BALIEXPRESS.ID — Reuni Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) yang digelar secara mendadak pada Sabtu (26/7/2025) terus menjadi sorotan.
Acara yang disebut-sebut melibatkan angkatan 1980—angkatan di mana mantan Presiden Joko Widodo tercatat sebagai mahasiswa—menuai beragam reaksi dari publik, termasuk dari Koordinator Relagama Bergerak, Bangun Sutoto.
Baca Juga: Ada Lampu Hijau! Pengungsi Kasus Kasepekang Sental Kangin Berpeluang Pulang Usai 17 Agustus
Bangun secara terbuka mempertanyakan kejanggalan di balik pelaksanaan reuni yang terkesan tertutup dan tidak transparan.
Ia menyebut bahwa acara tersebut terkesan disembunyikan dari civitas akademika UGM dan alumni lain.
“Reuni yang lucu di hari Sabtu. Reuni siapa itu? Reuni dadakan di Fakultas Kehutanan UGM oleh angkatan 1980,” ujarnya Senin (28/7/2025) dikutip dari fajar.co.id.
Bangun mengaku mengetahui kabar reuni tersebut dari media online menjelang siang hari. Ia merasa heran sekaligus geli dengan berita tersebut karena terkesan janggal.
“Bagi saya, kabar itu tidak lebih dari sekadar hiburan akhir pekan. Hiburan yang tidak lucu dan malah menggelikan,” tambahnya.
Baca Juga: BERBALIK! Dulu Dihujat Hingga di Blacklist, DJ Panda Kini Banjir Dukungan, Ternyata Gegara Ini
Tak hanya itu, Sutoto juga mengungkap adanya dugaan kehadiran alumni palsu dalam reuni tersebut.
Ia menuding bahwa informasi yang tidak sinkron dari sejumlah peserta yang diwawancarai media memperkuat dugaan rekayasa.
“Dari beberapa peserta reuni yang diwawancarai, ada yang jawabannya tidak nyambung dengan pertanyaan wartawan. Cerita yang disampaikan justru kontradiktif,” katanya.
Bangun bahkan mengaitkan reuni tersebut dengan dugaan ijazah palsu Presiden Joko Widodo, yang menurutnya semakin menjadi teka-teki publik.
“Kasus dugaan ijazah palsu ini seperti puzzle raksasa. Potongan ceritanya terserak di tiga kota: Surakarta, Yogyakarta, dan Jakarta. Dan kebetulan ketiganya punya akhiran ‘karta’. Tidak ada yang kebetulan,” ucapnya dengan nada satir.
Baca Juga: BENGIS! Ini Tampang Pelaku Pembunuh Bos Cengkeh di Desa Selat, Bekap Korban dengan Lap dan Bantal
Ia menambahkan, bahwa apa yang disebut “reuni dadakan” tersebut justru memperkuat persepsi publik akan narasi rekayasa yang sedang dibangun.
“Semua sudah disiapkan, meskipun publik tetap menilainya sebagai reuni dadakan. Reuni itu bagian dari narasi. Sebuah aksi untuk membentuk persepsi baru,” tandasnya.
Meski begitu, pihak panitia atau institusi resmi UGM hingga kini belum memberikan klarifikasi terbuka terkait polemik ini. Reuni yang seharusnya menjadi momen nostalgia, justru menimbulkan berbagai pertanyaan tajam dari publik dan warganet, terutama terkait legitimasi peserta dan motif di balik acara.
Editor : Wiwin Meliana