BALIEXPRESS.ID-Kontroversi mewarnai panggung hiburan di Pendopo Kabupaten Pati usai aksi Trio Srigala yang dinilai tidak pantas ditampilkan dalam area pemerintahan.
Hal ini memicu sorotan luas dari masyarakat dan warganet.
Baca Juga: Viral! Warganet Persoalkan Kuota Internet Hangus saat Masa Aktif Habis: Sebut Diam-Diam Dirampok
Menurut informasi yang dihimpun dari unggahan akun Instagram @undercover.id pada Selasa, 17 Juni 2025, Bupati Pati Sudewo menyampaikan permohonan maaf atas insiden tersebut.
"Saya minta maaf atas aksi Trio Srigala di pendopo kabupaten beberapa hari yang lalu. Saya juga terkejut, karena atraksinya semacam itu. Memang itu tidak layak dilakukan di pendopo. Mungkin lebih pantas dilakukan di tempat lain, di luar area pemerintahan," kata Sudewo, dikutip Rabu, 18 Juni 2025.
Sudewo menegaskan bahwa dirinya telah langsung menegur pihak manajemen dan para artis seusai acara.
Ia juga mengapresiasi masyarakat yang telah memberikan kritik atas kejadian tersebut, serta berjanji akan melakukan evaluasi menyeluruh.
Baca Juga: Gunung Lewotobi Meletus, Pariwisata Bali Tetap Aman dan Berjalan Normal
Trio Srigala diketahui datang ke Pati sebagai bagian dari agenda promosi pariwisata daerah.
Mereka tampil bersama sejumlah artis lain, lalu menghibur para pejabat dan pengurus Koperasi Merah Putih dalam sebuah acara hiburan di dalam Pendopo Kabupaten Pati.
Namun, penampilan mereka yang dianggap tidak mencerminkan nilai etika dalam ruang formal justru menimbulkan kekecewaan publik.
Sejumlah warganet menyuarakan protes di kolom komentar unggahan tersebut.
“Mereka ga salah krn emang itu kebiasaan mereka, yg salah orang yg ngundangnya, udah tau acara formal malah ngundang yg begituan,” tulis akun @shaf_wandi.
“Dimanapun tempatnya, apapun zamannya perilaku seperti itu ‘tidak pantas’ dan tidak untuk ‘dinormalisasi’,” ketik akun @citrasernika.
Baca Juga: Respon Kilat! Polsek Denbar Telusuri Kasus Dugaan Pelecehan Usai Laporan via Call Center 110
“Sumber acara dari pajak rakyat. Uang rakyat digunakan untuk panggung hura-hura, mengundang penyanyi yg berlenggak-lenggok seperti kehilangan arah moral. Apakah ini wajah peradaban yang dibangun dari keringat rakyat? Di mana hati nurani para pemimpin?” ujar akun @alfianzhy.
“Gendeng, sebelum sampai minta maaf. Emang tidak di pertimbangkan dulu yaa?” tulis akun @ulfaanjarwati.
“Buat promosi daerah, minimal influencer traveling banyak yg kontennya mostly dia explore wisata bukan biduan pak. Supaya dikenalin dah tuh Pati punya pariwisata apa, bukan jojogetan duh,” komentar akun @wanduut.
Kasus ini menjadi pengingat pentingnya kesesuaian acara hiburan dengan konteks dan lokasi pelaksanaannya, terutama di ruang-ruang pemerintahan yang seharusnya mencerminkan keteladanan dan etika publik.
Editor : Wiwin Meliana