Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Bichito, Kedai di Rumah Lama Gajah Mada Buleleng yang Sajikan Kopi Lemukih

Dian Suryantini • Kamis, 2 Juli 2026 | 08:37 WIB
Suasana kedai kopi Bichito saat pagi hari di kawasan Jalan Gajah Mada Singaraja. (Ist)
Suasana kedai kopi Bichito saat pagi hari di kawasan Jalan Gajah Mada Singaraja. (Ist)

BALIEXPRESS.ID- Di Jalan Gajah Mada, Singaraja, berdiri sebuah rumah lama yang dulunya sekadar hunian keluarga.

Kini bangunan itu berubah wajah menjadi kedai kopi yang ramai didatangi anak muda.

Rumah tersebut milik Gede Ngurah Suhardiyasa, warga Kelurahan Beratan, yang disulap menjadi ruang ngopi bernama Bichito.

Baca Juga: Enam Kopdes Merah Putih di Bangli Terima Motor Roda Tiga, Pemanfaatan Tunggu Juknis

Kedai ini dikelola oleh Wayan Sudira bersama beberapa rekannya. Halaman rumah yang luas dan suasana teduh menjadi daya tarik tersendiri, terlebih di tengah kota Singaraja yang siang harinya kerap terasa panas menyengat.

Bangunan lama dengan sentuhan minim renovasi itu justru memberi nuansa berbeda dibanding kedai-kedai kopi modern yang menjamur belakangan ini.

Nama Bichito sendiri lahir dari proses pencarian identitas yang cukup panjang.

Baca Juga: Speed Boat Ditemukan Terdampar, Pencarian ABK Hilang di Perairan Banyuwedang Buleleng Masih Nihil

Sudira dan timnya sempat kebingungan menentukan nama yang belum dipakai oleh brand lain, mengingat industri kopi lokal sudah dipenuhi berbagai merek serupa.

Setelah melakukan pencarian di internet, mereka menemukan kata Bichito. Penemuan ini kemudian dijadikan dasar nama kedai, sekaligus menjadi pembeda dari brand-brand kopi lain yang sudah ada.

“Proses ini tidak lepas dari tantangan. Beberapa kali nama serupa sempat ditemukan sudah dipakai oleh usaha kopi lain, termasuk yang berada di Denpasar,” ujar Sudira, Rabu (1/7/2026).

Baca Juga: Terbongkar! Lansia di Jembrana Tipu Warga Modus Bedah Rumah dan Dana BOS sejak 2022

Hal ini membuat tim Bichito harus memastikan ulang keunikan nama dan izin penggunaannya, termasuk melalui pengecekan di media sosial seperti Instagram, sebelum akhirnya mantap menggunakan nama tersebut.

Yang membedakan Bichito dari kedai kopi lain adalah komitmennya mengangkat kopi lokal asal Lemukih, salah satu desa penghasil kopi di Buleleng.

Baca Juga: Ombudsman Monitoring SPMB di Dua Sekolah Favorit di Tabanan, Ini Hasilnya!

Sudira mengaku ingin memperkenalkan cita rasa kopi Buleleng asli kepada masyarakat luas, terutama generasi muda yang selama ini lebih akrab dengan kopi dari daerah lain.

Untuk mencapai rasa yang pas, ia memadukan biji robusta dan arabika. Perpaduan ini sengaja dipilih agar karakter kopi tidak terlalu kuat atau strong, sehingga bisa dinikmati lebih banyak kalangan, termasuk mereka yang belum terbiasa dengan kopi hitam pekat.

Pilihan menggunakan kopi Lemukih juga didasari oleh capaian kopi tersebut yang telah mendapatkan Indikasi Geografis (IG).

Status ini menjadi bukti bahwa kopi Buleleng, khususnya dari Lemukih, memiliki kualitas yang tidak kalah bersaing dengan kopi-kopi dari daerah lain yang lebih dulu dikenal luas.

Selain soal nama dan legalitas produk, Bichito juga tengah menjalani proses branding yang cukup panjang. Sudira menyebut bahwa pihaknya sedang serius membenahi identitas merek, mulai dari logo, kemasan, hingga narasi cerita di balik produk kopi mereka.

“Proses ini penting agar ke depan Bichito memiliki citra yang kuat dan mudah diingat, sekaligus siap ketika sewaktu-waktu mendapat undangan untuk memperkenalkan produknya ke pasar yang lebih luas,” kata Sudira.

Ia menegaskan bahwa sebelum benar-benar menjual sebuah produk kopi, pemahaman mendalam tentang produk itu sendiri menjadi hal yang wajib dimiliki. Mulai dari asal biji kopi, proses pengolahan, hingga karakter rasa, semuanya harus dipahami betul agar bisa disampaikan dengan tepat kepada konsumen.

Soal lokasi, Bichito berada di Jalan Gajah Mada, salah satu ruas jalan utama di Singaraja yang relatif mudah dijangkau.

Meski demikian, sempat muncul pertanyaan dari calon pengunjung terkait keberadaan dan aksesibilitas kedai ini, mengingat bangunannya yang berupa rumah lama tidak selalu terlihat mencolok seperti kedai kopi pada umumnya.

Justru dari situlah letak keunikan Bichito. Suasana rumah lama dengan halaman luas memberi kesan hangat dan personal, jauh dari kesan komersial kedai-kedai kopi kekinian.

Kombinasi antara nama yang unik, kopi lokal berkualitas asal Lemukih, serta komitmen terhadap kehalalan produk, menjadikan Bichito sebagai salah satu alternatif baru bagi pecinta kopi di Singaraja yang ingin menikmati secangkir kopi sambil merasakan cerita di baliknya. (*)

 

Editor : I Made Mertawan
#kopi lemukih #Kedai kopi #buleleng