SINGARAJA, BALI EXPRESS - Plastik, terutama yang terbuat dari zat-zat petrokimia, mengandung zat kimia beracun yang dapat merusak ekosistem dan kesehatan manusia.
Pembakaran plastik atau pembuangan plastik secara tidak bertanggung jawab dapat melepaskan zat beracun ke udara, tanah, dan air, menciptakan dampak jangka panjang yang merugikan bagi lingkungan dan kesehatan manusia.
Daur ulang tradisional dan fasilitas daur ulang industri juga belum sepenuhnya efektif dalam mengatasi masalah plastik.
Dalam upaya mengatasi permasalahan polusi plastik dan menciptakan lingkungan yang lebih sehat, Gede Praja Mahardika Sujana Putra menciptakan ecobrick.
Pemuda asal Desa Sambangan, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Bali ini menawarkan solusi kreatif dan ramah lingkungan.
Ecobrick menjadi solusi menyelamatkan plastik dari takdirnya sebagai racun, memanfaatkannya untuk membangun, dan menciptakan kapsul waktu bagi generasi mendatang.
“Ecobrick adalah batu bata yang terbuat dari plastik tak dapat diolah lagi, dimasukkan ke dalam botol dengan berat tertentu, menciptakan bahan bangunan yang dapat digunakan berulang kali,” ujar Praja Mahardika, Rabu 3 Januaari 2024.
Proses pembuatan ecobrick dimulai dengan pengumpulan plastik kering dan bersih seperti styrofoam, kantong plastik, bungkus makanan ringan, sedotan, dan selulosa.
Plastik ini kemudian dimasukkan ke dalam botol plastik dengan menggunakan teknik tertentu.
Penting untuk memastikan ecobrick memiliki berat antara 200-500 gram untuk memastikan kualitasnya. Ecobrick yang tidak memenuhi standar dapat dipisahkan.
Selain sebagai solusi lingkungan, ecobrick juga diadopsi sebagai elemen seni dan bangunan ramah lingkungan.
Beberapa komunitas, seperti Ubud Draw, membangun dinding toilet dan bangunan lainnya menggunakan ecobrick yang dicampur dengan tanah, pasir, jerami, dan semen.
Hal ini menciptakan bangunan yang unik dan memiliki dampak positif terhadap lingkungan.
“Penggunaan ecobrick bukan hanya sebagai solusi praktis, tetapi juga sebagai langkah menuju pola hidup yang lebih berkelanjutan. Dengan memulai dari langkah sederhana, seperti pilah, olah, dan kelola sampah, masyarakat dapat bersama-sama merawat bumi dan menciptakan masa depan yang lebih lestari dan damai,” kata bapak dua anak ini.
Sejak pandemi Covid-19 tahun 2020, Praja kembali mengenalkan Metode Ecobrick Art. Sejatinya metode itu sudah ia lakukan sejak tahun 2017 silam.
Hingga kini ia masih konsisten melakukannya. Sebanyak 10.000 lebih ecobrick yang dibuat sejak tahun 2017.
“Mulai dari ecobrick biasa hingga ecobrick pantai yang mempunyai standar beratnya 200 gram hingga 500 gram tergantung jenis botol yang digunakan,” terangnya.
Bila diperhatikan, Praja akan selalu membawa sebuah tas kecil di sakunya maupun diselipkan pada tas yang dibawa.
Bukan untuk barang belanjaan, tas itu digunakan untuk menampung plastik-plastik bekas yang ia pungut.
Kebiasaan unik yang dilakukan Praja saat bertamu ke rumah kawan atau kerabatnya adalah mengantongi sampah plastik.
“Banyak yang bertanya mengenai dimana saya mendapatkan plastik? Saya mendapatkan plastik bekas dari warung, bengkel, dan laundry di sekitar tempat tinggal saya di Singaraja dengan cara menjalin kerja sama,” kata dia.
Praja yang kini sebagai pegiat lingkungan sekaligus Trainer Global Ecobrick Alliance (GEA) juga memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya plastik. Perkenalan Praja dengan ecobrick dimulai di Yogyakarta.
“Pengetahuan tersebut saya dalami lagi pada tahun 2019 saat saya kembali mendapatkan pelatihan Trainer of Trainer (TOT) di Situbondo, Jawa Timur. Saat itu, materinya tentang ecobrick dan bangunan tanah yang berfungsi untuk membangun ruang-ruang terbuka hijau,” imbuhnya. (*)
Editor : I Made Mertawan