Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Rahasia Mie Instan: Waspada Risiko Kesehatan dan Cara Bijak Menikmatinya Apalagi Ditambah Nasi

I Putu Suyatra • Selasa, 30 Januari 2024 | 14:27 WIB
Ilustrasi. Mie Instan./Istimewa.
Ilustrasi. Mie Instan./Istimewa.

BALI EXPRESS - Di tengah kesibukan masyarakat Tanah Air, mie instan telah menjadi pilihan makanan yang sangat praktis dan terjangkau.

Meski dinikmati karena kemudahan penyajiannya, tidak dapat dipungkiri bahwa mie instan menyimpan sejumlah risiko bagi kesehatan tubuh.

Dilansir dari Rakyat Kalbar (Jawa Pos Grup) pada Senin (29/1), Ahli Gizi, Tri Mey Linasari, S.Tr, Gz mengingatkan bahwa mie instan, meskipun praktis, mengandung komposisi yang dapat memicu sejumlah penyakit serius, bahkan mengganggu pertumbuhan anak.

Satu dari beberapa komposisi yang perlu diwaspadai adalah pengawet, seperti asam benzoat dan natrium benzoat.

Konsumsi berlebihan, terutama jika dikombinasikan dengan nasi, dapat menyebabkan risiko penyakit seperti diabetes, kolesterol tinggi, dan obesitas dalam jangka panjang.

"Kita biasanya mengonsumsi mie instan bersama nasi, padahal kalori mie sendiri sudah mencapai 300-an kalori per bungkus," ungkap Ahli Gizi Tri Mey Linasari.

Bagi anak-anak, mengonsumsi mie instan juga dapat menghambat pertumbuhan mereka karena kandungan dalam mie instan dapat menghambat penyerapan nutrisi.

Meskipun mie instan memiliki beberapa kandungan gizi yang bermanfaat seperti energi, protein, lemak, karbohidrat, dan zat gizi lainnya, tetap diperlukan kewaspadaan dalam mengonsumsinya.

Risiko Kesehatan yang Harus Diperhatikan dalam Konsumsi Mi Instan Setiap Hari

Mi instan, selain menjadi makanan praktis dan terjangkau, memiliki potensi risiko bagi kesehatan bila dikonsumsi secara berlebihan.

Ada beberapa dampak buruk yang perlu diperhatikan:

1.  Kekurangan Nutrisi:

Mi instan cenderung kurang seimbang dalam kandungan serat, protein, vitamin, dan mineral. Konsumsi setiap hari dapat menyebabkan kekurangan nutrisi penting untuk tubuh.

2.  Pertambahan Berat Badan:

Tingginya kalori, lemak jenuh, dan natrium dalam mi instan dapat menyebabkan kenaikan berat badan.

Risiko obesitas meningkat, seperti yang terungkap dalam riset American Journal Of Lifestyle Medicine.

3.  Tekanan Darah Naik:

Kandungan natrium tinggi dalam mi instan dapat menyebabkan peningkatan tekanan darah, meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.

4.  Masalah Pencernaan:

Mie instan dicerna lebih lambat, yang dapat menyebabkan masalah pencernaan seperti sembelit dan risiko usus bocor.

5.  Sindrom Metabolik:

Konsumsi mi instan setiap hari dapat meningkatkan risiko sindrom metabolik, yang dapat membawa dampak serius seperti penyakit jantung, diabetes, dan stroke.

Dr. Frank B. Hu, seorang profesor nutrisi dan epidemiologi di Harvard, merekomendasikan konsumsi mi instan satu sampai dua kali dalam sebulan.

Disarankan juga menambahkan sayuran dan protein hewani untuk meningkatkan nilai gizi.

Dengan menyadari risiko ini, mengurangi konsumsi mi instan dapat menjadi langkah positif menuju gaya hidup yang lebih sehat.

Tetaplah memprioritaskan makanan bergizi dan seimbang untuk mendukung kesehatan tubuh secara keseluruhan. (*) 

 
Editor : I Putu Suyatra
#nasi #diabetes #mie instan #kolesterol