Belajar Merawat Bumi Pertiwi dari Tradisi Ngeyehin Karang di Pedawa

I Putu Mardika • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 14:25 WIB
Ritual Ngeyehin Karang di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng (I Putu Mardika/Bali Express)
Ritual Ngeyehin Karang di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng (I Putu Mardika/Bali Express)

BALIEXPRESS.ID-Kampanye penyelamatan lingkungan memang tengah gencar dilakukan. Namun masyarakat adat (Indigenous Local) sebenarnya telah lebih dulu mengajarkan bagaimana manusia hidup berdampingan dengan alam. Mereka tidak mengenalnya sebagai green economy, climate action, atau sustainable development. Mereka menyebutnya sebagai tradisi.

Salah satu contohnya masih hidup hingga hari ini di Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng. Namanya Ngeyehin Karang. Desa ini merupakan salah satu desa Bali Aga di Bali Utara, setelah Julah, Sembiran (Kecamatan Tejakula) dan Desa Sidatapa, Cempaga, Tigawasa, Banyuseri (Kecamatan Banjar)

Sepintas, ritual ini tampak seperti upacara penyucian pekarangan rumah. Namun jika dicermati lebih dalam, Ngeyehin Karang sesungguhnya adalah cara masyarakat Bali Aga menjaga hubungan dengan bumi yang mereka pijak setiap hari. Tradisi ini bukan sekadar berbicara tentang dunia niskala, melainkan juga mengandung pengetahuan ekologis yang diwariskan turun-temurun.

Masyarakat Pedawa memiliki keyakinan yang menarik. Tanah tempat rumah berdiri bukan benda mati yang bebas diperlakukan sesuka hati. Tanah adalah Ibu Pertiwi yang setiap hari diinjak, digali, dibangun, bahkan dieksploitasi. Karena itu, sebelum meminta keselamatan bagi keluarga, mereka lebih dahulu "meneduhkan" bumi melalui ritual Ngeyehin Karang.

Pandangan seperti ini terasa sederhana, tetapi justru sangat relevan dengan kondisi dunia saat ini. Ketika banyak kawasan kehilangan mata air, hutan berubah menjadi permukiman, dan krisis iklim menjadi ancaman nyata, masyarakat Pedawa mengingatkan bahwa alam bukan hanya sumber ekonomi, tetapi juga bagian dari kehidupan yang harus dihormati.

Hal paling menarik dalam ritual ini adalah penggunaan sebelas sumber mata air. Air tidak diambil dari satu tempat, tetapi dikumpulkan dari berbagai titik alam, mulai dari pertemuan sungai, belahan aliran sungai, batu berongga, bambu, air yang keluar dari pohon, air kelapa kuning, hingga mata air alami lainnya. Seluruh air tersebut kemudian dipersatukan sebagai tirta untuk menyiram pekarangan rumah.

Bagi sebagian orang, mungkin ini hanya simbol. Namun dalam perspektif antropologi, simbol selalu menyimpan makna sosial yang jauh lebih besar.

Antropolog Fikret Berkes menyebut pengetahuan seperti ini sebagai Indigenous Knowledge atau Traditional Ecological Knowledge, yakni pengetahuan masyarakat adat yang lahir dari pengalaman hidup selama ratusan tahun berinteraksi dengan lingkungannya. Pengetahuan tersebut tidak disimpan dalam buku atau laboratorium, melainkan diwariskan melalui tradisi, praktik budaya, dan ritual.

Karena itulah, Ngeyehin Karang bukan sekadar ritual keagamaan. Ia adalah ruang belajar masyarakat tentang pentingnya air, tanah, tumbuhan, dan keseimbangan ekosistem.

Mengapa harus sebelas mata air? Dari sudut pandang ilmu pengetahuan modern, jumlah itu mungkin dianggap simbolik. Namun dalam perspektif budaya, penggunaan banyak sumber air mengandung pesan yang sangat kuat: kehidupan tidak pernah bergantung pada satu sumber alam saja. Alam adalah jaringan yang saling terhubung. Ketika satu mata air rusak, keseimbangan keseluruhan ikut terganggu.

Pemikiran ini sejalan dengan antropolog Darrell Posey, yang selama bertahun-tahun meneliti masyarakat adat di kawasan Amazon. Posey menolak anggapan bahwa masyarakat adat hanya bertindak berdasarkan mitos. Menurutnya, hampir setiap ritual masyarakat adat menyimpan logika ekologis yang telah teruji melalui pengalaman panjang lintas generasi.

Apa yang dilakukan masyarakat Pedawa menjadi contoh nyata.

Ketika warga diwajibkan mengambil air dari berbagai lokasi, sesungguhnya mereka sedang diingatkan untuk mengenali dan menjaga keberadaan seluruh sumber air tersebut. Ritual akhirnya berubah menjadi mekanisme konservasi. Tanpa disadari, budaya telah menjadi alat pendidikan lingkungan.

Hal yang sama terlihat dari seluruh perlengkapan upacara. Sebagian besar dibuat dari daun pisang, bambu, janur, daun sirih, buah-buahan, hingga berbagai unsur alami yang mudah kembali menyatu dengan tanah. Hampir tidak ada limbah yang mencemari lingkungan. Nilai keberlanjutan sudah dipraktikkan jauh sebelum istilah zero waste menjadi tren.

Yang tidak kalah menarik adalah filosofi nyomia, bukan mengusir.

Dalam Ngeyehin Karang, Bhuta Kala tidak dipandang sebagai musuh yang harus dimusnahkan. Yang dilakukan justru menyomia, yakni menyeimbangkan energi agar tercipta harmoni. Cara berpikir ini menunjukkan kedewasaan budaya masyarakat Bali Aga. Mereka tidak melihat alam sebagai sesuatu yang harus ditaklukkan, tetapi sebagai mitra kehidupan yang harus dihormati.

Pandangan seperti ini terasa semakin penting ketika manusia modern justru sering memosisikan dirinya sebagai penguasa alam. Hutan dibabat, sungai dicemari, dan mata air dikeringkan demi memenuhi kebutuhan ekonomi jangka pendek. Ironisnya, ketika bencana datang, kita baru berbicara tentang pentingnya konservasi.

Masyarakat Pedawa telah membuktikan bahwa konservasi tidak selalu dimulai dari seminar atau regulasi pemerintah. Ia dapat tumbuh dari ritual, dari keyakinan, bahkan dari penghormatan sederhana kepada setetes air.

Semangat itu kini diteruskan oleh Kayoman Pedawa. Komunitas ini tidak hanya mendokumentasikan tradisi Bali Aga, tetapi juga melakukan penanaman pohon, menjaga kawasan hutan, melestarikan rumah adat, permainan tradisional, hingga mendata peninggalan megalitik. Mereka memahami bahwa budaya tidak mungkin bertahan jika alam yang melahirkannya telah rusak.

Inilah pelajaran terbesar dari Ngeyehin Karang. Tradisi bukan sekadar peninggalan masa lalu yang dipertontonkan kepada wisatawan. Tradisi adalah cara sebuah masyarakat menyimpan pengetahuan tentang bagaimana manusia seharusnya hidup bersama alam.

Barangkali dunia modern memiliki teknologi yang jauh lebih canggih. Namun soal menjaga keseimbangan kehidupan, masyarakat adat Pedawa telah mengajarkannya sejak ratusan tahun lalu. Melalui sebelas mata air itu, mereka sebenarnya sedang mengingatkan kita bahwa bumi tidak membutuhkan manusia. Sebaliknya, manusialah yang tidak akan pernah bisa hidup tanpa bumi.

Oleh: Dr. I Putu Mardika, S.Pd., M.Si.
Dosen Antropologi Budaya Hindu, IAHN Mpu Kuturan

 

 

Editor : I Putu Mardika
Kampanye Penyelamatan Lingkungan Indigenous Local desa pedawa bali aga