Profil dan Perjalanan Inspiratif Made Astika: Dari Guru Matematika hingga Kadisdikpora Buleleng yang Berprestasi
Dian Suryantini• Minggu, 5 Januari 2025 | 02:35 WIB
Astika
BALIEXPRESS.ID – Karir panjang Made Astika, S.Pd., MM., menjadi bukti dedikasi dan komitmennya dalam dunia pendidikan. Berawal sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di SMP Negeri 3 Banjar, Buleleng, Bali, pada Maret 1988, ia memulai perjalanan luar biasa yang dipenuhi tantangan dan prestasi.
Sebagai guru matematika, Made Astika mengabdikan dirinya selama sepuluh tahun sebelum akhirnya dipindahkan ke SMA Negeri 1 Gerokgak pada pertengahan 1998.
Perpindahan ini menjadi titik awal perjalanan dinamisnya di dunia pendidikan, membawa semangat baru dalam membimbing generasi muda.
Namun, langkahnya tak berhenti di ruang kelas.
Pada 2001, ia ditarik ke Dinas Pendidikan Kabupaten Buleleng yang saat itu baru terbentuk.
Bersama tim kecil, Astika mulai menangani berbagai aspek pendidikan, termasuk pendidikan dasar, menengah, hingga pendidikan nonformal, pemuda, dan olahraga.
Peran ini membawanya mendalami kompleksitas pendidikan di Buleleng.
Momen Bersejarah dalam Karir
Tahun 2008 menjadi tonggak penting ketika ia diangkat sebagai Kepala Subbagian Perencanaan di bawah kepemimpinan Drs. Gede Suyasa (kini Sekda Buleleng).
Lima tahun kemudian, ia dipercaya menjadi Kepala Bidang Pendidikan Dasar, menangani SD dan SMP.
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2015 yang mengalihkan kewenangan pendidikan menengah ke tingkat provinsi membuatnya fokus menangani pendidikan dasar.
Pada 2017, ia memimpin bidang pendidikan SD sebelum akhirnya diangkat sebagai Sekretaris Dinas Pendidikan pada 2019.
Momentum besar datang pada 2 September 2020, ketika Made Astika resmi dilantik sebagai Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Buleleng.
Dalam hampir lima tahun kepemimpinannya, ia membawa Dinas Pendidikan Buleleng meraih prestasi gemilang, termasuk menjadi Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terbaik pada akhir 2024.
Filosofi "Tiga As"
Astika selalu berpegang pada prinsip kerja keras, kerja cerdas, dan kerja ikhlas.
Menurutnya, pendidikan bukan hanya soal kurikulum, tetapi juga tentang pelayanan publik dan membangun karakter guru serta siswa.
“Guru adalah teladan. Etika guru akan tercermin pada muridnya,” ungkap pria kelahiran Desa Banyupoh, Gerokgak ini.
Teknologi dan Pendidikan
Sebagai guru matematika, Made Astika telah mengenal teknologi sejak 1992.
Ia bahkan memanfaatkan bahasa pemrograman seperti Basic dan Turbo Pascal untuk membuat media pembelajaran.
Baginya, teknologi adalah alat penting untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
“Ke depan, AI dan coding akan menjadi bagian integral dalam pendidikan. Guru harus mampu beradaptasi agar tetap relevan,” tegasnya.
Masa Pensiun yang Produktif
Pada 31 Desember 2024, Made Astika resmi pensiun. Namun, semangatnya untuk pendidikan tetap menyala.
Ia berencana bergabung dengan Dewan Pendidikan untuk terus memberikan kontribusi.
Selain itu, ia ingin menikmati waktu luang dengan memelihara burung dan anjing, dua hobi yang selalu memberinya kebahagiaan.
“Hewan peliharaan itu setia dan mudah diajari, seperti murid yang baik,” ujarnya dengan senyum.