Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Empat Srikandi Gelar Pameran Seni 'Sayap yang Tak Terlihat' di Ubud

I Dewa Gede Rastana • Minggu, 21 September 2025 | 22:39 WIB
PAMERAN : Empat perempuan seniman yang menamakan diri mereka
PAMERAN : Empat perempuan seniman yang menamakan diri mereka

BALIEXPRESS.ID – Empat perempuan seniman yang menamakan diri mereka 'Srikandi' akan menggelar pameran seni bertajuk Sayap yang Tak Terlihat di Ubud Diary Gallery, Jalan A.A. Gede Rai No. 550, Lodtunduh, Ubud, Gianyar.

Pameran akan berlangsung mulai 27 September hingga 27 Oktober 2025 dan terbuka untuk umum.

Pameran ini dibuka secara resmi oleh Ni Nyoman Etty Yuliastuti, dengan kurator Aricadia. Sebagai pembuka, juga akan ditampilkan pertunjukan joget Bungbung.

Dalam catatan kuratorialnya, Aricadia menekankan bahwa karya-karya keempat seniman ini merupakan bentuk “Rūpāñjali”, yakni persembahan rupa dalam bahasa Sanskerta. Menurutnya, di balik setiap karya terdapat “sayap yang tak kasat mata” keberanian, luka yang diubah menjadi cahaya, serta mimpi yang mendorong seniman melampaui batas.

“Empat Srikandi berkumpul, bukan untuk mengukur langit, tetapi untuk mengajarinya bahasa baru. Di ujung jemari mereka, warna menjelma doa, bentuk menjadi persembahan, dan setiap kanvas adalah anjali atau tangkupan tangan yang mempersembahkan rupa bagi semesta,” tulis Aricadia.

Adapun keempat perempuan seniman yang tampil dalam pameran ini memiliki latar belakang berbeda.

Ia asalah Mega Sari, asal Tabanan, lulusan ISI Yogyakarta, spesialis seni cetak teknik cukil kayu. Setelah sempat vakum karena kesibukan keluarga dan bisnis, ia kembali dengan karya yang kental nuansa budaya Bali.

Ni Made Kurniati Andika, lulusan ISI Denpasar, kini berprofesi sebagai guru sekaligus ibu rumah tangga. Karyanya konsisten menyuarakan pengalaman dan suara perempuan Bali.

Desire Suamba, asal Klungkung, lulusan Seni Rupa Universitas Udayana jurusan grafis. Sejak pandemi berakhir, ia aktif berpameran dengan gaya naif-dekoratif yang memadukan flora, fauna, dan manusia.

Dan terakhir, Nany Soelistyowati, asal Salatiga, Jawa Tengah, sejak 2012 menetap di Bali. Gaya ekspresionis-naturalisnya banyak merekam alam dan budaya Bali. Ia juga menekuni seni patung, pahat topeng, hingga tari topeng Bali.

Baca Juga: Kurir Narkoba Senilai Rp2,5 Miliar Diciduk di Tabanan, Pelaku Bukan Orang Baru

Pameran Sayap yang Tak Terlihat menjadi ruang ekspresi bagi keempat perempuan ini untuk menapaki jalan seni yang tak selalu mudah. Dengan peran ganda sebagai istri, ibu, sekaligus seniman, karya mereka menghadirkan fragmen jiwa yang mengajak penikmat seni merenungi hal-hal yang tersembunyi di balik pandangan.

Setiap lukisan adalah pengingat bahwa ada “sayap tak terlihat” yang membuat manusia mampu terbang, bukan hanya dalam dunia imajinasi, tetapi juga dalam kehidupan nyata. (*)

Editor : I Dewa Gede Rastana
#pameran #ubud #seniman #srikandi #empat