BALI EXPRESS - Virus Nipah saat ini sedang menyebar di negara bagian Kerala di India Selatan, dan telah menyebabkan dua orang meninggal. Kejadian ini berimbas pada penutupan sementara sekolah, kantor, dan transportasi umum oleh pemerintah India pada Rabu (13/9).
Lebih dari 700 penduduk India telah menjalani pengujian untuk mendeteksi virus Nipah yang jarang terjadi dan memiliki tingkat fatalitas tinggi setelah dua orang dinyatakan meninggal akibatnya.
Virus Nipah menyebar melalui kontak dengan cairan tubuh kelelawar, babi, atau manusia yang terinfeksi, sehingga membunuh hingga 75% dari mereka yang terinfeksi.
Hal ini menjadi wabah keempat yang terjadi sejak tahun 2018, dengan catatan sedikitnya 21 kematian terkait dengan virus ini pada saat itu.
Menurut jurnal yang dirilis oleh PubMed Central pada tahun 2021, virus Nipah memiliki potensi untuk menjadi pandemi setelah Covid-19.
Menurut informasi dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), virus Nipah (NiV) pertama kali terdeteksi pada tahun 1999.
Wabah penyakit ini muncul pada peternak babi dan individu yang berinteraksi dekat dengan hewan-hewan tersebut di Malaysia dan Singapura.
Pada saat itu, tercatat hampir 300 kasus infeksi pada manusia yang mengakibatkan lebih dari 100 kematian. Wabah ini juga memiliki dampak ekonomi yang signifikan karena lebih dari 1 juta babi harus dieliminasi untuk mengendalikan penyebaran penyakit ini.
Sejak tahun 1999, tidak ada wabah NiV lain yang telah tercatat menjangkiti Malaysia dan Singapura. Namun, virus Nipah tetap muncul dengan kasus yang dilaporkan hampir setiap tahun di beberapa wilayah Asia, terutama di Bangladesh dan India.
NiV termasuk dalam kategori virus zoonosis, yang berarti virus ini awalnya menyebar antara hewan dan manusia, seperti yang dijelaskan oleh CDC dalam pernyataan yang diterbitkan pada tahun 2020.
Dikutip dari Radar Jabar, Hewan inang NiV adalah kelelawar buah, juga dikenal sebagai rubah terbang dalam genus Pteropus.
Virus Nipah dapat menyebar melalui kelelawar buah, babi, dan melalui kontak manusia seperti air liur atau urin.
Proses penularan awal dari hewan ke manusia disebut sebagai peristiwa limpahan (spillover event). Setelah seseorang terinfeksi, NiV dapat menyebar dari manusia ke manusia.
Infeksi pada manusia bervariasi dari tanpa gejala hingga infeksi saluran pernapasan yang bisa ringan atau berat, bahkan bisa mencapai tingkat ensefalitis yang mengakibatkan pembengkakan otak dan mungkin menyebabkan koma dalam waktu 24-48 jam.
Menurut data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tingkat kematian akibat ensefalitis berkisar antara 40 hingga 75 persen.
Mereka yang bertahan dari ensefalitis akut bisa pulih sepenuhnya, tetapi ada juga laporan mengenai masalah neurologis jangka panjang seperti gangguan kejang dan perubahan kepribadian pada beberapa yang selamat.
WHO juga mencatat bahwa sebagian kecil individu yang bertahan dapat mengalami kambuh atau mengalami ensefalitis yang tertunda.
Editor : Nyoman Suarna