Menuju Indonesia Bebas TBC: Perkuat Gerakan Desa dan Kelurahan Siaga
I Putu Suyatra• Sabtu, 24 Mei 2025 | 15:19 WIB
ilustrasi
Tuberkulosis (TBC) masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat di Indonesia. Negara ini menempati peringkat tinggi dalam jumlah kasus TBC di dunia. Meski pengobatan TBC sudah tersedia gratis melalui fasilitas layanan kesehatan pemerintah, namun tantangan besar masih menghadang: deteksi dini yang rendah, stigma sosial, serta minimnya pengetahuan masyarakat tentang penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis ini.
Sebagai langkah nyata untuk mengatasi masalah tersebut, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menggagas Gerakan Bersama Penguatan Desa dan Kelurahan Siaga TBC. Inisiatif ini menandai komitmen nasional untuk mewujudkan Indonesia Bebas TBC dengan pendekatan berbasis komunitas.
Desa dan Kelurahan Siaga: Garda Terdepan Cegah TBC
Gerakan ini bertujuan membangun desa dan kelurahan yang siap siaga dalam upaya pencegahan, penemuan kasus, pendampingan pengobatan, dan pemulihan pasien TBC. Melalui sinergi antara masyarakat, tenaga kesehatan, kader lokal, dan pemerintah, diharapkan desa dan kelurahan dapat secara mandiri menciptakan lingkungan yang sehat dan bebas TBC.
Gerakan siaga ini juga sejalan dengan amanat Peraturan Presiden (Perpres) No. 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis, yang menjadi pijakan hukum dalam strategi nasional pengendalian TBC.
Menggerakkan Semua Elemen: Dari Pemerintah hingga Warga
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan bahwa TBC adalah penyakit mematikan yang telah ada selama ribuan tahun. “TBC telah membunuh satu miliar orang dalam 100 tahun terakhir,” ujarnya. Di Indonesia, diperkirakan 1 juta orang terinfeksi TBC setiap tahun, dan 125 ribu di antaranya meninggal dunia. Oleh karena itu, Menkes mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersatu dalam Gerakan Siaga TBC, agar kasus dapat cepat ditemukan dan ditangani.
Jakarta Tanggap: Hadirkan Pasukan Putih untuk Tangani TBC
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga menunjukkan langkah nyata dalam penanggulangan TBC dengan membentuk "Pasukan Putih", sebuah tim relawan yang terdiri dari kader-kader TB dan tenaga masyarakat terlatih. Mereka diterjunkan langsung ke pemukiman warga, terutama di wilayah yang mengalami lonjakan kasus seperti Jakarta Timur dan Jakarta Selatan.
Gubernur Jakarta Pramono Anung menegaskan bahwa Pasukan Putih menjadi garda depan dalam edukasi, deteksi dini, dan pendampingan pasien TBC. Langkah ini memperkuat pendekatan komunitas berbasis lokal yang dinilai lebih efektif dalam menjangkau warga.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, menyebutkan bahwa kasus TBC di Jakarta mencapai 60.074 pada tahun 2024, berdasarkan pelaporan digital nasional yang sudah berjalan sejak 2010. Pemprov DKI juga menargetkan eliminasi TBC pada tahun 2030 dengan membentuk Kampung Siaga TBC di 274 RW di Jakarta.
Integrasi Program dan Kolaborasi Berkelanjutan
Gerakan penguatan desa dan kelurahan siaga TBC perlu menjadi bagian integral dari strategi nasional. Upaya ini perlu diperkuat dengan pelatihan kader, pengembangan sistem informasi desa, serta insentif untuk komunitas aktif. Selain itu, integrasi program TBC dengan program kesehatan lainnya seperti stunting, gizi, imunisasi, dan kesehatan ibu-anak, akan membuat intervensi lebih menyeluruh dan berdampak luas.
Mewujudkan Indonesia Bebas TBC Dimulai dari Akar Rumput
Mengakhiri epidemi TBC bukan hanya tugas pemerintah atau tenaga kesehatan. TBC mencerminkan tantangan sosial, termasuk rendahnya edukasi dan lemahnya solidaritas komunitas. Oleh karena itu, gerakan berbasis desa dan kelurahan ini menjadi titik balik penting dalam upaya penanggulangan.
Dengan melibatkan tokoh masyarakat, pemuda, kader kesehatan, perangkat desa, dan keluarga pasien, kita bisa menciptakan perubahan yang nyata. Saatnya kita bergandengan tangan, menguatkan desa dan kelurahan siaga, dan memastikan tidak ada lagi warga yang menderita atau kehilangan nyawa karena TBC. ***
Oleh: Dhita Karuniawati (Penulis adalah Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia)