Tragedi Kematian Mahasiswa Asal Bali di STIP: Ternyata Bukan Pertama, tapi Duka Berulang untuk Taruna Muda, Ini Daftarnya
I Dewa Gede Rastana• Sabtu, 4 Mei 2024 | 19:51 WIB
Putu Satria Ananta Rustika
JAKARTA, BALI EXPRESS - Kematian seorang taruna atau mahasiswa STIP (Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran) angkatan satu (2023) asal Klungkung, Bali, Putu Satria Ananta Rustika (19) pada Jumat (3/5) akibat dugaan penganiayaan seniornya kembali membuka luka lama tentang tragedi kekerasan yang kerap melanda kampus ini.
Putu Satria Ananta Rustika sendiri meninggal dunia setelah diduga dianiaya oleh seniornya di toilet lantai 2 gedung kampus pada Jumat (3/5).
Kasus ini berawal dari teguran TRS, salah satu senior, kepada para juniornya terkait pakaian yang digunakan korban dan rekan-rekannya.
"Siapa yang nyuruh pakai baju olahraga ke gedung pendidikan lantai 3," tanya TRS seperti ditirukan salah satu saksi.
Setelah ditegur, korban dan rekan-rekannya kemudian disuruh baris dengan korban di barisan pertama. Korban kemudian dipukul sebanyak 5 kali di bagian ulu hati oleh TRS hingga terkapar dan lemas.
"Setelah itu kami disuruh pergi meninggalkan kamar mandi, langsung mengikuti kegiatan," ungkap salah satu saksi.
Korban kemudian ditemukan oleh beberapa taruna tingkat 2 yang sedang merokok di dalam kamar mandi tempat kejadian perkara (TKP).
Korban yang mengalami luka serius kemudian dilarikan ke RS Polri untuk dilakukan otopsi.
Sementara itu, TRS dan beberapa saksi mata lainnya diamankan oleh pihak kepolisian untuk dimintai keterangan.
Polres Metro Jakarta Utara saat ini sedang menyelidiki dugaan kasus kematian mahasiswa STIP tersebut.
"Kami sedang melakukan penyelidikan, dan saat ini telah mengumpulkan keterangan dari 10 orang saksi untuk rekonstruksi kejadian," ujar Kapolres Metro Jakarta Utara, Kombes Pol Gidion Arif Setyawan di Jakarta, pada hari Jumat.
Korban diduga meninggal akibat kekerasan yang dilakukan oleh seniornya pada Jumat pagi sekitar pukul 08.00 WIB di kamar mandi kampus.
Setelah kejadian tersebut, korban dibawa ke klinik kesehatan di kampus namun dinyatakan telah meninggal dunia.
Jenazah korban kemudian dibawa dari kampus ke Rumah Sakit Tarumajaya di Bekasi dan saat ini telah berada di RS Polri untuk dilakukan visum et repertum.
"Kami juga sedang melakukan pemeriksaan forensik laboratorium terhadap jenazah korban. Seluruh data yang terkumpul akan dibandingkan dengan rekaman CCTV yang ada," katanya.
Meskipun secara kasat mata terdapat luka memar di tubuh korban, pihak kepolisian masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut.