BALIEXPRESS.ID – Kreativitas anak muda Bali kembali mencuri perhatian publik nasional.
Kali ini datang dari Anak Agung Gde Bagus Adhistya Sedana, 21, mahasiswa Sekolah Tinggi Multi Media (MMTC) Yogyakarta asal Desa Siangan, Gianyar, yang sukses membuat karya animasi berjudul “Ikan Mas Tur Dedari” yang artinya Ikan Mas dan Bidadari dengan tangan emasnya.
Karya tersebut viral di media sosial karena memadukan kisah budaya Bali, pesan keluarga, dan visual artistik yang memukau.
Adhistya, yang akrab disapa Gung Adhis ini, mengungkapkan bahwa proses pembuatan film animasi berdurasi pendek itu memakan waktu lebih dari 13 bulan, dimulai sejak pertengahan Agustus tahun lalu hingga pertengahan September 2025.
“Awalnya ini adalah tugas akhir kuliah, tapi ternyata viral setelah saya unggah di TikTok dan Instagram. Niatnya hanya ingin berbagi hasil karya, tidak menyangka akan mendapat respon sebesar itu,” ujarnya.
Dalam konsepnya, Bagus berupaya menghadirkan nuansa budaya Bali yang autentik namun dikemas secara modern dan emosional.
“Saya ingin menggambarkan keindahan budaya Bali, khususnya Tari Sanghyang Dedari, dan mengadaptasi cerita rakyat ‘I Durma lan Rajapala’ dengan latar Bali masa kini,” jelasnya.
Inspirasi desain lingkungan dalam film tersebut diambil dari berbagai lokasi ikonik di Bali, seperti Bale Budaya Gianyar dan Taman Ujung Karangasem, yang kemudian diolah menjadi latar digital istana bernama Dedari Loka. “Saya ingin penonton bisa merasakan Bali dalam suasana yang berbeda, tapi tetap terasa dekat,” tambahnya.
Tak sekadar menonjolkan estetika visual, film “Ikan Mas Tur Dedari” juga mengangkat tema hubungan ibu dan anak, yang dikemas penuh makna.
Baca Juga: Ketua Pansus TRAP DPRD Bali Tak Hanya Tegas tapi Juga Cerdas, Supartha Jalani Studi Doktor di Unud
“Saya ingin menyampaikan bahwa kasih sayang seorang ibu bisa menembus dimensi apa pun. Di film ini, tokoh Saras merindukan ibunya yang telah tiada, sementara ayahnya, Ajik Saras, berjuang keras menjadi orang tua tunggal,” tutur Gung Adhis.
Sosok Ikan Mas, karakter utama dalam film, terinspirasi dari Matsya Avatara, salah satu awatara Dewa Wisnu yang menolong manusia saat banjir besar. “Dalam film ini, Ikan Mas berperan sebagai pembimbing Saras untuk bisa bertemu dengan ibunya,” papar pemuda pemilik akun instagram @adhismengaqak tersebut.
Sebagai tugas individu, seluruh proses pembuatan film dikerjakan oleh Gung Adhis secara mandiri, mulai dari penulisan naskah, desain karakter, hingga animasi frame by frame.
Ia menggunakan Photoshop untuk menggambar lebih dari 130 latar digital (background) dan Clip Studio Paint untuk animasinya. Musik latar diisi oleh tembang Sanghyang Dedari dengan aransemen original garapan temannya, seorang produser musik bernama @its_veevoo.
Yang menarik, adik perempuannya, Anak Agung Adhisty, turut membantu dalam proses pewarnaan (coloring) dan menjadi pengisi suara karakter Saras.
“Saya memang suka menggambar dari TK sih. Kemudian kemarin saat saya butuh bantuan, adik saya dengan senang hati ikut bantu,” ujar anak pertama dari dua bersaudara ini.
Hobi menggambarnya itu kemudian semakin diasah saat menempuh pendidikan di SMK Negeri 1 Gianyar jurusan Multimedia, hingga akhirnya memilih kuliah di jurusan Animasi MMTC Yogyakarta.
“Buat saya, animasi itu seperti menggambar versi lebih hidup. Karena gambar yang kita buat bisa bergerak dan bercerita,” ujarnya.
Atas karyanya yang viral dan diapresiasi banyak pihak, Gung Adhis kini mendapat kesempatan menerima beasiswa S2 dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
“Tetapi saat ini masih mencari kampus yang cocok," tandasnya.
Melalui “Ikan Mas Tur Dedari”, Bagus berharap semakin banyak anak muda Bali yang berani mengeksplorasi budaya daerah melalui media digital.
Animasi “Ikan Mas Tur Dedari” karya Anak Agung Gde Bagus Adhistya Sedana kini menjadi salah satu contoh karya lokal yang berhasil mempertemukan nilai tradisi, teknologi, dan emosi dalam satu sajian visual yang memikat. (*)
Editor : I Dewa Gede Rastana