BALI EXPRESS - Komang Astika (40), pelaku penikaman yang menyebabkan Ni Kadek Budi Astuti (NKA) meninggal, menyerahkan diri ke polisi pada Senin (23/4).
Pria berusia 40 tahun itu menyerahkan diri melalui perantara tokoh agama, Mangku Wenten.
Tim Polsek Sandubaya kemudian menjemputnya di kediaman Mangku Wenten dan membawanya ke Polresta Mataram.
"Awalnya melalui temannya, Wayan Suarjana, tersangka meminta untuk diantar ke kediaman tokoh masyarakat Mangku Wenten di Lingkungan Pamotan, Kelurahan Mayura," terang Kapolsek Sandubaya, Kompol Imam Maladi.
Komang Astika menyampaikan maksudnya untuk meminta pendampingan menyerahkan diri kepada polisi melalui temannya, Wayan Suarjana.
Mangku Wenten kemudian menghubungi pihak kepolisian.
"Pengakuannya, ia merasa bersalah atas apa yang sudah terjadi," kata Imam.
Sebelumnya, Komang Astika sempat berencana bunuh diri setelah melakukan perbuatannya, menikam mantan istrinya, NKA, hingga tewas di sebuah kamar kos di Cakranegara pada Sabtu (20/4).
Namun, temannya, Wayan Suarjana, berhasil menasihatinya agar tidak berpikiran pendek.
Mengingat ia masih memiliki dua anak yang butuh perhatian, akhirnya ia pun memilih menyerahkan diri ke polisi.
"Terkait dengan motif pelaku melakukan pembunuhan, lebih jelas akan disampaikan saat pemeriksaan dan penyidikan lebih lanjut di Polresta Mataram," ujar Imam.
Sementara itu, Kasatreskrim Polresta Mataram, Kompol I Made Yogi Purusa Utama, menyampaikan bahwa hasil interogasi awal pelaku nekat menganiaya mantan istrinya karena terbakar api cemburu.
"Ia cemburu karena mengetahui mantan istrinya memiliki pria lain," ungkap Yogi.
Perceraian keduanya diputuskan di pengadilan, namun Komang Astika diduga masih mencintai mantan istrinya.
Hal ini mendorongnya datang ke kos korban dan terlibat cekcok sebelum aksi penikaman terjadi.
Komang Astika mengaku sangat menyesali perbuatannya. Ia bahkan sempat menangis, menyesali perbuatannya, dan merasa kasihan dengan kedua anaknya.
"Saya tidak pernah merencanakannya. Kejadiannya terjadi begitu saja," ucap dia menyesali perbuatannya.
Setelah aksi penikaman tersebut, ia mengaku tidak tenang. Ia tidak berani pulang ke rumahnya, bahkan tidak pernah bisa tidur.
Ia pindah dari satu lokasi ke lokasi yang lain, agar tidak ditemukan polisi.
Kadang ia tidur di toko yang kosong hingga tidur di pinggir pantai sebelum memutuskan menyerahkan diri.
"Pelaku menyesali perbuatannya. Ia nekat menikam istrinya karena tersulut emosi dan cemburu," jelas mantan Kasatlantas Polresta Mataram tersebut.
Informasi yang dihimpun pihak kepolisian, pelaku sudah beberapa kali mengajak korban rujuk, namun ditolak. ***