Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Diet Tinggi Lemak dapat Menyebabkan Gangguan pada Hati

Wiwin Meliana • Rabu, 21 Januari 2026 | 08:17 WIB

dr. Ida Ayu Pradnya Paramita, Sp.PD
dr. Ida Ayu Pradnya Paramita, Sp.PD

BALIEXPRESS.ID-Perubahan pola konsumsi masyarakat modern ditandai dengan meningkatnya asupan makanan tinggi lemak, khususnya lemak jenuh dan lemak trans yang banyak ditemukan pada makanan cepat saji, gorengan, serta produk olahan. Pola makan ini berkontribusi signifikan terhadap meningkatnya prevalensi gangguan metabolik, termasuk penyakit hati berlemak non-alkohol (Non-Alcoholic Fatty Liver Disease/NAFLD).

Baca Juga: Antisipasi LSD Meluas, Pemkab Jembrana Gelar Vaksinasi Sapi di Dua Kecamatan

Hati merupakan organ sentral dalam metabolisme lipid, detoksifikasi zat toksik, serta regulasi homeostasis energi. Ketika asupan lemak melebihi kapasitas metabolik hati, terjadi akumulasi trigliserida di dalam hepatosit. Kondisi ini dikenal sebagai steatosis hepatik, yang merupakan tahap awal NAFLD.

Apabila berlangsung kronis, steatosis dapat berkembang menjadi peradangan hati (non-alcoholic steatohepatitis/NASH), fibrosis, hingga sirosis. Secara klinis, NAFLD sering bersifat asimtomatik (tidak bergejala) pada fase awal.

Namun, progresivitas penyakit dapat menimbulkan gejala seperti kelelahan, nyeri kuadran kanan atas abdomen, mual, serta gangguan fungsi hati. Studi menunjukkan bahwa diet tinggi lemak berperan penting dalam memicu resistensi insulin, stres oksidatif, dan respons inflamasi yang mempercepat kerusakan jaringan hati.

Lemak jenuh dan lemak trans terbukti meningkatkan lipogenesis hepatik dan menghambat oksidasi asam lemak. Selain itu, pola makan tinggi lemak sering berkorelasi dengan obesitas, dislipidemia, dan diabetes melitus tipe 2, yang merupakan faktor risiko utama terjadinya NAFLD. Kombinasi faktor metabolik ini meningkatkan kemungkinan progresi penyakit menuju komplikasi yang lebih berat.

Baca Juga: Terungkap! Inilah Pencuri yang Bobol 11 SD di Jembrana, Beraksi Pakai Dua Alat

Upaya pencegahan gangguan hati dapat dilakukan melalui modifikasi gaya hidup. Konsumsi makanan dengan komposisi gizi seimbang, rendah lemak jenuh, serta tinggi serat dari sayur, buah, dan biji-bijian sangat dianjurkan.

Aktivitas fisik teratur juga berperan dalam menurunkan akumulasi lemak intrahepatik dan memperbaiki sensitivitas insulin. Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap dampak diet tinggi lemak terhadap kesehatan hati, diharapkan angka kejadian penyakit hati berlemak dapat ditekan. Intervensi berbasis gaya hidup merupakan strategi utama yang efektif dalam mencegah progresivitas penyakit dan menjaga fungsi hati secara optimal.

Referensi

  1. Chalasani N, et al. The diagnosis and management of nonalcoholic fatty liver disease: Practice guidance from the American Association for the Study of Liver Diseases. Hepatology. 2018.
  2. Younossi ZM, et al. Global epidemiology of nonalcoholic fatty liver disease. Hepatology. 2016.
  3. Friedman SL, et al. Mechanisms of NAFLD development and progression. Nature Medicine. 2018.
  4. World Health Organization. Healthy diet. 2020.
  5. Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Gizi Seimbang. 2022.
Editor : Wiwin Meliana
#diet #hati #lemak