BALIEXPRESS.ID – Ada sesuatu yang istimewa dari Piduh Charity Cafe Bali di Jalan Yeh Pulu, Blahbatuh, Gianyar. Kafe ini tidak hanya menawarkan makanan lezat dan suasana nyaman, tetapi juga menjadi saksi perjalanan inspiratif kaum difabel yang berkarya seperti orang lain.
Komunikasi Isyarat di Tengah Kesibukan
Siang itu, suasana kafe cukup ramai. Beberapa staf tampak sibuk melayani turis asing dengan penuh keramahan.
Namun, yang membuat kafe ini berbeda adalah cara beberapa staf berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat dengan para tamu.
Ini bukan sekadar kafe biasa, melainkan tempat di mana para difabel menikmati dunia kerja yang inklusif dan bermartabat.
Kafe yang Fokus Memberdayakan Difabel
Piduh Charity Cafe Bali didirikan oleh Nyoman Sri Wahyuni, seorang wanita yang berkomitmen untuk memberdayakan kaum difabel.
Sejak berdiri, kafe ini mempekerjakan sembilan staf difabel, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan mental, down syndrome, cacat fisik, hingga autisme.
Sri Wahyuni menjelaskan, “Mayoritas dari mereka tidak bisa baca tulis. Jadi, kami menggunakan instruksi berupa gambar, bel, timer, dan nomor meja untuk mempermudah mereka melayani konsumen tanpa kesalahan.”
Tak hanya pelayan, bahkan koki di kafe ini juga merupakan kaum difabel.
Langkah ini diambil Sri Wahyuni sebagai bentuk nyata dari cita-citanya memberikan masa depan yang lebih baik bagi mereka.
Berawal dari Yayasan hingga Menjadi Kafe
Ide mempekerjakan kaum difabel muncul sejak 2020. Sebagai pendiri Yayasan Sosial Widya Guna Bali, Sri Wahyuni kerap mengajari anak-anak kurang mampu dan difabel berbagai keterampilan, termasuk di bidang makanan dan minuman (FnB).
Pada 2022, Piduh Charity Cafe resmi dibuka, dan anak-anak lulusan yayasan tersebut direkrut sebagai karyawan.
“Kami ingin mereka memiliki masa depan cerah. Sayang sekali jika mereka hanya tinggal di rumah tanpa aktivitas,” ujarnya.
Pembuktian Bahwa Difabel Juga Bisa Berkarya
Sri Wahyuni ingin membuktikan bahwa difabel memiliki potensi yang sama dengan orang lain.
“Selain untuk masa depan mereka, kami ingin menunjukkan bahwa mereka tidak boleh dipandang sebelah mata. Dengan dukungan yang tepat, mereka bisa maju dan mandiri,” tegasnya.
Gaji Layak dan Kebanggaan Diri
Para karyawan difabel di kafe ini mendapatkan gaji yang layak. Sri Wahyuni menjelaskan bahwa mereka juga belajar menabung untuk masa depan.
“Mereka bangga karena bisa berdiri di atas kaki sendiri. Ini adalah langkah kecil menuju kemandirian mereka,” tambahnya.
Piduh Charity Cafe Bali bukan sekadar tempat makan, melainkan simbol harapan dan pemberdayaan.
Dengan konsep yang menginspirasi, kafe ini menjadi bukti nyata bahwa dunia kerja inklusif dapat memberikan dampak positif bagi semua pihak. ***
Editor : I Putu Suyatra