir. Itupun, sebut dia, mesti disetor juga ke PD Parkir Kota Denpasar.

“Tapi tergantung. Paling banyak Rp 60 ribu, tidak sampai Rp100 ribu. Ini pembagiannya persentase. Sekarang pendapatannya menurun karena suasana Covid-19, dulu masih oke,” tuturnya.

Namun selain dari pendapatannya sebagai juru parkir, rezeki dikatakannya datang dari berbagai arah.

Ada saja orang-orang baik datang yang memberikannya bantuan baik berupa sembako ataupun uang.

 “Ada yang ngasi bantuan, saya bukan ngemis, ada yang ngasih bantuan,” tegasnya.

Ia tak menampik saat disinggung terkait adakah orang yang meremehkan profesinya.

Menurunya, meremehkan artinya sama dengan orang iri, sirik, dengki. Memang, kata dia, ada saja orang yang tidak menyukainya karena tubuh mungilnya sebagai juru parkir, tapi di sisi lain, banyak orang mengapresiasi.

“Intinya, semua sudah ada rejeki masing-masing atas kehendak yang di Atas. Yang penting hidup itu harus menjalankan tugas, bahagia, walaupun tidak ada orang di kanan-kiri seperti istri dan anak,” katanya.

Terpenting, tutur dia, hidup harus dijalani dengan ikhlas dan bahagia. Jalani hidup sesuai dengan garis yang sudah ditakdirkan. “Ya intinya bersyukur,” tandasnya. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
#bali #juru parkir #denpasar #ruben onsu #dwarfisme