BALIEXPRESS.ID-Banyak pihak saat ini meragukan keberadaan lembaga pendidikan Hindu mulai dari jenjang dasar, menengah hingga tinggi. Alasan klasik. Buat apa bersekolah atau berkuliah di sekolah agama. Mau jadi apa? memang mau jadi pemangku? lulusan mau kerja dimana? memang ada peluang kerjanya yang menghasilkan gaji besar? Jadi guru agama buat apa? Banyak ragi keraguan-keraguan lain yang teramati pada diskursus masyarakat kita.
.
Apakah memang demikian? Jika kita memandang hanya dari satu sisi saja. Misalnya dalam perspektif materialistik sempit. Ya pendapat itu bisa diklaim sebagai kebenaran sementara. Tanpa mampu melihat perkembangan dan dinamika global kedepan.
.
Saya juga mengamati, tak banyak kampus agama mampu menggali secara substantif dan "radikal" mengenai kedalaman keilmuan agama pada bidang program studi yang dibuka. Misalnya saja satu contoh ekonomi Hindu. Apakah ekonomi Hindu itu menggali prinsip-prinsip ekonomi dalam agama Hindu? atau hanya menempel sebaran beberapa mata kuliah agama Hindu pada kurikulum ekonomi dari prodi umum.
.
Kemudian, apakah kampus-kampus agama Hindu dengan prodi-prodi agamanya akan mampu bertahap dan eksis? atau kemudian perlahan-lahan ditinggalkan dan lenyap di "lahap" trend masyarakat yang makin pragmatis dan realistis?
.
Menurut pandangan saya, di tengah revolusi teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) saat ini (siapa yang tidak pakai AI sekarang?) lembaga pendidikan agama dan keagamaan malah sedang menghadapi "momentum historis" amat penting akan perannya sebagai "ruang pembentukan" manusia seutuhnya. Saya ulangi. Perannya sebagai ruang pembentukan manusia seutuhnya.
Baca Juga: Sekolah Adat Manik Empul Pedawa Ajak Generasi Belajar Menganyam Bedeg
.
Jika AI mampu menggantikan sebagian besar pekerjaan teknis, administratif, bahkan analitis, maka aspek yang justru semakin bernilai di masa depan adalah kemampuan yang bersifat intrinsik manusiawi (pendekatan menggunakan hati dan nurani), empati, kebijaksanaan etik, kepekaan batin, refleksi eksistensial, kemampuan membangun relasi, serta kesadaran spiritual.
.
Dalam konteks ini, pendidikan basis agama tidak lagi dapat dipandang semata sebagai pendidikan ritus atau dogmatis, melainkan sebagai fondasi pembentukan “human intelligence” yang tidak dapat sepenuhnya direplikasi oleh mesin.
.
Bidang-bidang keilmuan seperti filsafat agama Hindu, hukum Hindu, ekonomi Hindu, dan pariwisata budaya dan lainnya harus percaya diri menggali paradigma keilmuannya yang berbeda dan khas. Saya memiliki keyakinan keilmuan agama pelbagai bidang memiliki kekuatan "integratif" karena tidak hanya mengembangkan rasionalitas intelektual, tetapi juga membentuk karakter, etika, estetika, dan sensitivitas sosial manusia.
.
Pandangan tersebut sejalan dengan teori perkembangan peradaban pasca-industri yang dikemukakan oleh futurolog Alvin Toffler. Dalam konsep Third Wave misalnya, Toffler menjelaskan bahwa masyarakat masa depan akan bergerak dari ekonomi berbasis tenaga fisik menuju ekonomi berbasis pengetahuan dan kreativitas. Coba cermati, dalam perkembangan terbaru era AI, pengetahuan teknis justru mulai mengalami otomatisasi.
Banyak kemampuan kognitif seperti pengolahan data, analisis statistik, hingga produksi teks dapat dilakukan oleh AI dengan cepat. Karena itu, nilai manusia bergeser pada kemampuan yang tidak mudah diprogram: intuisi etis, empati, makna spiritual, dan kebijaksanaan kontekstual. Disinilah saya berkeyakinan pendidikan basis agama memiliki posisi strategis karena membentuk dimensi tersebut sejak awal proses pendidikan.
Baca Juga: Wabup Jembrana Tekankan Pendidikan Karakter Saat Pelepasan Siswa TK Negeri Pembina Melaya
.
Dalam perspektif psikologi dan psikoanalisis juga, gagasan ini dapat dijelaskan melalui pemikiran Sigmund Freud tentang struktur kepribadian manusia yang terdiri dari id, ego, dan superego. Cobalah cermati lebih dalam, AI itu pada dasarnya bekerja melalui logika, pola, dan prediksi berbasis data, tetapi manusia memiliki nurani, konflik batin, nilai moral, rasa bersalah, cinta, spiritualitas, dan pencarian makna hidup.
Pendidikan agama memainkan peran penting dalam memperkuat superego, yakni dimensi moral dan etika manusia. Tanpa pendidikan nilai, perkembangan teknologi berisiko melahirkan manusia yang cerdas secara teknis tetapi miskin arah moral. Dalam konteks ini, lembaga pendidikan basis agama menjadi benteng pembentukan kesadaran etik di tengah masyarakat digital yang semakin pragmatis dan materialistik.
.
Pandangan yang lebih humanistik juga dikembangkan oleh Carl Gustav Jung melalui teori tentang kesadaran kolektif dan spiritualitas manusia. Jung meyakini bahwa manusia tidak hanya membutuhkan pengetahuan rasional, tetapi juga simbol, makna, dan pengalaman transendental untuk mencapai keutuhan diri (individuation). Pendidikan basis agama, misalnya, tidak sekadar mengajarkan pengetahuan tekstual, tetapi juga membangun harmoni antara manusia, alam, dan spiritual.
.
Dalam karya Homo Deus, Yuah Noval Harari sempat menjelaskan bahwa manusia berpotensi kehilangan banyak fungsi tradisionalnya karena digantikan sistem cerdas. Namun ia juga menekankan bahwa krisis terbesar manusia masa depan bukanlah sekadar kehilangan pekerjaan, melainkan kehilangan "makna" dan "identitas".
Ketika AI dapat menulis, menghitung, mendiagnosis, bahkan menciptakan karya seni, maka pertanyaan fundamentalnya adalah: apa yang membuat manusia tetap bernilai? Jawabannya terletak pada dimensi kesadaran, etika, spiritualitas, dan kemampuan merasakan penderitaan maupun kasih sayang, sesuatu yang menjadi inti pendidikan basis agama.
.
Ini prediksi saya terkait trend global kedepan. Dunia kerja akan semakin menghargai human-centered skills. Cek saja, laporan World Economic Forum beberapa waktu lalu tentang masa depan pekerjaan menempatkan kreativitas, empati, kepemimpinan sosial, kemampuan kolaborasi, dan pemikiran etis sebagai keterampilan utama abad ke-21. Artinya, pendidikan yang hanya berorientasi pada hafalan dan kemampuan teknis akan semakin tertinggal. Sebaliknya, lembaga pendidikan basis agamalah yang mampu mengintegrasikan spiritualitas, skill, psiko-sosial, ekonomi, teknologi, karakter, dan keterampilan sosial justru memiliki peluang besar menjadi model pendidikan masa depan.
.
Pertanyaan besarnya. Sudahkah para pengelola pendidikan basis agama menyadarinya dan mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan masa depan??? (*)
Oleh:
Dr. I Made Bagus Andi Purnomo, M.Pd
Pengajar pada kampus agama, praktisi dan pemerhati lembaga pendidikan basis agama di Indonesia.