Sejarah Desa Tajen di Tabanan Bali: Ternyata Tidak Ada Hubungannya dengan Sabung Ayam
I Putu Suyatra• Kamis, 22 Agustus 2024 | 03:54 WIB
Sejarah Desa Tajen di Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali.
BALIEXPRESS.ID - Sebelum menelusuri sejarah Desa Tajen, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali, harus memulai dari kisah Banjar Tajen.
Berdasarkan penuturan para sesepuh, hasil observasi, dan bukti dari Prasasti yang tersimpan di Jero Gede Tajen, seperti dikutip dari website Desa Tajen, perjalanan ini dimulai pada tahun 1415 Caka (1493 Masehi).
Pada saat itu, Ki Bendesa, seorang tokoh penting dari Kerajaan Tabanan yang saat itu masih berlokasi di Desa Buahan, memutuskan untuk menetap di Desa Payangan, Marga.
Ki Bendesa sendiri merupakan putra kedua dari Sri Megada Prabu, seorang tokoh spiritual yang lebih memilih bidang keagamaan dan meditasi daripada kekuasaan.
Sri Megada Prabu menyerahkan tahta kepada adiknya, Sri Megada Nata, yang kemudian menurunkan raja-raja Tabanan saat ini.
Sementara itu, Ki Bendesa yang tinggal di Payangan suatu malam mendapat wahyu untuk melihat ke arah barat.
Di sana, beliau melihat asap putih yang mengepul ke langit.
Dengan penuh penasaran, beliau mengutus rakyatnya untuk mencari sumber asap tersebut.
Setelah ditemukan, sumber asap tersebut ditandai di pohon beringin yang hingga kini masih berdiri.
Ki Bendesa kemudian memutuskan untuk pindah ke daerah itu bersama pengikutnya.
Tanah tersebut ternyata berada di bawah kekuasaan Mekel Tinungan Biaung.
Setelah permohonan dari utusan Ki Bendesa, Mekel Tinungan dengan senang hati memberikan izin untuk menjadikan daerah tersebut sebagai pemukiman baru bagi Ki Bendesa dan pengikutnya.
Asal Usul Nama Tajen
Awal mula terbentuknya Desa Tajen tidak lepas dari cerita tentang penemuan daerah pemukiman yang unik.
Konon, daerah ini pertama kali ditemukan ketika Ki Bendesa melihat asap putih mengepul, yang dalam bahasa setempat disebut "Teja."
Dari sinilah nama "Tajen" muncul dan berkembang menjadi sebutan untuk daerah ini. Jadi tidak ada hubungannya dengan sabung ayam.
Pada masa awal, pemerintahan desa berada di bawah kendali Mekel Tinungan, yang berlokasi di Desa Biaung dan memerintah delapan banjar pada tahun 1920-1952.
Banjar-banjar tersebut adalah:
Banjar Pemanis
Banjar Pumahan
Banjar Cacab/Jangkahan
Banjar Biaung Kaja
Banjar Biaung Kelod
Banjar Tajen Jeroan
Banjar Tajen Pande
Banjar Cepik
Seiring dengan pertumbuhan penduduk dan kebutuhan pelayanan yang lebih cepat dan memadai, delapan banjar ini dikembangkan menjadi sepuluh banjar:
Banjar Pemanis
Banjar Pumahan
Banjar Cacab/Jangkahan
Banjar Biaung Kaja
Banjar Biaung Kelod
Banjar Tajen Jeroan
Banjar Tajen Dauh Yeh
Banjar Tajen Sedahan
Banjar Tajen Pande
Banjar Cepik
Namun, karena tantangan dalam memberikan pelayanan yang memadai semakin dirasakan, sepuluh banjar tersebut kembali dimekarkan menjadi empat belas banjar:
Banjar Pemanis
Banjar Pumahan
Banjar Cacab/Jangkahan
Banjar Biaung Kaja
Banjar Biaung Tengah
Banjar Biaung Kelod
Banjar Pemanis Kaja
Banjar Tajen Jeroan
Banjar Tajen Dauh Yeh
Banjar Tajen Sedahan
Banjar Tajen Pande
Banjar Tajen Kuta Bali
Banjar Cepik
Banjar Cepik Kelod
Mengingat luasnya wilayah dan semakin sulitnya memberikan pelayanan yang layak, masyarakat memutuskan untuk memekarkan Desa Biaung menjadi dua desa: Desa Biaung sebagai desa induk dan Desa Tajen sebagai desa persiapan.
Setelah memenuhi berbagai persyaratan kelembagaan, pada 18 Juli 1997, Desa Tajen resmi berdiri sebagai desa persiapan berdasarkan SK No. 408.
I Gusti Made Putra, SE, kemudian ditunjuk sebagai Kepala Desa Persiapan pada 20 September 1997, dengan kewenangan mengelola tujuh banjar di wilayah tersebut. ***