SINGARAJA, BALI EXPRESS - Suara tawa renyah serta obrolan berbagai topik mengalir. Keramaian itu berasal dari suara ibu-ibu. Mereka adalah spesialis pelipat surat suara. Salah satunya adalah Ketut Tina, ibu muda sekitar 40 tahun sangat bersemangat. Tangannya dengan cekatan memilah dan melipat surat suara yang ada di depannya. Ketut Tina merupakan salah satu dari puluhan ibu-ibu yang berkontribusi dalam tahapan Pilkada 2024 di Buleleng.
Pengalamannya bersentuhan dengan surat suara pun bukan hanya sekali. Ia selalu terlibat dalam tahapan serupa tatkala perhelatan pilkada maupun pemilu dilaksanakan. Tetapi pada pemilu 2024 lalu ia absen untuk melipat surat suara lantaran anaknya sedang sakit. Namun ia tak serta merta tidak terlibat. Ia justru masuk ke ruang lain yakni menjadi saksi di TPS.
“Selalu terlibat kalau sudah pemilihan. Kalau tidak melipat surat suara ya pasti ada aja yang berkaitan. Seperti waktu lalu saya jadi saksi. Ya masih berkaitanlah,” ungkapnya, Selasa (15/10) siang.
Baca Juga: Ratusan Box Surat Suara untuk Pilkada 2024 Tiba di Buleleng
Di tengah panasnya cuaca Singaraja, Ketut Tina tetap sumringah. Suaranya yang renyah ditimpali suara ibu lainnya membuat suasana tidak membosankan. Tina akan melakukan pelipatan hingga ribuan lembar surat suara itu terlipat rapi. Sebelum berangkat ke Gudang KPU Kabupaten Buleleng di Desa Pemaron, ia menyiapkan masakan untuk keluarganya. Pukul 07.00 wita Tina lantas berangkat dari rumahnya di Lingkungan Bantang Banua, Kelurahan Sukasada, Buleleng menuju gudang KPU.
Ia akan bekerja melipat surat suara sampai pukul 17.00 wita. Sepulang dari bekerja melipat surat suara, ia tidak lantas tertidur dan berdiam diri. Tina masih lanjut bekerja. Tetapi pekerjaannya ini tidak diburu waktu. Ya, ia melanjutkan ngepik cengkih di rumahnya sembari bersantai menikmati waktu malam.
“Pagi lipat surat suara, malamnya ngepik cengkih. Tangan ini bisa bekerja apa saja selagi mampu. Daripada tidak mengerjakan apa-apa. Lumayan buat tambahan uang dapur,” kata dia.
Baca Juga: KPU Buleleng Dorong Kampanye Ramah Lingkungan dan Transparansi Dana Pilkada 2024
Tapi, tentu saja ia tidak mengandalkan penghasilan dari melipat surat suara. Bila tidak ada pekerjaan sementara seperti melipat surat suara, ia akan bekerja serabutan lainnya. Seperti halnya mengupas kulit bawang merah.
“Ini kan 5 tahun sekali ya, kan gak mungkin bergantung di sini saja. Pokoknya apa saja deh. Melipat surat suara, oke! Ngepik cengkih, oke! Ngupas bawang, juga ayo!” ujarnya sambil tertawa.
Tidak hanya Ketut Tina, ibu-ibu lainnya juga sama. Misalnya, Putu Sudarmi dan Tatik Indrawati. Mereka menunjukkan dedikasi yang tinggi untuk menyelesaikan tugas mereka.
Putu Sudarmi relawan pelipat surat suara dari Desa Sari Mekar, Kecamatan Buleleng mengatakan keterlibatannya sejak 2009. Ia pun pernah melipat surat suara di berbagai gudang logistik KPU. Mulai dari gudang di Santo Paulus, eks kantor Perkimta Buleleng, lalu berpindah ke KPU Buleleng hingga saat ini di Desa Pemaron. Setiap kali pemilu maupun Pilkada, KPU selalu memberikan informasi rekrutmen tenaga pelipatan kepadanya. Namanya pun selalu muncul dalam daftar. Pekerjaannya melibatkan berbagai tugas, termasuk pelipatan surat suara.
“Rejeki namanya. Ada berkahnya juga. Saat rekrutmen itu kami selalu daftar. Selalu diinformasikan kepada kami,” ujarnya.
Sudarmi menambahkan, semakin cepat mereka bekerja, semakin besar upah yang mereka terima. Upah itu pun menjadi tambahan uang dapur yang lumayan.
“Daripada bengong di rumah, tidak menghasilkan lebih baik disini. Banyak teman, ada penghasilan juga, bercanda sama teman,” ungkapnya.
Begitu juga dengan Tatik Indrawati. Ia juga merupakan orang lama. Pekerjaan melipat surat suara sudah ia pahami betul. Kecepatan tangannya tidak diragukan lagi. Dalam waktu singkat ia sudah melipat ratusan surat suara. Tentu saja seluruhnya bersih tanpa noda, tanpa cacat sedikit pun.
“Kalau melipat itu kan sudah ada garisnya, ikuti saja itu. Dan beberapa tanda dalam surat suara yang tidak memenuhi syarat juga harus dikenali. Jangan sampai nanti gara-gara itu membuat tidak sah, padahal sudah dicoblos. Sayang kan,” kata dia.
Meski telah fasih, terkadang Tatik juga merasa ragu. Ia pun tak segan bertanya kepada pengawas yang bersiaga di setiap kelompok pelipat. Setiap kelompok memiliki pengawasnya masing-masing, yang memberikan arahan dan pemantauan. Mereka memastikan pemahaman tentang proses kerja dan kualifikasi surat suara agar tidak ada kesalahan yang dapat mempengaruhi keabsahan suara.
“Ada pengawasnya dari KPU. Masing-masing kelompok punya pengawasnya. Ada dari PPK, KPU, Bawaslu. Nanti diberitahu oleh pengawasnya juga,” imbuhnya.
Banyak pengalaman serta suka duka yang dialami oleh Tatik dan Sudarmi. Terkadang saat pekerjaan tahapan pemilu atau pilkada usai, mereka saling merindukan satu sama lain. Bahkan hingga terbawa mimpi lantaran sangat rindu.
“Dulu kalau rindu bisa sampai mimpi. Kadang saat bengong-bengong di rumah, lihat kertas jadi kangen masa-masa repot pelipatan itu,” ujar Sudarmi.
Jika Sudarmi bermimpi karena rindu, maka beda dengan Tatik. Ia akan teringat kenangan-kenangan saat ada di gudang logistik ketika ia mendengar lagu. Ia mengenang masa-masa saat melipat surat suara sambil mendengarkan lagu itu. “Biasanya lagu house music biar semangat,” kata dia sambil tertawa. ***