Dalam pergelaran seni musik Bali dan dialog yang membahas kiprah berkesenian almarhum Anak Agung Made Cakra ini, beberapa lagu ciptaanya dinyanyikan sejumlah artis Bali.
Anak Agung Wira Suta menyanyikan lagu Kusir Dokar, Dewi Pradewi dengan lagu Jukut Plecing, dan Jun Bintang menyanyikan Sopir Bemo.
Anak almarhum, Anak Agung Alit Sudarsana juga turut hadir dan menyanyikan lagu ciptaan ayahnya.
Selain pentas seni musik, juga ditayangkan beberapa film dokumenter perjalanan almarhum yang diceritakan oleh anak almarhum Anak Agung Cakra.
Salah satu narasumber dalam dialog pergelaran tersebut, Made Adnyana yang merupakan pengamat seni musik menjelaskan karya musik Anak Agung Made Cakra dikenalkan oleh ayahnya Made Adnyana sendiri.
"Saya dikenali dengan karya seni musik Anak Agung Made Cakra oleh bapak saya. Saat pulang dari Denpasar ke Pupuan, Tabanan, dia bawa kaset album band Putra Dewata, saat itu umur saya masih 7 tahun," jelasnya.
Made Adnyana juga menambahkan bahwa sebelum tahun 1970-an, belum ada rekaman lagu dengan bahasa Bali.
Lagu Kusir Dokar saat itu dikatakan sudah disiarkan melalui radio, namun lagunya belum ada yang direkam berbentuk kaset.
"Sebelum tahun 1970, belum ada rekaman kaset lagu Bahasa Bali, lagu Kusir Dokar sudah disiarkan di radio tapi belum direkam," paparnya.
Karena waktu itu di Bali, studio belum bagus, sehingga perekaman kaset dilakukan di Banyuwangi, dan pasca ada kasetnya, lagu Kusir Dokar langsung booming.
Sementara narasumber dari akademisi Universitas Mahadewa, Made Sujaya, menambahkan sosok Agung Made Cakra melihat monumen kata-kata. Sebab, almarhum saat itu mentransformasikan kata-kata itu dengan melihat budaya, dan bagaimana Bali saat itu, lalu dijadikan sebuah lagu.
"Temanya kan semua tentang persoalan rakyat, Kusir Dokar, Supir Bemo, dan Jukut Plecing. Lagu-lagu itu gampang diterima oleh masyarakat," paparnya.
Mantan wartawan media cetak ini pun menambahkan dalam karya Agung Made Cakra juga tentang personal, termasuk tranformasi yang ada dalam dirinya sendiri dan persentasi tentang persoalan rakyat.
"Persoalan mereka membekas, lagu Bali dengan kanalisasi dan problematika orang Bali waktu itu sampai saat ini. Seperti kanalisasi karena tertekan ekonomi, persoalan politik dan lain sebagainya," imbuh Sujaya.
Selain itu, Sujaya juga menambahkan yang unik dari Anak Agung Made Cakra adalah profesinya yang jauh dari seniman musik. Sebab Agung Made Cakra membuat lagu dari aktivitas dan kepekaan terhadap lingkungan sekitarnya.
"Profesinya juga menarik, tukang cukur dan dagang koran, profesi yang sangat dekat dengan rakyat. Selain itu, setiap kali berkunjung kemana, kegiatan apa, itu gampang dimunculkan jadi sebuah karya, sangat peka sekali dengan kegiatan sosial," tandas Sujaya. (ade)
Editor : I Komang Gede Doktrinaya