Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Profil I Dewa Putu Berata, Maestro Gamelan Bali yang Menembus Dunia Internasional

I Dewa Gede Rastana • Senin, 24 Maret 2025 | 16:21 WIB
I Dewa Putu Berata.
I Dewa Putu Berata.

BALIEXPRESS.ID – Nama I Dewa Putu Berata telah dikenal di kancah internasional, terutama di dunia seni musik gamelan. Seniman asal Banjar Pengosekan, Ubud, Gianyar ini menjadi sosok di balik kehadiran musik gamelan dalam game PlayStation 5 (PS5) berjudul KENA: Bridge of Spirits, yang dirilis pada Agustus 2021 silam. 

Perjalanan I Dewa Putu Berata dalam proyek ini bermula ketika ia dihubungi oleh grup Gamelan Sekar Jaya (GSJ) di Berkeley, California, untuk memberikan konsultasi kepada komposer musik game tersebut, Jason Gallaty. “Direktur GSJ memberikan informasi kepada Jason dan akhirnya kami bertemu di Los Angeles. Di sana, saya menunjukkan gamelan saya sendiri yang ada di LA. Sejak itu, kami mulai berdiskusi mengenai proyek ini,” ungkap seniman kelahiran Pengosekan, 14 Maret 1967 tersebut.

Sebagai komposer, suami dari Emiko Saraswati Susilo itu turut melibatkan Sanggar Seni Cundamani yang ia dirikan di Pengosekan, Ubud. Sanggar ini memang kerap melakukan tur ke Amerika Serikat untuk pertunjukan dan kolaborasi dengan komunitas gamelan di sana. Bahkan, tiga tahun sebelum proyek ini dimulai, Sanggar Cundamani telah tampil di California, disaksikan langsung oleh Jason Gallaty dan beberapa staf dari EmberLab, studio pengembang KENA: Bridge of Spirits.

Proses produksi musik dalam game ini dilakukan di dua tempat, yakni Los Angeles dan Bali. “Kami pertama kali merekam di studio teman saya, Adam Berg, di LA. Namun, rekaman itu belum cukup, sehingga kami kembali merekam di Bali dengan menambahkan beberapa komposisi baru,” jelas ayah dua orang anak tersebut.

Musik hasil rekaman ini kemudian diolah dan diaransemen oleh Jason Gallaty, dipadukan dengan alat musik barat serta elektronik agar sesuai dengan suasana dalam game.

Keberhasilan ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi Dewa Berata. Terlebih, putrinya, Dewa Ayu Dewi Larassanti, juga ikut terlibat sebagai pengisi suara dalam game tersebut. “Tentu saya sangat bangga bisa berkolaborasi dengan komposer dunia, sekaligus melihat putri saya ikut berkontribusi dalam proyek ini,” ujarnya.

Kiprah I Dewa Putu Berata di dunia seni sudah dimulai sejak usia muda. Pada usia 16 tahun, ia telah mendirikan Sekaha Gong Anak-anak Tunas Mekar Pengosekan. Saat duduk di bangku SMKI Denpasar pada tahun 1983, ia sudah aktif mengajar gamelan di berbagai daerah. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di STSI Denpasar (sekarang ISI Denpasar) dan lulus pada tahun 1993.

Pengalaman internasionalnya semakin berkembang ketika ia diundang oleh Gamelan Sekar Jaya di California sebagai Guest Music Director pada 1995-1996. Sejak itu, ia kerap berkolaborasi dalam berbagai proyek seni global, seperti produksi Wayang Listrik dengan Lerry Reed di San Francisco, kolaborasi dengan Citras Dash (Kathak Dance Company, India Utara), serta program Asia Pacific Performance Exchange (APPEX) di UCLA.

Tak hanya di Amerika, ia juga pernah tampil di Jepang, Belanda, Italia, Yunani, dan berbagai negara lainnya. “Saya merasa seni gamelan Bali memiliki daya tarik luar biasa di mata dunia. Oleh karena itu, saya terus berusaha memperkenalkannya ke berbagai belahan dunia,” katanya.

Dewa Berata juga mendirikan Sanggar Cundamani sebagai wadah bagi generasi muda untuk belajar dan melestarikan seni gamelan Bali. Sanggar ini tidak hanya berfokus pada pertunjukan gamelan, tetapi juga mengajarkan tari Bali dan kriya seni yang digunakan sebagai atribut pementasan.

Selain tampil di berbagai ajang internasional, Sanggar Cundamani juga aktif ngayah dalam berbagai upacara adat dan keagamaan. “Tujuan utama saya mendirikan sanggar ini adalah untuk mewariskan budaya Bali beserta tata krama dan filosofinya kepada generasi penerus,” pungkasnya.

Dengan berbagai prestasi yang telah diraih, Dewa Putu Berata semakin membuktikan bahwa gamelan Bali mampu bersaing dan diapresiasi di panggung internasional. Keberhasilannya dalam proyek game KENA: Bridge of Spirits menjadi bukti bahwa seni tradisional Indonesia memiliki tempat istimewa di dunia modern. (*) 

Editor : I Dewa Gede Rastana
#seniman #Dunia Seni #Maestro #gamelan #internasional