Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Yang Tidak Boleh Diserahkan kepada AI

I Putu Mardika • Selasa, 7 Juli 2026 | 13:36 WIB
Made Hery Santosa, Ph.d Pendidik dan Peneliti Undiksha
Made Hery Santosa, Ph.d Pendidik dan Peneliti Undiksha

BALIEXPRESS.ID-Beberapa bulan terakhir, banyak guru dan dosen mengeluhkan gejala yang hampir sama. Tugas-tugas siswa mendadak menjadi lebih rapi. Kalimat-kalimatnya mengalir. Argumentasinya tersusun dengan baik. Bahkan daftar pustakanya tampak meyakinkan. Namun ketika diminta menjelaskan kembali isi tulisan itu di depan kelas, tidak sedikit yang justru terdiam. Mereka mampu menyerahkan karya yang baik, tetapi tidak selalu memahami apa yang mereka tulis sendiri. 

Fenomena itu bukan lagi cerita dari satu atau dua sekolah. Ia mulai menjadi pengalaman bersama. Ruang kelas kita sedang berubah, bukan karena kurikulum baru atau buku pelajaran yang berbeda, melainkan karena hadirnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) yang kini masuk ke hampir setiap sudut kehidupan.

Dalam waktu yang sangat singkat, AI telah menjadi teman belajar baru. Ia membantu siswa merangkum buku, menerjemahkan artikel, menyusun presentasi, memperbaiki tata bahasa, hingga membuat esai hanya dalam hitungan detik. Guru pun memanfaatkannya untuk menyusun modul ajar, membuat soal, merancang rubrik penilaian, bahkan mencari ide pembelajaran yang lebih kreatif. Dunia pendidikan memperoleh ‘asisten’ yang bekerja tanpa mengenal lelah. Semua tampak begitu menjanjikan.

Namun, seperti setiap lompatan besar dalam sejarah teknologi, AI juga membawa pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar soal efisiensi.

“Apakah kita sedang menciptakan generasi yang semakin cerdas?” “Ataukah kita sedang menciptakan generasi yang semakin bergantung pada mesin untuk berpikir?”

Sejarah manusia sebenarnya adalah sejarah tentang bagaimana kita menciptakan alat untuk mempermudah hidup. Mesin uap mempercepat pekerjaan fisik. Listrik memperpanjang produktivitas. Komputer mempercepat pengolahan data. Internet membuka akses terhadap pengetahuan dunia. Tapi, AI ini berbeda.

Untuk pertama kalinya, manusia menciptakan teknologi yang tidak hanya membantu pekerjaan tangan, tetapi juga pekerjaan pikiran. Ia mampu menulis, menganalisis, menggambar, membuat musik, menghasilkan video, bahkan berdialog dengan bahasa yang nyaris menyerupai manusia. Perubahan inilah yang membuat AI tidak bisa diperlakukan seperti teknologi biasa.

Ketika internet hadir, tantangan terbesar adalah bagaimana menemukan informasi yang benar. Kini, ketika AI hadir, tantangannya berubah menjadi bagaimana membedakan mana hasil pemikiran kita sendiri dan mana hasil pemikiran mesin. Perbedaannya tampak sederhana, tetapi dampaknya sangat besar.

Tidak sedikit orang menganggap AI hanyalah versi baru dari mesin pencari. Anggapan itu keliru. Mesin pencari membantu kita menemukan informasi yang sudah ada. AI justru mampu menghasilkan informasi baru berdasarkan pola yang dipelajarinya dari miliaran data. Di sinilah letak kekuatannya, sekaligus kelemahannya.

AI tidak memahami dunia sebagaimana manusia memahaminya. Ia tidak memiliki pengalaman hidup, tidak mengenal empati, tidak memahami benar dan salah, apalagi memiliki hati nurani. Ia bekerja dengan mengenali pola dan memprediksi kemungkinan jawaban yang paling sesuai. Karena itu, AI dapat terdengar sangat meyakinkan meskipun sedang keliru.

Para pengembang AI menyebutnya sebagai hallucination. Mesin dapat menciptakan kutipan yang tidak pernah ada, menyebutkan referensi yang fiktif, bahkan menyusun fakta yang terdengar masuk akal. Semakin fasih AI berbicara, semakin besar kecenderungan kita mempercayainya. Ironisnya, manusia sering kali lebih mudah percaya pada jawaban yang disampaikan dengan percaya diri daripada jawaban yang benar.

Persoalan AI ternyata tidak berhenti di ruang kelas. Dalam beberapa waktu terakhir, masyarakat Indonesia berkali-kali dikejutkan oleh video deepfake. Wajah tokoh publik, pejabat pemerintah, ulama, hingga artis dimanipulasi sedemikian rupa sehingga tampak benar-benar mengucapkan sesuatu yang tidak pernah mereka katakan. Di media sosial beredar iklan investasi palsu yang menggunakan video hasil rekayasa AI. Masyarakat juga mulai melihat maraknya modus penipuan yang memanfaatkan teknologi peniruan suara. Hanya dari beberapa detik rekaman yang diambil dari media sosial, suara seseorang dapat ditiru dengan sangat meyakinkan untuk meminta transfer uang atau menyebarkan informasi palsu.

Apa yang kita lihat belum tentu nyata. Apa yang kita dengar belum tentu benar. Dan apa yang ditulis AI belum tentu fakta. 

Di tengah situasi seperti itu, kemampuan paling penting bukan lagi kemampuan mengakses informasi, melainkan kemampuan mempertanyakan informasi. Di sinilah pendidikan menghadapi ujian terbesarnya.

Selama bertahun-tahun, sekolah berusaha mengajarkan peserta didik mencari jawaban yang benar. Namun AI mampu memberikan jawaban hampir untuk semua pertanyaan. Jika sekolah hanya berhenti pada pencarian jawaban, lambat laun mesin akan melakukannya jauh lebih cepat daripada manusia. 

Padahal tujuan pendidikan tidak pernah sekadar menghasilkan jawaban. Pendidikan bertujuan membentuk cara berpikir. Ia melatih seseorang untuk bertanya, meragukan, memverifikasi, membandingkan, menyusun argumen, berdialog, lalu mengambil keputusan dengan penuh tanggung jawab. Semua proses itu tidak boleh hilang hanya karena teknologi mampu memberikan hasil yang instan.

Para pakar pendidikan mulai menggunakan istilah cognitive offloading untuk menggambarkan kecenderungan manusia menyerahkan sebagian proses berpikir kepada teknologi. Dalam batas tertentu, hal itu wajar. Kita menggunakan kalkulator untuk menghitung angka yang rumit dan GPS untuk menemukan jalan. Masalah muncul ketika AI mulai mengambil alih pekerjaan yang justru menjadi inti pembelajaran: membaca, menganalisis, menyusun argumen, dan merefleksikan pengalaman. 

Kita mungkin akan menghasilkan lebih banyak tulisan. Namun belum tentu menghasilkan lebih banyak pemikir. Tantangan ini menjadi semakin penting bagi Indonesia.

Sebagian besar model AI dikembangkan menggunakan data yang didominasi bahasa Inggris dan perspektif negara-negara maju. Akibatnya, AI mungkin lebih mengenal Shakespeare daripada Chairil Anwar, lebih memahami Silicon Valley daripada Subak di Bali, atau lebih akrab dengan sejarah Eropa daripada sejarah lokal di Flores, Papua, atau Maluku.

Ini bukan semata persoalan bahasa. Ini adalah persoalan cara pandang. Jika generasi muda hanya menerima jawaban AI tanpa kemampuan mengkritisinya, perlahan-lahan mereka akan melihat dunia melalui perspektif yang dibangun oleh data orang lain. Di sinilah muncul apa yang oleh sebagian ilmuwan disebut sebagai data colonialism atau kolonialisme yang tidak lagi merebut wilayah, melainkan memengaruhi cara berpikir melalui data dan algoritma. Indonesia tentu tidak boleh terjebak di sana.

Kita memerlukan generasi yang mampu menggunakan AI, tetapi tetap berpijak pada nilai-nilai Pancasila, keberagaman budaya, bahasa daerah, dan kearifan lokal yang menjadi identitas bangsa.

Kesadaran inilah yang mulai mendorong banyak negara menyusun arah kebijakan AI. UNESCO mengingatkan bahwa pendidikan harus tetap berpusat pada manusia. OECD menegaskan bahwa keputusan-keputusan penting tidak boleh sepenuhnya diserahkan kepada algoritma. Uni Eropa bahkan menetapkan bahwa AI di bidang pendidikan termasuk teknologi berisiko tinggi sehingga harus diawasi secara ketat. 

