Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Kisah Inspiratif Made Darsana dari Desa Wanagiri; Melestarikan Hutan dan Menghidupkan Kopi

Dian Suryantini • Kamis, 9 Januari 2025 | 20:23 WIB

Ketua Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Wanagiri, Eka Giri Karya Utama, Made Darsana
Ketua Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Wanagiri, Eka Giri Karya Utama, Made Darsana

BALIEXPRESS.ID - Desa Wanagiri, sebuah kawasan asri di tepi Danau Buyan, Buleleng, dikenal dengan kekayaan alamnya yang melimpah. Dari dataran tinggi desa ini, air bersih mengalir ke tujuh desa di bawahnya, membawa berkah bagi Desa Ambengan, Sambangan, Panji, Paji Anom, Tegallinggah, Selat, dan Baktiseraga.

Namun, yang membuat Desa Wanagiri semakin istimewa adalah sosok Made Darsana, seorang pemuda visioner yang berhasil mengubah potensi desa menjadi sumber penghidupan berkelanjutan bagi masyarakatnya.

 Baca Juga: Bali Siaga Wabah PMK, Pastikan Tak Ada Penyelundupan Hewan Ternak yang Berpotensi Bawa Penyakit

Made Darsana, hanya lulusan SMA, tetapi semangat dan tekadnya melampaui batasan pendidikan formal. Setelah sempat bekerja di luar desa, ia memutuskan kembali ke kampung halamannya di usia produktif. Baginya, membangun desa tidak mesti menunggu usia senja.

 “Kalau menunggu tua, energi sudah habis. Justru sekarang saatnya,” ujar Darsana dengan penuh keyakinan.

Sebagai Ketua Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Wanagiri, Eka Giri Karya Utama, yang berdiri sejak 2015, Darsana membawa angin segar bagi pengelolaan sumber daya desa.

Ia percaya bahwa memanfaatkan hasil hutan secara bijak dapat menjadi solusi untuk melestarikan alam sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Inspirasi ini membuatnya terjun langsung dalam berbagai program berbasis komunitas dan konservasi.

 Baca Juga: Pungutan Wisatawan Asing di Bali Capai Rp 317 Miliar Tahun 2024, Koster Tegaskan Belum Waktunya Kenaikan Tarif

Salah satu langkah cerdas Darsana adalah memanfaatkan kopi sebagai komoditas utama. Mengapa kopi? Karena tanaman ini telah lama tumbuh secara alami di hutan Wanagiri.

Dengan ekosistem yang mendukung, kopi menjadi pilihan tepat. Pohon kopi membutuhkan naungan hutan untuk tumbuh optimal, sehingga menanam kopi sekaligus menjaga keberlangsungan ekosistem hutan.

Darsana tidak hanya melihat kopi sebagai tanaman biasa. Ia mengajak masyarakat untuk mengelola tanaman kopi dengan pendekatan ramah lingkungan.

“Kopi bukan sekadar hasil bumi, tetapi simbol harmoni antara manusia dan alam. Hutan tetap lestari, masyarakat sejahtera,” jelasnya.

 Baca Juga: Mulia-PAS Absen dalam Penetapan Paslon Terpilih Pilgub Bali 2024, Fokus Persiapan Sambut Presiden Prabowo

Kini, kopi Wanagiri tak hanya menjadi sumber pendapatan, tetapi juga membawa nama desa ke tingkat yang lebih luas.

 Kerja sama antar desa di bawah kepemimpinan Darsana menjadi kunci keberhasilan. Desa Wanagiri bersama tujuh desa lainnya membangun kesepahaman untuk melindungi hutan yang berarti menjaga sumber air bersih menjadi nadi kehidupan.

Untuk mendukung hal ini, Darsana dan timnya aktif mengedukasi masyarakat tentang pentingnya penggunaan pupuk organik agar tanah tetap subur dan air tidak tercemar.

Darsana memahami bahwa petani membutuhkan pendapatan yang berkesinambungan. Ia menawarkan solusi kreatif seperti pendapatan tahunan dari kopi, pendapatan bulanan dari ternak kambing dan ayam, serta pendapatan harian dari sayuran, bunga, dan agrowisata.

Dengan strategi ini, masyarakat memiliki aliran pendapatan yang stabil, mengurangi ketergantungan pada sumber daya hutan.

 Baca Juga: Koster-Giri Ditetapkan sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Bali Terpilih 2025-2030, Infrastruktur Jadi Prioritas, Janji Kerjasama, Tak Ada Koalisi

Dalam setiap langkahnya, Darsana tidak lupa melibatkan nilai-nilai spiritual. Sebelum memulai pekerjaan di hutan, ia selalu membawa sesajen sederhana untuk memohon restu Sang Pencipta.

 “Ini bukan sekadar ritual, tapi wujud komitmen kita menjaga alam,” katanya. Langkah kecil ini mencerminkan penghormatan mendalam terhadap alam, Tuhan, dan sesama manusia, sejalan dengan filosofi Tri Hita Karana.

Kisah Made Darsana bukan hanya tentang kopi atau hutan. Ini adalah kisah tentang keberanian bermimpi besar untuk desa kecil. Ia membuktikan bahwa pendidikan bukan satu-satunya kunci keberhasilan, tetapi kemauan untuk belajar dan bekerja keras. Generasi muda, kata Darsana, harus mulai melirik potensi desa mereka sendiri.

 Baca Juga: Koster-Giri Ditetapkan sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Bali Terpilih 2025-2030, Infrastruktur Jadi Prioritas, Janji Kerjasama, Tak Ada Koalisi

“Jangan menunggu desa dilihat orang lain. Kitalah yang harus melihatnya terlebih dahulu,” pesannya. (dhi)

 

Editor : Wiwin Meliana
#kopi #potensi desa #wanagiri #hutan #kisah inspiratif #buleleng