JAKARTA, BALI EXPRESS - Sebuah tragedi memalukan terjadi di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta. Mahasiswa asal Klungkung, Bali, Putu SAR meninggal dunia diduga setelah dianiaya seniornya, Jumat (3/5).
Lalau, seperti apa sikap pihak kampus?
Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP), Ahmad Wahid dengan tegas mengklaim bahwa budaya kekerasan dan intimidasi senior terhadap junior di lingkungan kampus, yang merupakan bagian dari Kementerian Perhubungan, telah berhasil dihilangkan.
Ahmad Wahid, menegaskan bahwa tidak lagi ada praktik intimidasi di kampus tersebut.
"Kami telah berhasil menghapus budaya tersebut yang telah ada turun-temurun," ujarnya menanggapi kejadian tragis yang menimpa salah satu mahasiswa pada Jumat pagi lalu di Marunda, Jakarta.
Wahid menegaskan bahwa selama satu tahun kepengurusannya, tidak ada insiden yang mengindikasikan adanya praktik intimidasi di kampus tersebut.
Terkait insiden kematian mahasiswa tingkat satu, yang diidentifikasi dengan inisial Putu SAR, Wahid menyatakan bahwa kejadian tersebut berada di luar kendali pihak kampus dan terjadi di luar waktu belajar yang resmi.
"Budaya negatif tersebut sudah berhasil kami eliminasi, dan kami yakin ini adalah masalah 'person to person'," tambah Wahid.
Wahid juga menegaskan bahwa pihak kampus akan memberikan sanksi tegas kepada pelaku jika terbukti melakukan tindakan kekerasan.
"Kami tidak akan mentolerir tindakan semacam itu dan akan mengeluarkan sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku," katanya.
Meskipun insiden ini tidak terjadi dalam lingkup kegiatan akademik, STIP tetap bertanggung jawab terhadap kesejahteraan mahasiswanya.
"Kami tidak akan menghindar dari tanggung jawab kami terhadap keamanan dan kesejahteraan mahasiswa kami," tegas Wahid.
Insiden kekerasan antara senior dan junior bukanlah hal baru di STIP Marunda, Jakarta Utara.
Kasus serupa telah terjadi sebelumnya dan menimbulkan korban jiwa di antara mahasiswa tingkat pertama.
Polisi setempat juga telah mengonfirmasi bahwa sedang melakukan penyelidikan terkait kasus tersebut.
"Kami telah memeriksa sepuluh saksi dan sedang mengumpulkan bukti untuk mengungkap kebenaran di balik kematian mahasiswa STIP," kata Kapolres Metro Jakarta Utara, Kombes Pol Gidion Arif Setyawan. ***