Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Sistem Perairan Subak: Kearifan Lokal Bali sebagai Solusi Tata Kelola Air di WWF Bali

I Putu Suyatra • Kamis, 23 Mei 2024 | 13:28 WIB

Subak Sembung di Kota Denpasar, Bali.
Subak Sembung di Kota Denpasar, Bali.

Indonesia memperkenalkan kearifan lokal dalam pengelolaan sumber daya air pada gelaran World Water Forum (WWF) ke-10 di Bali. Salah satu yang ditonjolkan adalah sistem irigasi tradisional Subak.

Subak adalah organisasi yang dimiliki oleh masyarakat petani di Bali, mengatur manajemen pengairan sawah secara tradisional. Subak tidak hanya merupakan sistem pengairan, tetapi juga mencerminkan filosofi dan kearifan lokal yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Krisis air menjadi tantangan global saat ini, dengan meningkatnya konsumsi air yang tidak seimbang, polusi, perubahan iklim, dan kerusakan ekosistem. Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek, Hilmar Farid, menyatakan bahwa Indonesia memiliki opsi pengelolaan air berkelanjutan melalui kearifan lokal seperti Subak.

Sistem solidaritas yang dibangun dalam Subak dapat dikombinasikan dengan sains dan teknologi modern untuk menjawab tantangan pengelolaan air yang bijak dan lestari. Kearifan lokal ini diharapkan dapat mewarnai kebijakan air di tingkat global pada WWF ke-10.

WWF ke-10 di Bali merupakan upaya kolaboratif untuk mengatasi tantangan perubahan iklim dan memperkuat konsensus politik di berbagai tingkatan. High Level Meeting dalam WWF ini melibatkan pembahasan anggaran air dunia, diplomasi air, dan observatorium dunia untuk sumber daya air non-konvensional dan energi terbarukan.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, menyebutkan bahwa ketidakpastian iklim disebabkan oleh peningkatan emisi gas rumah kaca. Kondisi ini memicu cuaca ekstrem yang berdampak pada sosial, kesehatan, dan ekonomi.

WWF ke-10 bertujuan merumuskan konsensus dan rencana aksi nyata untuk mitigasi perubahan iklim dan pengelolaan sumber daya air. BMKG menegaskan bahwa peningkatan emisi gas rumah kaca menyebabkan krisis air yang berdampak pada krisis pangan, energi, dan sosial. Oleh karena itu, mitigasi dan adaptasi sistematis diperlukan melalui observasi, monitoring, dan pengumpulan data.

Beberapa langkah mitigasi krisis air antara lain menghemat air, tidak membuang sampah di saluran air, reboisasi, dan membuat tempat penampungan hujan. Langkah-langkah ini penting untuk mengatasi krisis air dan dampak iklim lainnya.

Oleh: Candrasah Ayu, Pemerhati Lingkungan

 
 
Editor : I Putu Suyatra
#bali #wwf #denpasar #Subak