BALIEXPRESS.ID- Anggota DPRD Bangli Wayan Sutama bukanlah sosok baru dalam dunia pemerintahan.
Sebelum duduk di kursi legislatif, ia telah mengabdikan diri sebagai perbekel di Desa Kintamani, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali.
Keinginannya untuk memberikan kontribusi lebih besar bagi masyarakat mendorongnya untuk maju ke panggung politik yang lebih luas.
Saat memimpin desa, Sutama menghadapi berbagai keterbatasan, terutama dalam kewenangan dan keterbatasan anggaran pembangunan.
Salah satu persoalan utama yang ia soroti adalah kondisi infrastruktur desa, khususnya jalan yang rusak dan berdampak pada perekonomian masyarakat.
“Banyak jalan di desa saya rusak, padahal itu sangat penting untuk memperlancar aktivitas ekonomi," ujar Sutama saat ditemui pada Kamis (27/3/2025).
Kesadaran akan keterbatasan tersebut membuatnya bertekad maju sebagai anggota DPRD Bangli agar dapat memperjuangkan aspirasi masyarakat dalam cakupan yang lebih luas.
Dukungan kuat dari masyarakat semakin menguatkan langkah Sutama.
"Kalau hanya menjadi kepala desa, saya hanya bisa berbuat di tingkat desa, itu pun terbatas. Dengan menjadi anggota DPRD, saya bisa berjuang untuk kepentingan masyarakat lebih luas," terang Wakil Ketua Komisi I DPRD Bangli ini.
Pada Pileg 2024, Sutama mencalonkan diri melalui Partai Golkar dari Dapil Kintamani timur.
Keputusannya ini bukan tanpa risiko. Ia harus meninggalkan jabatan perbekel periode kedua yang baru dijalaninya sekitar 2 tahun.
"Kalau saya ingin bermain aman, saya tetap di posisi lama. Masa jabatan saya masih panjang hingga 2029, tetapi saya memilih jalan yang lebih menantang demi kepentingan masyarakat," tegas pria asal Banjar Wanasari, Desa Kintamani ini.
Perjuangannya untuk mendapatkan kursi DPRD Bangli pun tidak mudah. Di internal Partai Golkar, ia harus bersaing dengan petahana I Nyoman Basma.
Di desanya sendiri, ia juga berhadapan dengan petahana Putu Arya Astawa dari PDIP.
Namun, berkat dukungan masyarakat dan kerja kerasnya, Sutama berhasil lolos ke DPRD Bangli, sementara dua pesaingnya gagal melanjutkan kiprahnya.
Sebelum terjun ke politik kabupaten, Sutama telah lama berkecimpung dalam pemerintahan desa.
Ia pernah menjabat sebagai Kepala Dusun Wanasari pada 2010-2015, sebelum akhirnya mencalonkan diri sebagai perbekel pada 2015 dan terpilih.
"Karier saya dimulai dari bawah. Saya pernah menjadi klian subak, klian dadia," kata bapak dua anak ini.
Pengalaman panjangnya dalam pemerintahan desa menjadi bekal kuat bagi Sutama dalam menjalankan tugasnya di DPRD Bangli.
Dengan amanah baru di tangan, Sutama bertekad untuk memperjuangkan pembangunan infrastruktur dan kepentingan lain masyarakat Bangli secara lebih luas.
Ia ingin memastikan bahwa aspirasi masyarakat yang selama ini hanya bisa diperjuangkan di tingkat desa, kini bisa mendapat perhatian lebih di tingkat kabupaten. (*)
Editor : I Made Mertawan