BALIEXPRESS.ID— PT Bio Farma (Persero) kembali menunjukkan kiprahnya di kancah global dengan menjadi co-host dalam ajang Developing Countries Vaccine Manufacturers Network Annual General Meeting (DCVMN AGM) 2025.
Pertemuan tahunan produsen vaksin negara berkembang ini menjadi momentum penting bagi Bio Farma untuk memperkuat jejaring, kolaborasi, dan kemandirian vaksin di tingkat global.
Baca Juga: Tes Urine Pegawai Damkar Buleleng, BNN Pastikan Lingkungan Kerja Bersih dari Narkoba
“Bio Farma saat ini menjadi co-host DCVMN AGM 2025. Sebagai salah satu pemasok vaksin global, produk kami telah digunakan di lebih dari 150 negara dan sudah mendapatkan pra-kualifikasi dari WHO. Artinya, kami telah memenuhi persyaratan global untuk mutu, keamanan, dan khasiat atau performa produk,” ujar Direktur Utama Bio Farma, Shadiq Akasya, dalam keterangan resminya.
Shadiq menambahkan, pertemuan ini menjadi ajang penting untuk memperkuat jejaring sekaligus mencari solusi pembiayaan agar negara berkembang tidak terus bergantung pada bantuan luar negeri.
“Kami memanfaatkan momentum ini untuk membangun inovasi dan kolaborasi pendanaan, mendorong kemandirian vaksin di masing-masing negara,” jelasnya.
Baca Juga: Sanur Village Festival 2025 Siap Digelar, Angkat Tema “Guna Dusun” untuk Harmoni Alam dan Manusia
Selain memperluas kolaborasi global, Bio Farma juga memamerkan berbagai capaian dalam program imunisasi dunia, termasuk keberhasilan vaksin polio yang digunakan UNICEF dalam program imunisasi global. Perusahaan ini juga menunjukkan kemampuan two-way technology transfer dengan berbagai negara mitra.
“Kami terus berupaya menciptakan produk yang lebih affordable dan berkualitas tinggi agar dapat dijangkau untuk kepentingan program pemerintah maupun komersial,” imbuh Shadiq.
Sementara itu, Board Chair DCVMN 2023–2025, Adriansjah Azhari, menegaskan bahwa AGM kali ini berfokus pada peningkatan kolaborasi riset dan kapasitas produksi antarnegara berkembang.
Baca Juga: BPKN Klarifikasi Isu Aqua, Sumber Air dan Produksi Dinilai Sesuai Standar
“Tujuannya adalah mencari solusi bersama untuk memperkuat kapasitas vaksin dan hasil penelitian. Negara berkembang memiliki potensi besar dalam kontribusi terhadap pasokan vaksin global, terutama di masa pandemi,” ujarnya.
CEO DCVMN, Rajinder Suri, juga menekankan pentingnya jaringan kerja sama ini dalam menghadapi tantangan kesehatan global di masa depan.
“Kami akan terus meningkatkan kemampuan dan bersiap mendukung organisasi seperti CEPI dan WHO untuk menghadapi tantangan kesehatan global yang akan datang,” ungkapnya.
Pertemuan tahunan DCVMN dikenal sebagai forum strategis untuk memperkuat posisi produsen vaksin dari negara berkembang di tingkat global. Forum ini juga menjadi wadah untuk memperkuat kolaborasi South-to-South dalam bidang kesehatan.
Melalui peran aktifnya, Indonesia lewat Bio Farma diharapkan terus menjadi penggerak utama kemandirian vaksin dunia, sejalan dengan visi membangun ekosistem kesehatan global yang tangguh, inklusif, dan berkeadilan.
Editor : Wiwin Meliana