Dunia tampaknya sepakat pada satu hal, yaitu AI boleh menjadi alat yang sangat cerdas, tetapi manusia tidak boleh kehilangan kendali.

Lalu, bagaimana seharusnya Indonesia mempersiapkan diri? Apakah cukup dengan mengajarkan cara menggunakan ChatGPT atau AI sejenis? Ataukah kita memerlukan bentuk literasi baru yang jauh lebih mendasar, yakni literasi yang tidak hanya membuat kita mahir menggunakan AI, tetapi juga mampu menata mandiri, mengkritisi, dan memanfaatkannya untuk memperkuat kita sendiri?

Melalui berbagai diskusi tentang AI, saya sering mendengar satu kalimat yang berulang: “Yang penting sekarang siswa harus bisa menggunakan AI.” Kalimat itu tidak sepenuhnya salah, tetapi juga belum sepenuhnya benar.

Persoalannya bukan pada kemampuan menggunakan AI. Persoalannya adalah kemampuan menggunakan AI tanpa kehilangan kemampuan berpikir. Di sinilah letak perbedaan antara pengguna AI dan mereka yang benar-benar literat terhadap (melek) AI.

Menggunakan AI adalah keterampilan. Literasi AI adalah cara berpikir. Keduanya tidak selalu berjalan bersama.

Seseorang mungkin sangat mahir membuat prompt yang rumit, menghasilkan presentasi yang menarik, atau menyusun laporan dalam hitungan menit. Namun jika ia tidak mampu membedakan mana informasi yang akurat dan mana yang keliru, tidak memahami bias yang terkandung dalam jawaban AI, atau tidak menyadari implikasi etis dari penggunaannya, sesungguhnya ia baru menguasai teknologi, belum memahami makna teknologi itu sendiri.

 

Karena itu, literasi AI tidak boleh direduksi menjadi pelatihan penggunaan aplikasi. Ia harus dipahami sebagai kompetensi hidup.

Sebagaimana kita mengajarkan anak membaca bukan sekadar mengenali huruf, melainkan memahami makna sebuah teks, demikian pula literasi AI bukan sekadar mengajarkan cara mengoperasikan aplikasi, tetapi mengajarkan cara memahami, mempertanyakan, dan memanfaatkan AI secara bertanggung jawab.

UNESCO menyampaikan pesan yang sangat menarik melalui berbagai panduan tentang AI dalam pendidikan. Menurut UNESCO, AI harus dikembangkan dengan pendekatan human-centred. Artinya, teknologi harus memperkuat kapasitas manusia, bukan menggantikannya. Guru tidak boleh kehilangan perannya sebagai pendidik hanya karena hadir teknologi yang mampu menjawab hampir semua pertanyaan. Sebaliknya, AI seharusnya membebaskan guru dari pekerjaan administratif yang berulang sehingga mereka memiliki lebih banyak waktu untuk mendampingi peserta didik berpikir, berdialog, dan bertumbuh.

Pesan itu sederhana, tetapi sangat mendasar. Pendidikan selalu berbicara tentang manusia, bukan tentang mesin.

Hal yang sama juga ditegaskan oleh OECD. Dalam berbagai laporannya mengenai masa depan pendidikan dan pekerjaan, organisasi ini mengingatkan bahwa kemampuan yang paling dibutuhkan pada masa depan justru bukan kemampuan yang mudah diajarkan kepada mesin. Dunia kerja semakin menghargai kemampuan berpikir analitis, kreativitas, kolaborasi, kemampuan belajar sepanjang hayat, komunikasi, dan pengambilan keputusan yang etis. Ironisnya, kemampuan-kemampuan tersebut justru akan melemah apabila manusia terlalu sering menyerahkan proses berpikir kepada AI.

Di sinilah paradoks zaman kita. Semakin pintar AI, semakin penting manusia belajar berpikir.

Lalu seperti apa literasi AI yang dibutuhkan Indonesia? Menurut hemat saya, literasi AI setidaknya dimulai dari lima kebiasaan sederhana. 

Pertama, membiasakan diri bertanya, bukan hanya menerima jawaban. Ketika AI memberikan sebuah penjelasan, jangan langsung bertanya, “Apa jawabannya?” tetapi lanjutkan dengan pertanyaan lain, “Mengapa jawabannya demikian?”, “Apakah ada pendapat lain?”, "Bagaimana jika konteksnya Indonesia?”, atau “Apakah ada penelitian yang mendukungnya?” Pertanyaan-pertanyaan semacam ini jauh lebih penting daripada sekadar memperoleh jawaban yang cepat. Memang, akan memerlukan usaha lebih, utamanya di kultur belajar yang masih bertumbuh mengedepankan pemahaman di atas nilai, seperti di Indonesia. 

Kedua, membangun budaya verifikasi. AI bukan sumber primer. Ia adalah mitra yang membantu kita menemukan kemungkinan. Karena itu, setiap informasi penting tetap harus diperiksa melalui jurnal ilmiah, buku, dokumen resmi, atau sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Di era AI, kemampuan memverifikasi akan menjadi sama pentingnya dengan kemampuan membaca.

Ketiga, memahami bahwa AI membawa bias. Tidak ada teknologi yang benar-benar netral. AI belajar dari data, dan data selalu lahir dari konteks sosial, budaya, ekonomi, bahkan politik tertentu. Ketika sebagian besar data pelatihan berasal dari negara-negara maju, ada kemungkinan perspektif masyarakat lokal, bahasa daerah, atau pengetahuan tradisional Indonesia kurang terwakili. Literasi AI mengajarkan kita untuk menyadari keterbatasan tersebut, bukan menolaknya secara membabi buta.

Keempat, menggunakan AI sebagai mitra belajar, bukan pengganti belajar. Ada perbedaan besar antara meminta AI menjelaskan konsep yang sulit dengan meminta AI mengerjakan seluruh tugas. Ada perbedaan antara menggunakan AI untuk memperbaiki tata bahasa dengan membiarkan AI menyusun seluruh isi tulisan. AI seharusnya memperluas rasa ingin tahu, bukan menggantikannya.

Kelima, menjaga nilai-nilai kemanusiaan. AI mungkin mampu menghasilkan puisi yang indah, tetapi ia tidak pernah mengalami kehilangan. AI dapat menulis pidato tentang empati, tetapi ia tidak pernah merasakan penderitaan. AI mampu menjelaskan kejujuran, tetapi ia tidak pernah berhadapan dengan dilema moral. Semua pengalaman itu tetap menjadi wilayah manusia. Karena itulah pendidikan karakter justru menjadi semakin penting di era AI.

Persoalan terbesar di era AI bukanlah apakah manusia akan kalah pintar dari mesin. Pertanyaan yang lebih penting Adalah bagian mana dari diri kita yang tidak boleh kita serahkan kepada mesin?

Kita boleh menyerahkan pekerjaan yang berulang kepada AI. Kita boleh memintanya merangkum dokumen, membantu mencari pola, memperbaiki bahasa, atau menawarkan berbagai kemungkinan. Teknologi memang diciptakan untuk memperluas kemampuan manusia. Namun ada hal-hal yang harus tetap menjadi milik kita, yaitu keberanian untuk bertanya, kesabaran untuk memahami, kemampuan meragukan informasi, kebijaksanaan mengambil keputusan, dan tanggung jawab atas pilihan yang kita buat.

Kita juga tidak boleh menyerahkan nurani. Sekolah dan perguruan tinggi karena itu tidak cukup hanya berlomba mengajarkan penggunaan AI. Pendidikan Indonesia membutuhkan gerakan literasi AI yang jauh lebih mendasar, yakni mengajarkan generasi muda menggunakan teknologi tanpa kehilangan kemandirian berpikir, identitas budaya, dan kompas moralnya. Barangkali inilah paradoks terbesar pendidikan pada zaman AI. Ketika mesin semakin mampu memberikan jawaban, tugas pendidikan justru semakin penting untuk mengajarkan manusia bertanya. Ketika mesin semakin pandai menulis, kita harus semakin serius mengajarkan manusia berpikir. Dan ketika AI semakin menyerupai manusia, pendidikan harus semakin kuat menjaga apa yang membuat kita tetap manusia.

AI boleh menjadi semakin cerdas. Tetapi berpikir, memilih, dan menentukan untuk apa kecerdasan itu digunakan tetap harus menjadi tanggung jawab kita.

Made Hery Santosa, Ph.D.

Pendidik dan Peneliti

Universitas Pendidikan Ganesha

Editor : I Putu Mardika
#Artificial Intelligence (AI) #ai #siswa #ruang kelas