BALIEXPRESS.ID - Di balik nama Desa Batuan, Kecamatan Sukawati, Kabupten Gianyar, yang kini dikenal, tersimpan kisah panjang sejak era Dinasti Warmadewa di Bali.
Asal usul nama desa ini dahulu disebut Desa Batuaran, nama yang diambil dari karakteristik alamnya yang berbatu-batu.
Perubahan sebutan dari Batuaran menjadi Batuan terjadi seiring waktu, namun jejak sejarahnya tetap terukir dalam peninggalan masa lalu.
Salah satu bukti sejarah tersebut dapat ditemukan di Pura Hyang Tibha, yang dibangun pada tahun 907 Masehi oleh Srie Aji Darmapangkaja Wira Dale Kesari Warmadewa.
Terletak di Dusun Blahtanah, Pura ini menjadi saksi bisu dari masa kejayaan Dinasti Warmadewa di Bali seperti dikutip dari website Desa Batuan.
Pada masa pemerintahan Srie Aji Darma Udayana Warmadewa, didampingi permaisurinya Gunapria Darmapatni dari Jawa Timur, lahirlah tiga putra mahkota.
Salah satunya, Srie Aji Mara Kata, yang prasastinya masih tersimpan di Desa Batuan hingga kini.
Kisah mereka penuh intrik dan perjuangan, dengan setiap generasi membawa perubahan besar bagi Bali.
Namun, kisah terbesar datang dari seorang tokoh legendaris, Seno Pati Kuturan, yang mendapat arahan langsung dari Srie Aji Udayana untuk menertibkan kehidupan masyarakat Bali.
Melalui musyawarah besar di Samuan Tiga, lahirlah keputusan penting yang memulihkan makna Tri Purusa dan mendirikan Pura Kahyangan Tiga di Desa Batuan.
Desa Batuan terus berkembang, dengan sejarah panjang yang mencakup era Warmadewa, Majapahit, hingga kolonialisme Belanda.
Di bawah pemerintahan Srie Aji Antasura Ratna Bumi Banten, Desa ini menjadi saksi penting dari berbagai peristiwa bersejarah yang membentuk wajah Bali hingga hari ini.
Misteri dan keagungan Desa Batuan tak berhenti di sini.
Setelah Dinasti Warmadewa berakhir, Bali jatuh ke tangan Gajah Mada, dan pada masa Dalem Ketut Sri Kresna Kepakisan, ibu kota kerajaan dipindahkan dari Samprangan ke Gelgel.
Perpindahan ini membawa perubahan besar bagi Desa Batuan yang kemudian menjadi pusat perkembangan kesenian dan kebudayaan Bali di bawah bimbingan Raja-raja Bali berikutnya.
Hari ini, Desa Batuan tak hanya menjadi tempat bersejarah, tetapi juga simbol dari kejayaan masa lalu yang terus mempengaruhi budaya Bali.
Setiap pura, prasasti, dan cerita rakyat di desa ini adalah cermin dari perjalanan panjang yang penuh misteri dan kebesaran. ***
Editor : I Putu Suyatra