Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Motor Berasap, Bukan Mogok: Kisah Junaedi Penjual Kue Putu yang Pantang Menyerah

I Dewa Gede Rastana • Rabu, 22 Oktober 2025 | 23:07 WIB
BERJUANG : Junaedi, penjual kue putu yang biasa mangkal di Jalan Puputan Klungkung.
BERJUANG : Junaedi, penjual kue putu yang biasa mangkal di Jalan Puputan Klungkung.

BALIEXPRESS.ID – Siapa sangka, suara “pssshhh” dari bambu yang beruap panas itu bukan tanda bahaya, tapi tanda rezeki datang. Itulah keseharian Junaedi, 50, penjual Kue Putu asal Brebes, Jawa Tengah, yang biasa mangkal di Jalan Puputan Klungkung.

Sejak tahun 2021, Junaedi setia berkeliling menjajakan kue putu khasnya. Kue Putu sendiri kata dia berasal dari singkatan Pedagang Umum Tenaga Uap (PUTU).

Dulu ia mengayuh sepeda gayung sambil membawa uap panas di belakangnya, namun kini ia berjualan sudah menggunakan sepeda motor. Bayangkan, sepeda berasap tapi bukan karena mogok, melainkan karena semangat hidup.

“Awal jualan, adonannya cuma 3 kilogram, tepung beras dicampur sedikit garam, pewarna hijaunya alami dari daun kayu sugih. Wangi dan lembut,” cerita Junaedi sambil tersenyum malu-malu.

Setiap harinya, mulai pukul 08.00 WITA, Junaedi mulai mempersiapkan bahan, mengukus kelapa, menyiapkan tepung, dan menunggu saat berangkat baru mengadon. Rahasia rasanya? Ia memakai gula Bali dari Dawan. “Lebih gurih dan wangi,” ujarnya bangga.

Namun, bukan tanpa tantangan. Banyak suka duka yang ia alami selama berjualan. “Kalau hujan angin, ya wassalam. Dagangan basah, pembeli bubar. Tapi kalau habis, rasanya senang sekali,” katanya.

Tentunya tantangan dan cobaan itu ia hadapi karena ia merupakan tulang punggung keluarga. Ia memiliki istri dan dua orang anak yang harus ia hidupi. Anak pertamanya sedang berkuliah, kuliah di Jawa, dan anak keduanya masih kelas 3 SMP. Katanya, semua ini demi mereka. “Nyari pengalaman di Bali, eh malah betah,” tuturnya.

Adapun proses membuat kue putu yang ia jual dimulai dengan adonan dimasukkan ke cetakan bambu, lalu dikukus sekitar satu menit. Dari situlah muncul suara khas “pssshhh”.

Dari berjualan kue putu, per hari Junaedi bisa mengantongi penghasilan Rp200. 000 hingga Rp300.000.

Baca Juga: BRI Peduli Dorong ESG untuk Bisnis Berkelanjutan: Pro Lingkungan, Pro Sosial, Pro Profit

Saat awal berjualan, ia biasanya keliling wilayah Klungkung menggunakan sepedanya. Setelah terkumpul uang dan bisa membeli sepeda motor, Junaedi bisa menjangkau wilayah lebih luas lagi. Namun kini ia lebih memilih mangkal daripada berkeliling.

"Biasanya saya mangkal di Jalan Puputan dari pukul 14.00 WITA. Kalau sepi saya pindah ke Jalan Untung Surapati dekat Polres itu," tandasnya. (*)

Editor : I Dewa Gede Rastana
#sepeda #Mangkal #uap #kue putu #klungkung #Penjual