Bali Balinese Internasional Nasional Nusantara Wisata & Travel Sportainment Politik Kolom Kesehatan Hiburan Features Bisnis Advertorial

Ibu Asal SumSel Datangi Dedi Mulyadi, Anak Kecanduan Sabu Sejak SMP, Rumah Nyaris Disita

Putu Ayu Aprilia Aryani • Sabtu, 21 Juni 2025 | 17:33 WIB

Ibu dari Lubuk Linggau Datangi Dedi Mulyadi
Ibu dari Lubuk Linggau Datangi Dedi Mulyadi

BALIEXPRESS.ID-Kisah haru datang dari seorang ibu asal Lubuk Linggau, Sumatera Selatan, bernama Dian Nurhayati, yang menempuh perjalanan jauh untuk bertemu Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, demi menyelamatkan anaknya dari jerat narkoba dan menyelamatkan keluarganya dari kehancuran.

Pertemuan itu dibagikan melalui unggahan video di Channel YouTube Kang Dedi Mulyadi pada Jumat, 21 Juni 2025.

Baca Juga: Bahan Baku Nuklir Ditemukan di Kalimantan Barat, Pemerintah Siapkan Aturan Pengelolaan

“Ini ibu dalam rangka apa, jauh-jauh dari Lubuk Linggau ke sini?” tanya Dedi, dikutip Sabtu, 21 Juni 2025.

Dian menjelaskan bahwa anaknya, Raihan Alfarizi, telah dua kali menjalani rehabilitasi.

“Saya sudah dua kali merehabilitasi anak saya,” ungkap Dian di hadapan Dedi.

“Pertama di BNN, lalu di Rumah Asa Silampari. Tapi selalu kembali lagi,” tambahnya.

Saat ditanya oleh Dedi, Raihan sendiri mengakui bahwa dirinya menggunakan narkoba.

“Pakai narkoba,” jawab Raihan singkat.

Lebih lanjut, ia menyebut jenis narkoba yang digunakannya adalah sabu-sabu.

Baca Juga: Viral! Loket Obat Puskesmas Kosong Tengah Malam, Ternyata Ditinggal Ngopi ke Warung

“Oh nyampe di Lubuk Linggau sabu? Banyak? Dapat dari siapa?” tanya Dedi.

“Dari bandar,” jawab Raihan.

“Ada bandarnya? Namanya siapa?” tanya Dedi lagi.

“Gak tahu, Pak,” jawab Raihan.

“Gak tahu, tapi yang jelas jualan. Bandarnya belum ada yang nangkap ya,” ujar Dedi, yang kemudian dijawab belum oleh Raihan.

Kejutan lainnya terungkap saat Dedi mengetahui usia awal Raihan mulai menggunakan sabu.

“Hah? SMP sudah pakai sabu? Sekali beli berapa?” tanya Dedi.

“50, kadang 100 pernah,” jawab Raihan.

“50 ribu segimana sih?” tanya Dedi penasaran.

“Dikit, Pak,” jawab Raihan.

Raihan mengaku awalnya ditawari oleh teman dan tergiur karena katanya bisa menahan lapar saat puasa.

“Katanya, kalau pakai sabu waktu puasa, nggak lapar,” tutur Raihan.

Narkoba tak hanya menghancurkan masa depan Raihan, tetapi juga rumah tangganya. Ia menikah muda dan punya anak, namun pernikahannya kandas karena sang istri tak sanggup hidup bersama pecandu.

“Saya masih cinta sama istri, tapi dulu lebih pilih sabu,” ujarnya.

Sementara itu, Dian harus memikul beban berat sebagai single parent yang merawat tiga anak lainnya, sekaligus menghadapi tekanan dari Raihan yang sering memaksa meminta uang dan mengancam.

“Barang-barang rumah sudah dijual. Berat badan saya turun 7 kilo,” ungkap Dian dengan mata berkaca-kaca.

Ia bahkan pernah berpikir untuk mengakhiri hidupnya, namun mengurungkan niat itu demi anak-anak lainnya.

Baca Juga: Ipung Nilai Hasil Audiensi Tegaskan Kepemilikan Tanah: Siap Gugat, Jika SHM Tak Bisa Terbit

Kondisi ekonomi keluarganya sangat memprihatinkan. Rumah satu-satunya yang dibeli dari hasil kerja di Arab Saudi nyaris disita bank karena tunggakan. Dian pun terpaksa meminjam uang dari bank keliling (bank plecit) dengan bunga mencekik.

“Pinjam Rp1 juta, cuma terima Rp900 ribu, bayarnya Rp1.300.000,” jelasnya.

Lebih memilukan lagi, tanah yang pernah ia cicil senilai Rp22 juta tak lagi memiliki bukti kepemilikan karena kwitansi dibakar oleh anaknya sendiri.

Merasa tak sanggup lagi membina anaknya seorang diri, Dian datang ke Jawa Barat dengan harapan besar.

“Saya harap Bapak bisa bantu mendidik anak saya. Supaya akhlaknya berubah, supaya hidupnya lebih baik,” pintanya kepada Gubernur Dedi Mulyadi.

Ia juga menyampaikan harapan untuk mendapat bantuan keuangan guna menyelamatkan rumahnya dari penyitaan. Namun, fokus utamanya tetap agar anaknya bisa ditempatkan di tempat pembinaan atau rehabilitasi khusus.

Menanggapi permintaan tersebut, Kang Dedi Mulyadi menyatakan kesediaannya untuk membantu rehabilitasi Raihan.

Meski begitu, ia menegaskan tidak bisa menjanjikan bantuan lain di luar itu karena tanggung jawabnya sebagai gubernur terhadap rakyat Jawa Barat.

Ia tetap memberikan semangat dan nasihat kepada Dian dan Raihan agar tak menyerah.

Baca Juga: Kronologi Mobil Pikap Terguling di Denpasar Barat, Begini Kondisi Sopir dan Penumpang

Unggahan video tersebut pun mengundang berbagai reaksi dari warganet di kolom komentar.

"Duhhh klo setiap rakyat propinsi lain minta bantuan ke gubernur Jabar, gmna reaksi gubernur lain nya, itu bukan tanggung jawab gubernur Jabar," tulis akun @suhendarhendar7107.

"Saya sbgai orang Sumatra malu dn tersindir apalagi sbagai pejabat daerah yg lihat orang Sumatra mengadu ke Jawa Barat bkan ke pejabat daerah masing-masing," ketik akun @RezaAndrovo.

"Klo sudah begini pemerintah daerah masing-masing harus membuka layanan pembenahan anak muda. Mana bupati gubernur daerah lain., ayo bangkit gaskeun," tulis akun @kinoyab4953.

"Terbukti sekarang KDM bukan hanya Gubernur Jabar tapi sudah menjadi Gubernur seluruh warga Indonesia..." komentar akun @JabarkuSejahtera.

 

Editor : Wiwin Meliana
#narkoba #sumatera selatan #dedi mulyadi