Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Pria di Buleleng Bali Ubah Sampah Plastik Jadi Barang Seni dan Bernilai Jutaan Rupiah

Dian Suryantini • Rabu, 3 Januari 2024 | 14:01 WIB
Komang Sudiarta, warga Buleleng, Bali menunjukkan karya seni dari sampah plastik.
Komang Sudiarta, warga Buleleng, Bali menunjukkan karya seni dari sampah plastik.

SINGARAJA, BALI EXPRESS - Sampah plastik yang biasanya tidak bernilai menjadi salah satu teman Komang Sudiarta.

Dalam kesehariannya, warga dari Desa Tejakula, Buleleng, Bali itu berkutat dengan sampah plastik.

Di tangan Sudiarta, sampah plastik berubah menjadi barang bernilai seni. Sudiarta tetap berkarya meski kondisinya tidak seperti dahulu.

Ia sempat mengalami kecelakaan hingga membuat bagian tangannya cedera. Kendati demikian, ia tidak patah semangat.

Sampah yang semula kotor menjadi apik dan memiliki karakteristik. Tak jarang pula hasil kreasi sampah plastik itu mendatangkan pundi-pundi rupiah. 

Penghasilan yang didapatkan Sudiarta pun digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Sampah-sampah yang dikreasikan itu berasal dari rumah-rumah tetangganya. Hampir 2,5 tahun ia menjadi pembuat karya seni dari sampah. 

"Ini dimulai sejak pandemi Covid-19. Atas saran dari Pak Camat Gede Suyasa, jadi saya coba jalankan," kata Sudiarta, Selasa, 2 Januari 2024.

Di balik terampilnya tangan Sudiarta dalam menyulap sampah-sampah itu, ia juga memiliki hobi melukis.

Kegemarannya itu tumbuh sejak duduk dibangku sekolah dasar. Ia pun menekuni dunia lukis selama 7 tahun. Perlahan ia mulai mencoba berteman dengan sampah plastik.

Awalnya merasa canggung untuk membuat karya seni berupa topeng dan miniatur patung dari kertas bekas dan sampah plastik.  

"Saya ragu, karena sebelumnya saya pelukis dna belum pernah membuat karya yang lain. Akhirnya karena ada dukungan juga dari keluarga ya saya coba," ujarnya. 

Dalam keragu-raguan itu tidak lupa ia memohon doa restu kepada Tuhan. Hatinya ia teguhkan hingga pesanan miniatur patung dari sampah plastik berjalan sesuai harapan. 

"Kalau untuk bahannya saya dapat dari tetangga dan ada juga yang dibeli dengan harga murah," terang pria kelahiran 1984 ini. 

Perjalanan pembuatan karya seni dari sampah plastik ini tidak selalu berjalan mulus. Adakalanya Sudiarta terpentok ide dan tema karya yang akan dibuat.

Namun sekali lagi ia menguatkan diri dengan bersembahyang serta motivasi keluarga. 

"Saat saya buntu saya minta pertolongan kepada Tuhan. Saya curhat ke keluarga dan astungkara setelahnya akan muncul ide untuk berkarya," kata dia. 

Selain miniatur patung ada sejumlah pesanan lain yang biasanya diminta pelanggan mulai dari logo, topeng, dan souvernir lainnya.

Biasanya ia buat barang-barang itu di rumah usai  berjualan bubur bersama sang istri di depan Kantor Camat Tejakula setiap pagi.

Harga yang ditawarkan bervariasi tergantung jenis karya, ukuran karya dan tingkat kesulitan selama proses pengerjaan pesanan yang diminta pelanggan.

Dirinya mencontoh misalnya seperti miniatur patung dan logo berkisar di harga Rp1,5  juta sampai Rp3 jutaan tergantung ukurannya.

Lalu topeng berkisar dari harga Rp100 ribuan tergantung tingkat kesulitannya.

"Selama ini pesanan memang tidak menentu dan beberapa datang dari instansi disekitar Kecamatan Tejakula, memang ini hanya sebagai pekerjaan sampingan usai berjualan bubur tapi ini bagi saya membantu dalam menambah kebutuhan sehari-hari kami," ungkapnya. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
#bali #sampah plastik #buleleng