Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Penamaan Desa Penarungan Tidak Memiliki Sejarah Kerajaan Mengwi, Ada Kaitan dengan Klungkung

Putu Resa Kertawedangga • Minggu, 15 September 2024 | 23:47 WIB

Pancoran solas - Taman Beji Paluh, Desa Penarungan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung.
Pancoran solas - Taman Beji Paluh, Desa Penarungan, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung.

BALIEXPRESS.ID - Meski berada di Kecamatan Mengwi, pemberian nama desa ini ternyata tidak berkaitan dengan sejarah kerajaan diwilayah tersebut.

Desa yang memilik persawahan luas tersebut adalah Penarungan, di Kabupaten Badung, Bali.

Melainkan dalam website desa tersebut diceritakan adanya hubungan sejarah dengan warga Desa Gelgel, Klungkung bukan Kerajaan Mengwi.

Baca Juga: Jelang Duel Bali United vs PSS Sleman: Stefano Cugurra Perbaiki Satu Hal di Tim 

Diceritakan, sekitar 900 tahun sebelum masehi dua orang saudara yaitu I Gusti Ngurah Putu Kamasan bersama I Gusti Ngurah Ketut Kamasan melakukan perjalanan Desa Sibang Srijati atau yang kini disebut Sibang Gede, Kecamatan Abiansemal.

Dalam perjalanan tersebut kedua putra asal Desa Gelgel, Klungkung ini diikuti pengikutnya sebanyak 60 Kepala Keluarga.

Setelah beberapa tinggal di desa tersebut mereka melanjutkan perjalanan ke arah barat.

Baca Juga: Tradisi Unik Hindu Bali Nyulubang Bayi di Pura Penyaungan: Mitos atau Fakta?

Sebagian pengikutnya tinggal di persawahan yang kini disebut Munduk Umadesa dan Munduk Umariyon.

Sementara I Gusti Ngurah Putu Kamasan bersama I Gusti Ngurah Ketut Kamasan serta beberapa pengikut lainnya tinggal di daerah yang bernama Jero Jasa.

Namun setelah berjalannya waktu, rumah dari I Gusti Ngurah Ketut Kamasan terus mendapatkan serangan dari semut.

Baca Juga: Kronologi dan Identitas Korban Kecelakaan Maut yang Menyebabkan Pedagang 57 Tahun Tewas Terlindas Truk: Ada Unsur Tabrak Lari!

Koloni semut ini terus menyerang walau telah dimisnahkan dengan segala cara.

Meski telah dilawan serangan semut terus muncul hingga I Gusti Ngurah Ketut Kamasan harus mengalah.

Ia pun akhirnya memilih untuk pindah ke tempat lainnya.

Selain itu sang kakak juga memilih untuk pindah pada hari yang baik.

I Gusti Ngurah Putu Kamasan bersama beberapa pengikut menembus semak belukar sambil melakukan pembersihan.

Kemudian ditempat itu dibangunlah Sanggar Tawang di atas batu besar sebagai tempat untuk memusatkan pikiran menuju Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Kemudian di lokasi itu ia memohon keselamatan untuk pengikutnya dan dibangun Pura Batu Aya.

Kemudian I Gusti Ngurah Putu Kamasan tinggal di sebelah barat dari Sanggar Tawang tersebut.

Lama kelamaan pengikut yang tinggal di Umadesa dan Umariyon ingin pidah untuk berkumpul bersama.

Setelah tinggal dengan kelompoknya memperluas sumber pencaharian, akhirnya menemukan sumber mata air.

Sumber air yang ditemukan itu sangat jernih dan bening.

Bahkan diceritakan air yang membentuk pusaran pun sangat jelas terlihat alirannya.

Atas penemuan itu, mereka snagat bahagia lantaran dapat menguntungkan bagi pertaniannya.

Sehingga mereka menamakan tempat tersebut sebagai Air Arungan, karena dapat digunakan untuk mengairi sawah dan ladang.

Sehingga aliran air ini diberi nama Subak Penarungan, karena air yang mengaliri sawah disebut Peng Arungan.

Sehingga sampai saat ini disebut sebagai Desa Penarungan yang berada di Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. (*)

Editor : Putu Resa Kertawedangga
#Penarungan #sejarah #klungkung #kerajaan mengwi #gelgel